Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Selamat Ulang Tahun Pengantin


__ADS_3

Seusai mengajarinya, Elia membereskan bukunya. lalu dia membalikkan badan dan mengambil sesuatu di balik sweaternya. aku mengernyit kan dahi, kini tibalah saatnya ia mengeluarkan sesuatu itu.


"Sudah jadi?" Kataku sambil tersenyum simpul.


dua pasang sarung tangan rajut yang dibuat kemarin telah menjuntai dari jemari tangannya.


"Boleh ku coba?"


"Tentu saja."


"Terima kasih. kamu memberi dunia Baru untukku, ini sangat berharga karena dibuat langsung oleh tanganmu!"


segera ku ambil sarung tangan itu dari tangannya, lalu ku kenakan. sarung tangan berwarna merah, kesukaanku. dia membuat ini dengan sangat terampil, layaknya perajut profesional.


ku puji-puji terus sarung tangan yang di berikan nya. karena aku memang sangat terkesima dan tersentuh. dia mengajakku masuk karna hari mulai gelap.


kami makan malam bersama, kemudian pindah ke ruang tengah untuk menonton acara televisi. kami duduk berdua sambil berbincang-bincang, agaknya aku mulai kelelahan berulang kali kepalaku nyaris jatuh dalam topangan salah satu telapak tanganku. namun, ada satu hal yang membuatku terkejut, ketika Elia menarik tubuhku, lalu di telungkulkannya wajahku di pahanya.


wajahnya yang seputih sayur lobak dan secerah sakura saat mekar, begitu dekat dengan wajahku. ia masih mengelus kepalaku lembut. beberapa helai rambutnya menyentuh pipiku, sedangkan matanya melirik mataku, seperti tengah memberi isyarat bahwa dia akan terus di sampingku, mendampingiku sampai malam berakhir.


sayang, malam begitu panjang dan kelabu, sementara ilusi terus menggerayangi kepalaku. ku sentak tanganku, dan ku dorong wajahnya dari sisiku, tapi dia tetap berada di sana, bertahan sekuat tenaga. ketika ku dengar bunyi jam, baru aku sadar, aku tinggal sendirian di ruang tengah. sudah tak ada lagi Elia tempatku berpangku. aku berbaring sendirian di karpet lantai depan televisi dan sudah ada selimut tebal yang menutupi tubuhku.


dia menyukai beranda rumah ini yang teduh, juga pekarangan di mana pohon ketapang yang lebat dan hijau berdiri kokoh. terutama di waktu sore, dia senang sekali duduk di sana untuk membaca buku, bersenandung sambil minum teh berdua denganku, atau menyiram bunga-bunga di sana. dalam setiap kerjanya selalu tak ketinggalan latihan-latihan soal yang pernah ku berikan, membuat wajahnya cepat pucat dan letih karena seharian memaksa otaknya untuk berpikir.

__ADS_1


Dan yang paling ku sukai adalah bila dia memintaku mengajarkannya bagian yang sulit atau memeriksa jawaban-jawaban dari latihan soalnya.


aku bangkit dari tempat awalku bangun, baru saja hendak mencarinya. sudah terdengar senandung kecil yang lirik lagunya sudah tak asing di telingaku.


Suaramu di kota di warnai oranye


Aku benar-benar bosan dan kesepian tanpamu


Jika aku mengatakan aku kesepian, kamu pasti akan menertawakan ku


Aku akan memeriksanya lagi dan lagi, apa yang tersisa.


Bersinar tanpa memudar, Seperti langit setelah hujan.


Aku yakin kita berdua akan tetap menjadi anak-anak yang lugu seperti dulu


Melihat setiap hari esok saat kita melewati musim yang berubah.


"Elia?!" kataku pelan.


dia duduk sendirian di depan beranda tempat kami menikmati hari, hari ini. ku hampiri segera karena dia hanya memakai kaus dan celana sebatas lutut untuk udara malam begini.


"Kenapa malah pakai baju tipis di cuaca dingin begini?!"

__ADS_1


lantas ku peluk dia dari belakang sambil memakaikan selimut yang tadi menempel di badanku.


"Terima kasih banyak." jawabnya, tak tinggal dengan senyuman khasnya. "Aku sedang memikirkan sesuatu."


"Soal apa?"


"Sebenarnya, hari ini aku telah genap bertambah usia." katanya lembut sambil menundukkan kepala.


Aku masih sedikit terkejut setelah mendengar sesuatu yang baru ku ketahui ini. dia sedang berulang tahun hari ini, dan aku suaminya bahkan tak tahu apapun. malah, dia yang memberikan aku kejutan.


"Kenapa tidak cerita? aku sungguh tak tahu. padahal sebagai suami, seharusnya aku sudah menyiapkan sesuatu untuk hari spesial mu."


Dia langsung menatapku, dengan tatapan sendu, "Aku tidak apa-apa kan kalau terus menjadi istri pak Damian?"


"kalau kamu bicara begitu, membuatku jadi semakin bersalah. di saat begini, aku tak mampu memberikan hadiah apapun untuk mu. malah, jatuh miskin begini, jadi pria yang tidak berguna. maaf, karena sampai hari ini aku masih belum bisa membahagiakanmu... "


"Aku selalu bahagia setiap hari, menerima kebaikan hati pak Damian. selain itu, aku juga sangat bahagia melihat makanan yang ku buat di makan begitu lahapnya, aku juga bahagia bisa menemani pak Damian tidur di pangkuanku. selama pernikahan kita, aku tak pernah mengalami kesulitan sama sekali. justru sebaliknya, aku begitu bahagia bisa hidup di samping pak Damian. setiap hari pula. karena itu aku ingin bersama pak Damian..."


dia menyandarkan kepalanya di dadaku, membuat hati ku bergetar, bukan hanya karena sentuhannya, tetapi juga oleh kata-kata tulus nya yang murni.


"Kalau pak Damian sendiri, bagaimana?"


Tentu saja, tanpa perlu ku jawab semua orang pasti tahu. ku ambil bahunya, dan ku dekati wajahnya. dia menatapku keheranan, sedangkan aku tenggelam dalam pesonanya yang mematikan. kedua kalinya, ku cium lagi bibir lembutnya yang jelita.

__ADS_1


itu adalah hadiah ulang tahun sederhana, yang penuh cinta....


__ADS_2