
Sudah empat jam berlalu sejak ancaman Amanda melayang, sejujurnya aku merasa sangat tertekan. Jika aku tidak menuruti kehendaknya dan foto itu tersebar maka berakhir sudah semua ini. tetapi, yang lebih aku takutkan adalah nasib Elia, dia masih harus melanjutkan pendidikannya hanya tinggal enam bulan saja, sayang sekali jika harus berakhir di masa-masa akhir begini. Semua usahanya selama ini akan sia-sia saja kalau rahasia ini terbongkar.
Kemudian Ketika jam istirahat datang, aku memilih membaca buku di taman, setidaknya isi kepala ku bisa lebih upgrade dan fresh karena bau daun dan tanah yang masih basah karena hujan serta morfologi pohon yang memuaskan. Memang tak ada obat yang lebih baik untuk ketenangan selain karunia ciptaan tuhan yang tak akan pernah bisa dibuat oleh manusia.
Tetapi, keharmonisasian alam yang ku idamkan ini terganggu setelah perempuan yang membahayakan masa depan Elia datang. Tidak kusangka dia benar bersungguh-sungguh dengan ucapannya tadi pagi. Dia datang membawa dua cangkir kopi dan langsung duduk di samping ku.
“Nilai bahasa asing semua anak-anak tahun kedua sepertinya selalu aman ya, pak Damian? Ah, aku kelelahan sekali karena harus memberikan kelas tambahan untuk anak-anak di kelas matematika.” Katanya seraya menyodorkan salah satu gelas kopi kepadaku.
“Aku tidak minum kopi, maaf.”
“Oh, serius? Maaf aku benar-benar tidak tahu.”
Ada sedikit rasa Empatik, ketika dia menarik kembali tangannya dengan mimik muka penuh kecewa dan malu. seandainya ia masih berpikir maka sangat menyakitkan untuknya, bahkan segelas kopi darinya pun enggan ku terima, apalagi perasaan. Aku tidak bisa masuk ke dalam obrolannya, seberapa keras pun aku berjuang untuk mengenal dan menerimanya, tetap saja hatiku menolak.
“Meluluhkan hati seorang yang dingin sepertimu memang sesulit ini, ya?” katanya dengan suara pelan.
Tetapi, Tidak lama ekspresi penuh kecewa itu langsung berubah sumringah dan dia memukul pundak ku seakan kami memiliki hubungan seakrab itu. “Tapi, aku sungguh tidak sangka lo orang pendiam dan cuek seperti kamu bisa jadi guru! Ha ha ha... seperti takdir saja, ya?”
“Takdir apa?”
“Pertemuan dan kebahagiaan.”
Amanda membuatku risih dengan sentuhannya yang membabi buta, hinngga ketika Ku lihat sekeliling, ada beberapa siswa mengintip dari jendela. Ada pula yang memandangi kami dari koridor sekolah. Sayup-sayup ku dengar bisikan mereka yang berpikir macam-macam tentang aku dan dia. Sekarang aku menyadari, Amanda melakukan ini dengan sengaja agar terlihat oleh para siswa. Berusaha membuat opini publik itu sangat memuakkan, Aku sangat membenci perempuan yang berpikir licik sepertinya.
Lantas ku singkirkan tubuhku di dekatnya, sehingga sandaran tangannya di bahuku langsung lepas. “Maaf, aku harus kembali ke meja kantor. Sebentar lagi jam pelajaran ku di mulai.”
__ADS_1
“Pak Damian!”
Dia memekik seraya menarik sedikit lengan kemeja yang ku kenakan sehingga membuat langkahku terhenti setelah bangkit dari kursi.
“Kamu tidak lupa dengan kesepakatan kita tadi pagi kan? Saat aku datang, kamu jangan menghindar. Beri aku kesempatan dan ruang agar kita bisa akrab, Damian. Tidak kah kamu berpikir, kalau aku bisa meluluhkan hatimu, kau akan jauh dari hubungan terlarang dengan siswi di sekolah kan? jika denganku, Tidak akan ada yang mencerca hubungan kita, kamu dengar kan barusan? Semua siswa senang melihat kita bersama dan akrab?”
“Maaf, aku tidak mengingkari. sebelumnya kamu mengatakan; jika aku harus memberimu kesempatan walau hanya saat jam istrirahat. Sekarang waktu istirahat akan berakhir, dan aku harus segera kembali untuk mengajar.”
Dia terdiam dan perlahan melepaskan pegangan tangannya di kemejaku, “Baik, aku mengerti. Aku juga akan secepatnya menyelesaikan kelas tambahan dengan para siswa, masih ada waktu empat hari sebelum hari minggu tiba, aku akan mengabarkan tempat kencan kita segera kepadamu.”
Mengapa aku jadi sepasrah ini? ternyata ada masalah yang lebih rumit di banding permintaan ayah untuk menikah lagi. Kali ini, aku tidak bisa lagi menghindar seperti biasanya. Aku terpaksa melakukan semua kehendak Amanda demi masa depan Elia. Hanya enam bulan lagi kan, El? Aku akan berjuang juga untukmu, Semoga kita berdua bisa kuat sampai masa itu tiba. Maaf kan aku jika pilihan ini dapat menyakitimu, El.
...****************...
Hari ini adalah pertama kali ku cumbu istriku, Elia. Tetapi malah menimbulkan ribuan masalah yang kian panjang. Tanpa kami sadari ada orang lain yang melihat bahkan mengabadikan lewat foto. Semua pengetahuannya itu, di jadikan alat untuk menekan ku.
Hingga kemudian bel pulang sekolah berbunyi, aku bisa sedikit bernafas, akhirnya hari ini aku bisa lepas dari penjara Amanda yang membelenggu ku. Dan Sekarang aku jadi semakin malas pergi ke sekolah, karena tiap jam istirahat aku harus menyempatkan waktu untuk mwngobrol dengan Amanda, rekan kerja yang menaruh rasa. Memperjuangkan cinta dengan cara yang salah. Elia maafkan lah aku, yang tak mampu berbuat apapun selain menerima kehendak Amanda hanya untuk melindungi kamu.
Saat hendak pergi ke perpustakaan lama, ku pandangi langit. Hujan lagi...bahkan lebih deras dari tadi pagi, langit jadi gelap sekali seperti hidupku hari ini. aku berjalan pelan menyusuri koridor di gedung dua sekolah. Tetapi di depan pandangan ku sekarang berdiri istri rahasiaku, Elia. Tetapi tidak sendirian, ada siswa lain bersamanya. Mereka terlihat sangat akrab, Apa yang mereka obrolkan?
Ada yang mengganjal di hatiku, seakan aku tak rela melihat tawa Elia bersama pria lain, bahkan mengobrol bersama di depan aula basket.
“Apa yang kalian lakukan di sini? Sudah jam pulang sekolah, jadi pulanglah!”
Ku tatap mereka dengan tatapan dingin, rasanya seperti tersayat, aku memang tak rela. Ku akui saja. bola mataku naik turun memperhatikan siswa berandalan ini. dia memang cukup keren untuk ukuran anak SMA, belum lagi gayanya terlihat sangat modis dengan pakaian olahraga club basket. Pikiranku jadi liar, apakah mereka punya hubungan lebih dari sekedar kenal?
__ADS_1
Kacau, beban masalahku kembali bertambah. Belum selesai menghadapi Amanda, sekarang sepertinya sudah ada lagi kerikil kecil yang mengganggu, di perhatikan dari caranya menatap Elia, ada sekelebat perasaan untuk istriku ini.
“Ah, Pak Damian. Ma-maaf pak, tadi tidak sengaja bertemu Elia sedang bawa buku catatan siswa kelasnya. Karena kelihatan dia cukup kesulitan jadi aku bantu saja. tapi dia baik sekali mengantarku kembali ke aula lapangan.”
Betapa menjijikkan jika ku perhatikan ekspresi bocah ini sekarang, dia bicara padaku tapi wajahnya sumringah menatap Elia di sampingnya. Tapi, apakah mungkin ini balasan semesta karena aku secara tidak langsung mengkhianati Elia dengan menuruti kehendak Amanda? Elia anak yang baik, wajar jika semesta langsung membalaskannya kepadaku.
“Ya. Elia memang anak yang baik.” Kataku dingin, kemudian berlalu meninggalkan mereka.
Dari kejauhan ku dengar suara Elia mengejar sambil memanggil namaku, tetapi tidak ku idahkan aku terus melangkah ke depan sampai ke perpus lama, tujuan awalku.
“Pak Damian!”
“Pak Damian, tunggu sebentar.”
Hap
Segera ku raih tangannya, ketika kami sampai di perpustakaan lama, tubuhnya terhempas masuk ke dalam secara tiba-tiba. Lalu ku pastikan kembali dari luar tak ada orang lain lagi yang melihat.
“Bisa diam tidak? Kalau di dengar orang lain bisa gawat!”
“Ma-maaf.”
“Tunggu sebentar lagi, sampai sekolah lumayan sepi baru pulang.” Timpal ku kembali.
“Pak Damian, apa terjadi sesuatu? Soal tadi Tolong jangan berpikir macam-macam sntara aku dan Zack. Kami baru bertegur sapa barusan, aku pun baru mengenalnya karen dia dan aku berbeda kelas.”
__ADS_1
Tidak memikirkannya pun, otakku sudah jadi macam-macam saat melihat mereka. Baru bertegur sapa, tetapi sudah bisa saling membantu. Baru mengenal, tetapi sudah bisa seakrab itu. Ternyata benar, percintaan antara guru dan siswi itu tidak di perkenankan, dan pernikahan antara siswi dan guru tidak akan mudah. Oh, tambah lagi. Usia yang jauh berbeda juga bisa di hitung kan?