
Aku terbangun ketika pagi menyingsing, matahari sudah naik, sinarnya terang masuk ke dalam mataku.
“Selamat Pagi, pak Damian.”
“Oh!”
Aku langsung bangkit karena terkejut, aku bahkan lupa bahwa semalam kami tidur bersama. dia adalah sosok pertama yang ku lihat ketika mataku kembali terbuka, senyumnya ini akan selalu ku ingat, sebab ia sama hangatnya dengan si raja surya.
“Tidurnya nyenyak sekali! Aku sudah buatkan sarapan, semoga sesuai dengan selera pak Damian, ya?”
Aku bangun dengan perasaan malas, rasanya masih ingin kembali bersatu dengan kasur. Baru kali ini akhirnya aku mampu mengingat lagi bagaimana rasanya tidur pulas. Kini aku mengalihkan pandanganku pada Elia, siswi yang kini menjadi pengantinku. Dia sudah rapi mengenakan seragam sekolah, di pembatas pipinya yang menyala kemerahan, rambutnya yang tipis sudah terikat setengah.
“Aku memasak sup, sebagai sambutan hari pertama berakhirnya musim salju. Maaf, aku langsung bawakan ke kamar, karna pak Damian dari tadi ku bangunkan masih sangat pulas.”
“Mau coba sekarang?” katanya kembali, kemudian memberikan mangkuk yang di letakkannya di nampan atas meja.
Aku hanya bisa menerima pemberiannya, sebab aku menyadari menjadi dirinya pun tak mudah. Kita bernasib sama, hanya cara menanggapinya berbeda. Dia orang yang memiliki energi besar, mungkin karena lingkungannya yang hangat sehingga dia tetap bisa tersenyum dan membuka hati ketika masalah datang padanya. Sedangkan aku, jiwaku sudah beku. Dari kecil aku memang tak memiliki kasih sayang, jadi untuk sekarang pun aku tak pernah mengharapkannya.
“Rasanya enak?”
Ah, aku tersadar dari lamunan ketika suaranya terdengar. Aku langsung mendengus, karena kenikmatanku jadi terganggu. Kalau ku ingat-ingat lagi, perhatian yang kudapatkan sekarang memang lebih tulus dari pelayan. Benar, mungkin karena ikatannya berbeda. Mereka pembantu sedangkan Elia, istri. Benarkah yang dia katakan bahwa Dia ingin mencintaiku?
Lalu sambil membuang muka aku menjawab, “A-aku mau tambah.”
“Oh, Baik. Aku ambilkan ke dapur dulu ya, pak!”
Dia berlalu sambil membawa mangkok sup milikku.
__ADS_1
Aku ini memang orang pesimis yang membenci semua hal yang ada di hidupku, termasuk keluarga, bahkan mungkin juga Istriku sendiri. Tidak ada pengecualian. Apalagi kalau harus mencintai Elia. memangnya bisa?
Kemudian setelah selesai bersiap dan juga sarapan, kami berangkat ke sekolah. Tetapi meskipun kami tinggal serumah dan tujuan kami pun sama. Kami pergi terpisah, aku pergi lebih dulu dengan mobilku dan dia menyusul dengan bus. Bukan karena aku tega, tetapi akan repot jika para siswa dan guru melihat kami berangkat bersama. Bisa timbul salah paham.
Hari ini akan terasa lebih panjang, terutama saat di sekolah. Elia yang harus menemui ibu Aria untuk membatalkan niatnya berhenti dan juga mengenai pengumuman nilai ujian tengah semester kemarin. Tentunya aku akan menghadapi pula para murid yang ingin meminta kelas tambahan. Malas sekali, karena itu aku membesarkan seluruh nilai siswa di mata pelajaran ku.
“Wah, Elia benar-benar.”
“Nilainya anjlok sekali kali ini.”
“Mungkin waktu belajar dan pikirannya terganggu karena masalah di keluarganya kemarin. Tapi setidaknya syukur dia tidak melanjutkan niatnya untuk berhenti sekolah.”
Elia itu memang bukan siswi yang pintar tetapi dia juga bukan yang bodoh-bodoh sekali, dia masih mendapat peringkat meskipun sepuluh terbawah. Aku memang tidak begitu mengenal Elia, karena aku mengajar siswa tahun kedua. Tetapi aku sudah mendapatkan informasi nilai Elia dari ibu Aria, wali kelasnya.
Saat jam istirahat, aku berjalan menuju mading pengumuman, di sana sudah banyak siswa siswi yang berkumpul memperhatikan nilai masing-masing, top score dan bottom score. Tak terkecuali Elia, dia mematung. Tentu saja aku memahami bahwa nilainya terjun lebih bebas dari tahun sebelumnya.
“Kamu terlihat murung, ya Elia?”
Aku berbicara lebih dulu setelah membawanya pergi dari kerumunan para siswa. Dia mengangkat wajahnya menatapku, hingga kemudian kedua pasang mata kami bertemu.
“Menyedihkan sekali, aku tak tahu kalau kamu ternyata adalah siswi yang tidak pintar. Kita perlu bicara, sepulang sekolah nanti temui aku di perpus lama. Jangan katakan pada siapapun, temui aku diam-diam.” Timpal ku kembali.
Dia mengerutkan bibirnya sambil mendengus, “Baik, pak.”
Setelah itu aku bergegas pergi meninggalkannya sebelum ada orang lain yang melihat.
...****************...
__ADS_1
Sambil menunggu waktu pulang, aku menikmati nikmat tembakau dari sebatang rokok yang ku hisap, memandangi suasana alam dari atap sekolah memang tidak lah buruk daripada aku harus duduk di ruang guru sampai jam sekolah habis. Aku malas mengobrol dan yang pasti lebih aku hindari adalah siswa yang beramai-ramai masuk menemui guru-guru untuk mendapatkan pelajaran tambahan.
Beberapa kali aku melihat arloji, hanya untuk memastikan kapan pukul 14.00 tiba. Sambil melamun aku memikirkan, mengapa aku mau menunggu Elia di sini sampai berjam-jam hanya untuk mengatakan niat ku untuk membantunya. Aku sengaja membesarkan nilai para siswa untuk menghindari memberi pelajaran tambahan untuk mereka, tetapi mengapa aku mengecualikan Elia? Seakan aku ingin memperhatikan dia lebih baik. Apa yang salah dariku?
Tetapi ada yang lebih bodoh lagi, mengapa aku tak ke ruang guru dulu untuk mengambil tas dan bisa bebas menunggu di sini seharian. Jadi Terpaksa aku menunggu saja dulu, kalau semua sudah pulang baru aku akan mengambil tas.
Berdiri duduk, berdiri duduk. Tidak sadar aku malah di serang kantuk dan tertidur, Sudah 3 batang rokok habis ku hisap, bosan sekali. Akhirya aku terbangun setelah bunyi bel begitu nyaring masuk ke telingaku. Ku lihat arloji, sudah pukul 13.58.
Aku segera bergegas mengambil jas ku dan pergi menuju perpustakaan lama. Karena jaraknya yang cukup jauh dari rooftop sekolah, Aku terengah-engah saat sampai. rupanya Elia datang tak lama setelah aku duduk di sofa yang penuh dengan buku-buku lama. Secepatnya aku mengatur nafas, jangan sampai Elia melihatku dalam wujud acak-acakan begini.
“Permisi pak.” Katanya.
“Tutup pintunya!”
Dia menuruti perintahku menutup pintu rapat-rapat.
“Apa yang ingin pak Damian bicarakan padaku?”
“Setelah pulang sekolah, di rumah tidak perlu masak untuk makan siang. karena Aku akan memberikan kamu kelas tambahan, setiap hari. nilai mu sangat buruk. Aku suami mu Secara tidak langsung Merasa sedikit malu.”
“Pelajaran tambahan ini perlu, karena di angkatanmu, kau satu-satunya siswi dengan nilai paling rendah di ujian tengah semester. Aku sedikit terkejut melihat anak ajaib seperti mu ternyata bisa murung karena nilai. Kalau orang tuamu tau, mereka akan mengatai ku sebagai suami dan juga gurumu. memangnya Ada apa sih denganmu? Apa kau melakukan ini dengan sengaja untuk mendapat perhatian dariku?”
Ku perhatikan Elia, dia meremas rok sekolahnya “Tidak pak, tidak sama sekali. Aku memang tidak pintar, bahkan sebelum mengenal bapak. Jadi tidak mungkin berpikiran begitu.”
Kalau di pikir-pikir yang di katakannya masuk akal. Ujian tengah semesternya di mulai sebelum dia datang padaku dan menjadi pengantinku. ternyata aku salah, Bukan dia yang mencari perhatian, tetapi sepertinya aku yang mencuri-curi kesempatan.
...****************...
__ADS_1
📌 kelas tambahan, cuma kelas tambahan.