
...Aku harus jujur pada Elia. ...
...****************...
Malam itu, hujan turun sepanjangan. tak ada bintang dan langit sangat kelam. hembusan angin memukul pepohonan yang penuh embun membuat aroma hujan yang telah reda tetap bertahan sepanjang malam, seakan alam masih ingin menyegarkan diri lewat udara yang dingin dan basah.
"Pagi Damian! sudah bangun belum?"
Suara bising dari luar membangunkan ku secara paksa. aku bangun dengan perasaan malas.
"Hah?"
ku hempas-hempas pelan kepala, mencoba sadar secepatnya. ibarat kata orang; memanggil kembali nyawa ke dalam raga seutuhnya.
"Sebentar... "
Elia memekik dari luar kamar, menyambut suara seseorang di bawah.
Berbarangan dengan itu, barulah jiwaku terkumpul dengan baik, sampai akhirnya aku menyadari sesuatu. "Suara itu... Gawat!!!"
aku turun dari kasur dan segera pergi, menuju pintu depan. dan tentu saja, Elia sudah lebih dulu di pintu, dia membukakan nya, ada Vania di muka pintu. apalagi yang mau di lakukan perempuan ini?!
"Halo Damian!" dia melambai-lambaikan tangan padaku. tak lupa dengan senyumannya yang merekah, laksana bunga yang baru mekar di taman.
"Aku boleh masuk, ya? semalam kamu mengusir ku, aku kecewa sekali!" katanya, saat aku sampai di depan. sedangkan Elia yang kini berada di sampingku hanya tersenyum ramah seperti biasanya.
Vania kami arahkan duduk di sofa ruang tamu, aku duduk di seberangnya. "Oh, iya kado dari ku kemarin bagaimana? kamu sudah lihat? bagus tidak? aku membuatnya sendiri, sialnya orang tua mu memberitahu soal ulang tahun ini dalam waktu yang begitu dekat. untung aku sudah terbiasa waktu di luar negeri dulu, aku sudah cocok kan jadi Seniman ahli?! kamu suka tidak?"
Elia sudah pergi ke dapur, tak lama juga ia kembali membawakan minuman, sepertinya teh hangat. "Silahkan di minum." katanya lembut.
"Oh, Terima kasih." Vania begitu hangat, persis seperti Elia. mereka saling melempar senyum. "Kamu lucu sekali, berapa usia mu? sudah lama bekerja di sini?"
"Tidak sopan bicara seperti itu! Elia itu... bukan pekerja di rumah ini! dia adalah istriku!" sergahku hampir tersedak.
memang bukan sekali, dua kali Elia di sangka pekerja. mungkin karena dandanan Elia yang begitu sederhana dan pembawaannya yang begitu sopan. tapi oh astaga, di seberang sana Vania jadi membisu seketika setelah aku menepis sangkaan nya.
"Eh? istri?" katanya melotot, dia lantas memutar arah dan menghampiri ku di depannya. "Kamu bercanda kan? Kalian adalah pasangan? Suami istri?"
__ADS_1
"Jahat!! kamu jahat!! Kamu sudah menikah tapi masih mau di jodohkan dengan ku!" Tiba-tiba saja dia terisak, sambil memukul-mukul dadaku kuat. "Padahal Orang tua kita sudah merencanakan pertunangan. padahal aku sudah jatuh cinta dengan mu! jahat!! kamu memainkan hati seorang gadis!!!"
"Hei!! kamu bicara apa?!" timpal ku. sambil berusaha menahan pukulan tangannya.
"Jangan berpura-pura begitu! kamu tidak ingat keluarga sudah merencanakan ini sampai mengadakan makan malam bersama untuk kita," dia diam sebentar, karena terisak.
"Itu hanya makan malam bisnis.."
"Saat itu, Kamu terpesona ketika pertama kali melihatku, ya kan?"
"Aku tidak terpesona!!"
"Semalam kamu baru menerima hadiah ulang tahun dariku, yang ku buat penuh cinta dari hatiku yang terdalam. aku mengukir nya semalaman Dan sekarang kamu tertangkap sudah menikah! kamu jahat!! kamu tamak sekali mau memiliki semua gadis! di depan ku, kamu bertingkah seakan seorang pria yang dingin dan kaku sampai membuatku tertarik. ternyata itu adalah trik mu untuk merayu. padahal aku sudah sesabar ini untuk meyakinkan dan mendapatkan hatimu sebelum pernikahan kita di adakan. kamu jahat!!!"
"Hentikan!! kamu berlebihan, dari tadi bicara bohong terus!"
aku menatapnya, dengan tatapan tajam. dan kali ini tidak lebih santai dari sebelumnya. sementara Elia di sana memandang kebingungan, mungkin sudah banyak pertanyaan yang menggunung dalam benaknya sekarang. siapa gadis ini? perjodohan apa? seperti itulah, dan aku pun memiliki pertanyaan yang sama.
tetapi, Vania terus memukuli ku, dia terisak menjadi-jadi. dan aku merasa mulai terancam. namun, sebersit empati ku padanya membuatku tak mampu untuk mendorong dan mengusirnya begitu saja.
"Aku tidak berbohong apa pun! apa yang ku sembunyikan? Aku sudah menikah, dan Elia adalah istriku. tidak ada gadis lain di antara kami!"
di tengah perdebatan kami, Elia memekik; "Cukup!"
"Elia, jangan dengarkan. semua yang di katakan gadis berandalan ini adalah kebohongan! aku tak tahu apa pun tentang perjodohan atau tentang makan malam. aku tidak memainkan gadis mana pun. kamu jangan percaya!"
segera ku tepis tangan Vania, dan segera menghampiri Elia di sana. aku tahu mungkin di dalam pikirannya sudah banyak bayangan kecil yang negatif tentang aku dan wanita lain.
"Aku tidak tahu apa pun! Perjodohan, pesona, atau apalah! ayah mengatakan bahwa makan malam kemarin itu hanya untuk urusan bisnis. itu saja!" kataku tegas sambil memegang pundaknya.
Elia tertunduk, kemudian mengangkat kepalanya, "Pak Damian, Pasti ada situasi yang sulit di jelaskan, bukan?!"
"Aku Percaya dengan pak Damian." ucapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku mau ke dapur, banyak pekerjaan di sana. bicaralah kalian berdua."
Dia menyingkirkan tanganku dari pundaknya, dan kemudian pergi kembali ke dapur.
"Elia..."
__ADS_1
"Katanya istri, tapi malah bantu-bantu pekerjaan di dapur! padahal sudah ada pekerja."
"Pergilah." kataku. "Aku mohon pergi dari sini."
suasana menjadi lengang, membentangkan Kesunyian. sinar matahari mulai masuk, panasnya begitu membara seperti api yang melingkar bagai napas di dalam dada,
"Baiklah." jawabnya pelan.
suatu kali, setelah Vania pulang. tepat sekitar lima belas menit yang lalu. aku masih terpaku, membisu di ruang tamu. aku tak tahu harus apa dan bagaimana. hanya saja, dia, Elia yang cantik dan imut, datang menghampiri ku lagi.
"Pak Damian?! Sarapannya sudah siap," ujarnya, "Eh, tamunya sudah pulang?"
di ruang makan, aku duduk terdiam, sambil menikmati sarapannya. matahari semakin terik. matanya menerawang jauh, dengan pandangan yang khidmat, seakan dia akan melakukan sesuatu hal dengan objek pandangannya.
"Sebentar, aku jemur pakaian dulu, ya? bibi Hera masih merapikan lantai atas." dia tersenyum, tersenyum ramah seperti biasanya. dia, tidak marah? apa dia benar-benar sudah melupakannya? mungkinkah itu tidak mengganggu pikirannya? jika benar begitu, syukurlah.
ku putuskan untuk mengikuti dia, duduk santai di beranda samping menantikan dan menunggunya menjemur pakaian.
kring kring kring
"I-itu telepon kan?" katanya terkejut sambil menghampiriku yang asyik membaca buku sambil sesekali mencuri-curi pandang.
"Telponnya di ruang depan."
Elia berlari setelah dering kedua telpon itu berbunyi, "Biar aku angkat."
siapa yang telpon?
"Pak Damian! telpon dari mama." dia memekik dari kejauhan sana.
dengan malas aku bangkit untuk meraih gagang telepon. Rinna menelpon, aku tahu apa tujuannya.
"Halo?"
"Anak bodoh!!! kamu apakan Vania sampai menangis!!! dia menelpon ku barusan!!! tidak tahu Terima kasih, lihatlah apa yang sudah kamu perbuat. kami akan pulang malam ini!! dasar, bodoh! benar-benar tidak bisa di andalkan!!!"
Oh, aku mendengar suara ayah, marah-marah.
__ADS_1