
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata ku. ku tundukkan kepala sambil sesekali memandang lagi ke arah pintu atau jendela, mungkin saja di balik sana ada sepasang mata dari perempuan yang ku puja. aku begitu berharap dia mau memberikan ku kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki semua. sementara hujan terus menderas, saksi mata sebuah sejarah yang gagal terlaksana.
tiap kali aku mengenang masa-masa yang telah kami lalui bersama, aku merasa diriku sungguh bodoh. setiap kata-kata, setiap perhatian, setiap kasih sayang yang dia berikan tapi malah ku anggap hanya kepalsuan karna siasat jahat ayah untuk mengelabui hatiku.
satu hal yang pasti yang juga mengganggu, pikirku, kenapa Elia mesti merasa rendah? sehebat itu lah tajamnya kata-kata sampai merusak kepercayaan dirinya yang kuat. itu sama saja membuatku semakin terpuruk, karena di sesaki berbagai prasangka.
aku terlarut dalam guyuran air hujan, hingga saat datanglah dia di depanku. memegangkan payung untuk melindungi ku dari dinginnya air malam ini. aku terharu, saat dia menuntunku masuk ke dalam rumah itu, persis seperti malaikat putih yang datang seakan memberikan ku anugerah.
"Pak Damian serius masih mau denganku?" katanya setelah memberikan teh hangat. "Apakah ayah dan mama sudah tahu, kalau pak Damian ke sini? apakah sudah minta izin dengan mereka?"
"Mereka tidak perlu tahu aku di sini, Elia. aku sudah dewasa dan sekarang juga seorang kepala rumah tangga, aku berhak mengambil keputusanku sendiri."
__ADS_1
"Tidak Pak, aku tidak mau kejadian yang sama terulang lagi. aku tidak bisa kembali pada pak Damian, kalau mereka tidak tahu."
"Elia, kamu dan aku saling mencintai. aku akan keluar dari rumah juga dan kita kembali hidup bersama tanpa sepengetahuan dari mereka."
"Aku akan kembali ke pernikahan kita dengan syarat, pak Damian datang ke sini meminta ku lagi pada orang tua ku bersama ayah dan mama." katanya sambil menatapku tajam. "Aku ingin pernikahan kita di restui, agar kejadian seperti ini tak terulang lagi."
dengan berat hati perlahan-lahan aku mengevaluasi pengalaman yang rumit ini. mungkin permintaan dari Elia ini cukup sulit, bahkan sangat sulit. tetapi aku juga memahami bahwa kami terlalu arogan padanya dan keluarga. maka ku rasa syarat seperti itu memang sudah wajar. mungkin untuk menghadapinya aku harus mengambil etos bohemianisme agar kemurnian jiwaku tetap terjaga, kendati kenyataan membuatku limbung dan hampir gila. menjadi bohemian, membebaskan diri dari segenap ikatan yang sebenarnya kosong. bukankah aku juga berhak memilih sendiri jalan hidup dan cintaku?
"Aku akan Terima syaratnya Elia, aku akan bawa ayah dan mama ke sini."
bagaimana aku harus memutuskan?
__ADS_1
aku terdiam agak lama, memikirkan betapa beratnya menggali di tanah tandus, kering dan retak. begitu berat, hingga seakan aku harus membagi persoalan hidup ini dengan air teh yang ada di hadapanku.
"Kamis depan," kataku.
"Sungguh?"
"Ya, ayah sudah kembali dari perjalanan bisnis hari itu."
"Tolong berikan juga kejelasan ke mana dan bagaimana kita menjalani hidup ke depannya. masih haruskah kita ikut bersama ayah dan mama? jika tidak, aku berharap pak Damian mampu bertanggung jawab dan mengambil keputusan secara mandiri. dan juga, mengenai hutang ayahku sendiri, jika kita kembali bersama, apakah ayah pak Damian masih akan menagih hutang kami? aku juga butuh kejelasan tentang itu semua. maaf jika ini mungkin terdengar membebani bapak."
"Aku mengerti kegusaran mu, Elia. bagaimanapun juga aku adalah kepala di rumah tangga kita. dari kejadian ini membuatku menyadari banyak hal, mengevaluasi diri, dan memperbaikinya. do'akan saja. aku sangat berterima kasih karena Tuhan menganugerahkan kamu sebagai pendamping hidupku."
__ADS_1
"Aku akan menunggu di sini dengan sabar, pada hari itu nanti, semoga hidup kita dapat menjadi lebih baik," katanya sambil tersenyum.
aku juga berusaha tersenyum.