Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Mengejar Maaf Istriku


__ADS_3

Ku injak pedal gas Dalam, berulang kali aku membanting setir menghindari pengendara lain bahkan Dalam perjalanan ke rumah Elia istriku yang aku pun belum tahu letak persisnya, hampir saja mobil yang ku kendarai menabrak seorang pejalan kaki, namun aku masih mampu menyeimbangkan laju Mobil. semua itu tidaklah lain karena aku tak mau lagi membuang waktu, belum mencari rumahnya, belum mengejar waktu dari kota ke desa, memakan waktu yang juga lama. dan aku tidak boleh santai, sebab Elia sudah terlalu lama menunggu permintaan maaf dariku ini.


setiap kali mengingat kata-kata yang ku lontarkan padanya saat dia meminta berpisah, aku selalu teringat ketegaran hatinya dalam menerima dan mengarungi hidup; bahwa di balik jiwa mudanya tersimpan sisi spiritual yang tenang dan lembut, dan dalam kekanakannya tersimpan di dalamnya karakter yang kuat dan bersahaja. tak ada balasan kata-kata, dia hanya tersenyum dan pergi membawa semua bebannya sendirian.


hidup dengan pilihan yang membingungkan. satu hal yang menyelamatkan ku dari gelisah adalah terus tancap gas dan berusaha secepatnya menemui istriku. tapi, sebelum itu aku harus menyiapkan beberapa hadiah kecil sebagai simbol dan pelipur tambahan barangkali jadi pendukung rencana ku untuk meminta maaf.


ku pikir perlu memberi sebuah kejutan bila nanti berlangsung momen yang dramatis. anak-anak remaja sering melakukannya dengan memberi cokelat. apa masih pantas aku memberi cokelat? Elia menyukai bunga lily, mungkin itu lebih cocok.


tetapi, oh. sejauh aku mengalihkan pikiran dengan memikirkan gagasan konyol itu sepanjang jalan, tetap saja gelisah yang terus menggerayangi kepalaku. tetap saja tidak cukup untuk mengusir ketakutan akibat perasaan campur aduk ini. di satu sisi aku sedih, satu sisi aku kecewa, satu sisi aku marah, dan satu sisinya lagi aku senang. senang karena apa? karena itu berarti Elia setia mendampingi ku selama ini bukan karena tugas! tetapi karena cinta.


Sesampainya di desa, tempat ku bekerja dan tinggal dulu. tapi lebih tepatnya sekitar 30 Menit dari villa ku dulu, pandangan ku langsung tertumpu pada sebuah rumah tua kecil dengan halaman agak luas. yang kini aku tahu, disanalah Elia tinggal bersama keluarganya. aku di bantu beberapa penduduk tadi, nampaknya mereka rekan ayah mertuaku bekerja sebagai buruh tani di kebun orang.


malam yang larut. dia terkejut melihat aku tiba-tiba muncul di depan pintu rumahnya. dia diam, membisu bagai arca. mengenakan dress santai merah tua, dengan rambut tergerai. dia terpaku, menatapku.


"Maafkan aku," ucapku sambil menyambar memeluknya.


seperti bayang-bayang.

__ADS_1


namun rupanya lain ku dapat, kecewa tapi aku tidak terkejut saat Elia mendorong tubuhku jauh darinya.


"Apa yang Pak Damian lakukan di sini?" katanya sambil melirik langit yang mendung di atas sana. "Pulanglah, sudah malam. kalau ayah tahu pasti marah."


"Tidak, aku tidak akan pulang sebelum mendapat kata maaf darimu."


"Minta maaf untuk apa? Pak Damian tidak punya kesalahan apa pun padaku. pulanglah!" dia berlalu dan hendak menutup pintu rumahnya. namun, sebelum itu terjadi aku segera menghalau tangannya.


"Aku sudah mengetahui semuanya, Elia! maafkan aku, aku sungguh minta maaf."


dia terdiam, membisu menatapku. kemudian ku tatap wajah Elia yang mulai sayu dan lesu. dia kembali memandangku dengan tatapan yang bersungguh-sungguh, sambil menganggukkan kepalanya.


"Lagipula kita terlalu jauh bagai langit dan bumi, Anda orang kaya yang lahir terhormat dengan harta berlimpah, sedangkan aku ini hanya gadis dari keluarga yang serba kekurangan. Pergilah, temui lah perempuan lain yang lebih pantas mendampingimu Pak. hubungan kita tak akan pernah berhasil."


dia meninggalkan aku begitu saja di balik pintu. belum sempat aku menjawab, berkata dan menjelaskan semuanya pada Elia. tetapi... aku tak akan menyerah, aku akan meniru prinsip hidupnya yang rela melakukan dan berkorban apa saja untuk sesuatu yang dia cintai.


aku masih berdiri di depan pintu, hingga kemudian pintu lapuk ini kembali terbuka, dan di depanku berdiri seorang pria tua yang masih lumayan gagah, yang ku yakini dia adalah ayah mertuaku.

__ADS_1


"Tuan Toma?" Tiba-tiba dia merunduk, hendak bersimpuh di kaki ku, beruntung aku segera menghalangi. "Maafkan jika putriku bicara kasar pada anda tuan Toma, tolong ampuni dia." katanya merintih sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan muka.


"Ayah? apa yang anda lakukan? saya adalah menantu anda, bukan orang lain. tolong jangan bersikap begini."


"Tuan, tanpa mengurangi rasa hormat pada anda. saya mohon pulanglah! saya takut kedatangan anda ke sini akan memancing kemarahan tuan David."


"Tidak, ayahku pergi ke luar negeri. kalaupun ia tahu, aku yang akan bertanggung jawab. biarkan aku menunggu di sini sampai dapat memastikan kembali bahwa pernikahanku dan Elia akan baik-baik saja." balas ku. "Tidurlah ayah, aku tak masalah. demi Elia, aku akan melakukan apa pun."


pintu mulai tertutup, mertuaku menunduk, menatapku dengan tatapan sendu. aku tahu sebersit empati ayah padaku. namun, ia tak mampu berbuat lebih, begitu banyak tekanan yang telah ia dapatkan, dan aku mengerti.


Aku duduk sendirian di atas batu besar depan rumah Elia. sayang, malam begitu panjang dan kelabu. sementara ilusi terus menggerayangi kepalaku. sejak peristiwa itu, aku akhirnya kembali bertemu dengan Elia, istriku.


langit terus bergemuruh dan titik-titik air itu mulai turun, aku di guyur hujan dan basah kuyup. begitulah, nampak alam pun begitu marah padaku, biarkan air ini membawa penyesalan dan kebodohanku pergi mengalir jauh.


...****************...


Halo ini author 🙋

__ADS_1


Gaoaoa cuma mau nyapa lagi aja ಥ_ಥ


__ADS_2