Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Ketahuan Oleh Rekan di Rumah


__ADS_3

Aku segera masuk ke dalam kamar, ku perhatikan Elia gelisah menarik-narik pakaiannya sambil mengipas-ngipasi leher dengan telapak tangan. ku tarik kursi di depan meja, dan duduk di samping ranjang dekat Elia.


"Pak Damian, aku haus mau minum, panas sekali." katanya.


"Oh! baik, tunggu sebentar biar ku ambilkan."


ku ambil air putih di meja, dan membantunya duduk. setelah ku dekatkan gelas di mulutnya yang kecil, dia meneguk airnya. kemudian dengan senyum ramahnya seperti biasa, dia berkata;


"Terima kasih Pak Damian."


Aku menatapnya dengan tatapan sendu, karena merasa tertekan dan bersalah. kemudian kembali memandang keluar jendela, melihat langit pagi yang biru. cuacanya lebih cerah namun juga sejuk. aku mencoba menenangkan diri dengan semua itu, sebab aku merasa murung dan gelisah. perasaan bersalah kembali menghantui pikiranku dan keinginan untuk membuka diri kembali goyah, ucapan dokter barusan menyadarkan aku, betapa kami begitu kejam menindas masa depan seorang siswi dari keluarga miskin.


"Maaf Elia... "


"Eh?"


"Aku ini benar-benar pria terburuk, aku tak bisa melakukan apapun untukmu. aku terlalu sombong dan tak perhatian sampai aku tak memperdulikan kamu yang begitu. kamu jadi sakit karena terlalu banyak bekerja. hingga ketika aku mau belajar membuka hati dan menciummu, aku malah membuat kita terpojok dan menyakiti hatimu, semuanya malah jadi bumerang. Aku... "


"Aku... "


"Ternyata tidak sanggup... " sambil menundukkan kepala, ku lanjutkan kembali ucapanku, "Sebelum kamu terlanjur jadi semakin sakit karena ku dan sulit di sembuhkan, sebaiknya kita putuskan hubungan ini. Aku masih bisa hidup sendirian, nanti biar aku yang memberi tahu ayah, kamu pulanglah ke rumah. meski pertemuan dan hubungan kita ini sangat singkat, tetapi aku sangat berterima Kasih."


tanpa ku sadari rupanya Elia telah turun dari ranjang, dengan lembut dia meraih kepalaku dan menenggelamkannya dalam rengkuhan dadanya.


"Kamu... kamu berhak untuk bahagia, Elia." kataku pelan.


"Aku tidak akan pulang. Apapun yang terjadi, aku akan selalu berada di sisi mu. aku akan baik-baik saja." katanya sambil menyandarkan pipinya di kepalaku.


"Aku ini bukanlah gadis yang lemah."


ucapannya yang lembut begitu tegas masuk ke dalam hatiku, dan Di saat itu juga aku merasa, jantungku di peluk erat. Seolah ada yang membuatnya berdegup kencang. Elia benar-benar kuat, jauh lebih kuat dari yang selama ini ku bayangkan, aku ingin membahagiakan Elia, aku ingin menjadi pria yang bisa melakukan itu.


tunggu, kenapa aku malah berpikir seperti itu? dasar aku ini. bermimpi tanpa batas, tetapi mungkinkah karena aku bukan sekadar belajar membuka hati? apakah karena aku memang sudah menaruh perasaan dan sungguh mencintai Elia?


"Pak Damian, ini sudah pagi. memangnya tidak terlambat kalau belum bersiap-siap?"


pertanyaannya mengingatkan aku pada sebuah kejadian masa lalu, di mana saat itu aku juga dalam keadaan yang sama dengannya sekarang. aku sakit dan dia memilih untuk ikut tak masuk sekolah.

__ADS_1


Satu hari saja, tidak masalah. Kesehatan pak Damian lebih penting, aku harus merawat pak Damian sampai sembuh Karena aku sudah berjanji untuk berbakti pada suamiku.


jika di pikir-pikir, memang agak berlebihan tetapi itu menjadi bukti kesungguhannya untuk memenuhi janji akan baktinya pada suami. di lubuk hatiku yang paling dalam, betapa aku mengagumi Istriku ini, padahal dirinya juga memiliki kepentingan genting yang tak bisa di sepelekan tapi dia masih menyempatkan untuk merawat dan menjagaku, dia berhasil membentuk karakternya menjadi begitu bijak dan tegar, tak sekadar Omongan yang dijanjikan begitu saja tetapi juga melalui pembuktian dalam sikap dan tindakan.


jadi terlintaslah dalam pikiranku sekarang; sangat tidak adil bila aku memilih untuk bekerja saat Elia masih sakit. sedangkan saat itu Elia rela berkorban untuk tak masuk sekolah.


"Aku akan mengabari pak Donny untuk izin tak masuk sekolah hari ini."


"Eh, tapi... "


“Satu hari saja, tidak masalah. Kesehatan kamu lebih penting, aku harus merawat mu sampai sembuh Karena aku sudah berjanji untuk menjaga Istriku.”


dia mematung, tetapi kemudian saling bertatapan lagi dan saling melempar senyum.


"Minum Obat dulu, ya?"


"Baik."


...****************...


di siang hari yang terik, ku nikmati kenikmatan ilusi di bawah alam sadar yang tercipta tanpa pengaturan dariku sebelumnya, yang lebih membuatku senang adalah ketika aku duduk berdua bersama Elia, kami menikmati malam bersama di beranda memandangi bintang sambil minum susu coklat, saling berbincang dalam suasana hangat-hangat kuku. ilusi itu terasa kian nyata saat sayup-sayup ku dengar suara Elia memanggilku...


"Ini sudah jam 2.00 siang."


Hah?!, terbangun aku. ku pegangi leher karena merasa panas, ternyata aku sudah banjir keringat.


"Apa tidurmu nyenyak?"


"Elia?!" kata ku setelah mengalihkan pandangan, ku lihat Elia berdiri di muka pintu kamar. "Kamu sudah kuat bangun?"


"Iya! aku sudah sembuh total! dari awal tubuhku ini memang kuat." katanya penuh semangat sambil mengangkat lengan dan tangan lainnya menarik lengan pakaiannya, dia berpose layaknya seorang binaragawan yang sedang pamer otot.


"Tolong jangan di paksakan. kamu harus istirahat penuh seharian dulu."


"Terima kasih untuk perhatiannya pak Damian, tapi aku sudah benar-benar sembuh kok." timpalnya lagi, tak tinggal dengan senyum ramahnya. kemudian dia masuk dan berjalan perlahan menghampiriku di ranjang.


"Omong-omong apakah pak Damian tahu aroma ini?"

__ADS_1


Sontak ku hirup udara di sekitar berharap agar aroma yang di maksudkan nya dapat pula masuk ke dalam lubang hidungku ini, "Sup pangsit?" tanyaku.


"Benar! Aku sudah menyiapkan nasinya juga," dia menatapku dengan mata yang berbinar-binar, begitu teduh sampai menghempas ingatanku dengan ekspresi wajahnya saat sakit tadi, "Ayo kita makan siang bersama, Pak Damian." katanya sambil menggenggam tanganku erat.


Tak ada yang bisa ku lakukan, selain menuruti keinginan siswi belia ini. aku terlampau senang saat ku dapati kini senyuman sumringah Elia.


Sesampainya di ruang makan, dia menarik kan kursi untukku. namun, aku tak mau kalah, jadi ku tunda dulu untuk duduk lebih dulu. aku memutar langkah, lalu menarik kan pula kursi untuknya.


"Kamu lebih dulu," kataku.


Dia tersenyum lalu berjalan dan menyandarkan punggungnya di kursi makan. "Terima kasih!"


ku nikmati makan siang sup pangsit buatan Elia, sangat segar dan nikmat. kami menikmatinya bersama di siang hari yang cerah dengan awan putih yang menggantung di atas langit sana. Elia tersenyum terus, membuat aku jadi kikuk dan salah tingkah, hingga kemudian setelah makan siang ku gantikan tugasnya mencuci piring. walau awalnya dia sempat menolak, aku terus memaksa dan dia akhirnya mengalah.


tak lama setelah itu, saat aku masih asyik mencuci piring. Tiba-tiba terdengar suara bel dari luar.


"Biar aku saja!" kataku pada Elia.


aku berjalan ke depan, siang-siang begini siapa yang mau datang. sebab tak banyak orang tahu tentang kehidupan pribadi ku. akhirnya ku buka pintu, namun rupanya...


"Selamat siang! Halo Damian, Kamu sudah baikan? kamu keringatan apakah sudah makan?"


berdegup lah jantungku sekuat mungkin ketika itu, ketika ku lihat rupanya Amanda dan Pak Donny yang datang, mereka berdiri di depan pintu,


"Kenapa Kalian ada disini?" kataku gugup. mataku tajam memperhatikan mereka.


"Kamu berpamitan tak masuk bekerja karena sakit, sedikit cemas karena kamu tinggal sendirian jadi kami berinisiatif untuk menjenguk dan bawakan makanan, barangkali kamu belum makan!" ucap Amanda.


"Lebih tepatnya, dia yang cemas." Timpal Pak Donny menyela sambil menyenggol lengan Amanda, seakan ingin menggoda hubungan antara aku dan Amanda, di balik wajahnya yang datar dan dingin.


tetapi ada yang lebih menakutkan, yaitu saat tiba-tiba;


"Siapa yang datang, pak Damian?"


lepaslah jantungku saat itu juga, saat Elia muncul dari dalam. suasana jadi menegangkan dan jantungku berdebar kencang, kurasa begitu juga dengan Elia kini, dia jadi mematung di belakangku. entah mengapa waktu bisa begitu pas, seakan telah di atur sebelumnya, padahal aku pun masih belum memiliki alasan yang tepat untuk mengusir mereka.


"Kamu?" ucap Amanda Terkejut.

__ADS_1


"Siapa dia?" Timpal Pak Donny.


"Siswi kita juga di sekolah."


__ADS_2