Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Selamat Tinggal Profesi


__ADS_3

ku pandangi berita yang ada di laman utama pengumuman dari layar ponsel yang ditunjukkan ibu Aria, foto mesra aku dan Elia terpampang jelas. bahkan sudah banyak pula cuitan siswa dan siswi memenuhi kolom komentar.


segera ku alihkan pandangan, bagaimana Elia sekarang? apakah dia baik-baik saja saat sampai di sekolah?


tak ku sangka ini akan terjadi begitu cepat, yang aku khawatirkan kini harus ku hadapi, dan saat itulah pula, aku di sidak layaknya seorang terdakwa. aku berdiri tegak di depan meja kepala sekolah, di interogasi lewat tatapan mereka yang merendahkan membuatku semakin tertekan.


"Tak dapat di pungkiri lagi, kalau itu adalah anda, Pak Damian dan siswi kelas 3C, Elia. bukan begitu?"


Tiba-tiba pak Hans membangkitkan kesadaranku,


Ku coba untuk tenang, dan berusaha tidak gugup, "Benar." kataku.


mendengar jawabanku, bu Aria menarik ponselnya dan mendekatkan wajahnya di mataku, ia sangat marah, terlihat dari nada bicaranya yang membara, "Benar? berani-beraninya kau!"


Aku bisa memahami bagaimana kecewa yang ia rasakan. sebab, ia adalah wali Elia di sekolah. tentu menjadi tanggung jawabnya lah, bila siswinya bermasalah.


"Bisakah anda menjelaskan, apa arti ini semua Pak Damian?" Timpal pak Hans kembali.


"Itu seperti yang bisa anda lihat. tak ada yang bisa saya jelaskan." jawabku singkat.


sekali lagi, aku berusaha untuk tetap tenang. karena sedari awal aku menyadari bahwa ini memang sudah menjadi resiko yang ku buat. aku yang mencium Elia tak tahu tempat.


"Berani-beraninya kau berkata begitu?!" sergah ibu Aria lagi.

__ADS_1


ku hela nafas panjang, lalu ku tundukkan sedikit pandangan agar terlihat sopan, berusaha memberi kesan baik lewat bahasa tubuh padahal perbuatanku begitu tercela melanggar nilai Moral, tetapi anggapla saat itu aku bertingkah layaknya seorang suami kepada istri,


"Saya sungguh minta maaf."


begitu pula ibu Aria, kini ia sedikit lebih tenang lewat nada bicaranya yang lebih rendah, "Pak Damian, ini bukanlah masalah pribadi mu saja! ini menyangkut kepercayaan kepada para pengajar. apakah menurutmu hanya dengan minta maaf bisa menyelesaikan masalah?!"


Ku renungi semua ucapannya, tak ada yang salah. dia memang benar.


"Pak Damian, untuk masalah ini, tentu sanksi tak dapat di hindari. apakah tak masalah untukmu?" Sahut pak Hans, "Bisakah anda memberi tahu pada kami, apa yang sebenarnya anda rasakan?"


Pak Hans yang bersahaja memang cocok memimpin sekolah ini, ia begitu tenang dan berusaha untuk merespon dengan baik meskipun perbuatanku ini tidak bisa di maklumi. ia memang agak berumur, mungkin karena itu lah pak Hans bersikap begitu lembut namun juga tegas.


Karena itu, ku turuti perintahnya dengan mengungkapkan apa yang ku rasa. yang jelas, aku memang sudah siap bila harus mengemban tanggung jawab terberat sekali pun.


Ku tegakkan kepala, dengan tegas ku tangkap sorot mata pak Hans agar tiap kata yang ku ucapkan ini dapat ia pahami,


"Dia tidak bersalah sama sekali. Aku akan bertanggung jawab dalam segala hal atas kejadian ini. Aku tak ingin menyakitinya."


...****************...


akhirnya setelah beberapa jam berkelut dan disidak, aku keluar dari ruang kepala sekolah. ku buka pintu keluarnya hati-hati agar tak menarik perhatian. namun, rupanya aku salah. sudah banyak siswa yang berbaris di Koridor depan ruangan hanya untuk mengintip dan menguping.


mereka segera berhamburan saat melihat aku di muka pintu.

__ADS_1


ku susuri koridor sambil berjalan pelan, dengan wajah masygul ku perhatikan tiap kelas. Dalam hati aku bergumam, "Elia, apakah kamu baik-baik saja?"


sesampainya di ruang guru, Amanda menyambut ku di dalam dengan wajah datarnya. sudah tak ada lagi senyum dan binar mata ketika melihatku, seakan ia masih menyimpan amarah dan sakit hati karena kejujuran ku,


"Kamu yang menyebarkannya?"


"Agar Impas." jawabnya singkat.


"Bukankah kemarin urusan kita telah usai Amanda? kau menerima begitu juga aku! ku pikir kita bisa berteman baik setelah ini, tapi kau mengkhianati janji. tak ku sangka kau mampu berbuat seperti ini!"


"Siapa yang berjanji? dan siapa yang menerima? bagiku, jika aku tak bisa memilikimu, maka lebih baik melihat kalian sengsara seperti yang ku rasakan. lebih baik aku tak melihat kau dan dia lagi dari pada aku harus mengingat hubungan kalian di belakang ku."


Aku mendengus, sambil menggelengkan kepala pelan, "Kamu ternyata sudah tak waras!" kataku.


aku segera menuju meja kerjaku. ku ambil kardus di bawah, lalu ku susun satu persatu barangku di dalamnya. Amanda terus mengacau, mengganggu konsentrasi ku. dia menyambar-nyambar dari depan meja.


"Tinggalkan anak itu Damian! kalau kamu memang mementingkan pendidikannya seharusnya kamu sudahi pernikahan kalian. kau tidak lihat, bagaimana sekolah merespon keberadaanmu sekarang? sudah pasti anak itu juga merasakan yang sama, bahkan lebih parah karena mereka sebaya!"


Aku terus merapikan mejaku tanpa memperdulikan ucapannya, ku pandangi lagi panorama bukit dari dalam jendela. akan ku kenang selalu memorinya dan ku simpan baik-baik, menjadi kenangan terindah selama mengajar. meskipun awalnya dengan setengah hati, nampaknya kini aku akan merindui profesi dan suasana tempat ini nanti.


"Tinggalkan dia Damian! belum terlambat untuk mengubah semuanya!"


"Cukup!! aku tak ada urusan lagi denganmu!"

__ADS_1


Hari ini, rupanya aku harus pulang lebih cepat. bahkan sebelum melaksanakan tugasku mengajar di jam pertama, tetapi ada pula yang perlu di syukuri, setidaknya aku masih mampu menepati janjiku untuk selalu melindunginya.


Elia, demi kamu aku rela berhenti menjadi guru...


__ADS_2