
Aku bangun kesiangan. di langit sana, matahari telah naik beberapa jengkal ke atas, sinarnya yang panas menerobos dari ventilasi jendela dan membakar tubuhku. sambil menahan kantuk, ku sisihkan selimut dan bangkit menuju kamar mandi. ku ratapi Elia yang masih tidur di sampingku, ku cium dulu satu kali keningnya, ah, pagi terindah di hidupku.
Tiba-tiba ia terbangun karena satu sentuhan dariku, matanya mengerjap-ngerjap mencari kesadaran. dan aku menantikan jiwanya terkumpul secara utuh dalam badannya sebelum akhirnya ke kamar mandi.
"Pak Damian?" katanya sambil menggosok mata.
aku tersenyum bahagia, aku tak sabar melihat reaksinya setelah menyadari apa yang terjadi semalam, malam pertama antara kami pengantin lama.
"Sudah bangun?"
dia mengangguk, "Akhirnya aku melihat pak Damian, saat bangun." sambutnya lembut sambil memelukku.
kami saling berpandangan, menduga-duga adakah yang berubah pada diri kami masing-masing.
"Pak Damian, Kenapa tidak pakai baju?" katanya.
"Kamu juga begitu." aku tersenyum.
matanya cepat naik turun memandang bagian tubuhnya di balik selimut. "Apa yang terjadi?" katanya sambil melotot, mulutnya menganga lucu sekali. aku lantas mencium tangannya. lembut dan khidmat. seakan ku cium tak hanya dengan bibir, melainkan juga dengan jantungku. aku gemetar begitu ku sentuh bagian punggung telapak tangannya, "Terima kasih, ya karena sudah minum anggur." kataku menggodanya.
ku rasa dia mulai paham dengan apa yang sudah terjadi.
"Sudah, sekarang pergilah ke kamar mandi. mau kamu lebih dulu, atau aku?"
"a-aku saja."
usai mandi, ku bantu Elia membereskan lemari, merapikan pakaian kami. dan barang-barang lain, di dalam tas. sungguh sial, hampir saja aku terlupa menyampaikan tentang rencana makan malam dengan rekan bisnis ayah. berkat baju-baju ini aku jadi teringat secara estafet, dari rok polkadot, lalu ke sanggul, ia berpenampilan sebaik mungkin untuk bertemu keluarga ku, hingga penampilan untuk menemui rekan bisnis.
"Aku baru ingat, saat makan malam kemarin, ayah menyampaikan bahwa rekan bisnis nya mengundang kita untuk makan bersama malam ini."
"Kita?"
"Ya, kita keluarga Toma."
"Apa aku juga diajak?"
"Kamu ini bicara apa? pertanyaannya aneh sekali, tentu saja diajak, kamu kan adalah istriku, menantu ayah. namamu adalah Elia Toma, itu artinya kamu juga bagian dari keluarga ini. sudah jangan berpikir yang aneh-aneh."
__ADS_1
mata Elia langsung berbinar, bayangkan betapa senangnya ia menemani suaminya untuk pertama kali dalam perjalanan bisnis. dia bangkit cepat-cepat membongkar koper miliknya.
"Kalau begitu harus cari pakaian terbaik biar tidak buat malu pak Damian, ayah dan mama."
aku tersenyum, "Kamu selalu cantik pakai apa pun Elia, dan ingatlah kami tidak pernah dibuat malu olehmu."
dia berusaha mencari pengganti yang tak kalah pantas dari rok polkadot. bagaimana kalau memakai celana hitam? kemeja biru? dia memajang pakaian-pakaian itu di depanku, namun hanya ku balas senyuman. jujur dalam hatiku yang terdalam, aku merasa bersalah pada Elia, ia tak memiliki pakaian lain selain biasanya, tak salah jika ia kebingungan untuk memilih pakaian yang cocok jika bertemu orang-orang. betapa aku menyesali tentang diriku yang terlalu acuh dengannya sampai ia tak pernah ku belikan pakaian mewah dan formal untuk berhadapan dengan situasi seperti ini.
"Kalau tidak percaya diri, biar pinjam salah satu pakaian mama saja bagaimana?"
"Jangan!! tidak enak. kalau aku pakai baju paduan suara saat di sekolah dulu, boleh tidak? dulu aku pernah ikut lomba paduan suara mewakili sekolah, dan dapat seragam, karena bagus, aku sering memakainya kalau menemani ayah dan ibu jika ada acara. aku membawanya, dimana ya? pakaiannya bagus seperti dress begitu tapi tidak terlalu panjang, hanya sebatas lutut. malah tidak terlihat sama sekali kok kalau itu seragam lomba. dimana ya? nah ini dia!! bagaimana?"
"Boleh, pakailah apa pun, asalkan kamu nyaman."
dia tersenyum bangga.
...****************...
Demikianlah akhirnya malam tiba, aku sudah siap dengan setelan jas warna hitam agar senada dengan Pakaian yang di pakai Elia. syukurnya malam ini ia tidak menyanggul rambutnya dengan mahkota konde keramat itu. ia tampil santai namun begitu Elegan dan berkarisma.
setelah merasa beres dan siap, ku gandeng tangan Elia menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah. ayah dan Rinna sudah menunggu di dalam sana.
aku mengernyitkan dahi saat ku lihat mobil yang di pakai ayah. ia dan Rinna duduk di kursi belakang. yang tersisa hanya satu kursi di depan samping supir.
"Tak apa, masuklah." ucap ayah.
sedangkan aku kebingungan, begitu juga Elia. kami saling pandang sambil memperhatikan bagian dalam mobil.
"Maaf ayah, tapi kursinya tinggal satu."
"Iya, kamu naiklah."
"Lalu, bagaimana dengan Elia?"
"Loh, Elia ikut?" ucap Rinna di ujung sana, sambil memajukan sedikit badannya untuk melihat kami di luar.
"Tentu saja, dia istriku. dia juga bagian dari keluarga Toma." kataku.
__ADS_1
"Sayang sekali, mobil ini hanya muat empat orang." timpal Rinna kembali.
aku mendengus, sejujurnya aku kesal sekali. seakan semua ini begitu di sengaja. "Kenapa tidak ganti mobil saja, yang muatan penumpangnya lebih banyak?"
"Rekan bisnis ayah ini bukan sembarang orang, jadi harus tampil meyakinkan. mobil ini cukup mahal jadi setara dengannya."
"Ya sudah biar aku dan Elia pisah mobil saja, kami bisa naik taksi, atau mobil ayah yang lain."
"Kita baru damai, kalau pisah kendaraan rekan bisnis ayah akan berpikir yang tidak-tidak. seakan masalah di antara kita masih belum selesai."
"Baiklah, kalau begitu aku dan Elia tidak jadi ikut. kalau aku pergi Elia juga pergi. kemanapun aku, Elia akan tetap berada di sampingku." kataku diplomatis.
lalu tiba-tiba saja Elia menyambar dari sampingku.
"Jangan! pak Damian pergi saja bersama ayah dan mama. sejujurnya aku juga sedikit tidak enak badan, ingin istirahat saja."
Ku pegangi kedua bahu Elia, sambil menatapnya dalam-dalam, untuk memastikan kebenaran ucapannya, "kamu sakit? kenapa tidak bicara? aku tak akan kemanapun, aku akan temani kamu sampai sehat."
Lalu dengan lembutnya Elia mengambil kedua tanganku dari bahunya, lalu di genggamnya erat-erat kedua telapak tangan ku itu.
"Tidak, pak Damian harus pergi! ini adalah langkah awal menuju karir pak Damian, ayah dan mama sudah berusaha untuk membantu, jadi pak Damian jangan sia-sia kan kesempatan. tak apa, aku akan baik-baik saja. lain kali pasti bisa menemani perjalanan bisnis pak Damian."
"Tapi kamu sudah bersiap-siap begini." kataku pelan.
"Sejujurnya aku juga kurang percaya diri dengan penampilan ini, aku masih ragu kalau bertemu orang-orang hebat dari rekan ayah dan pak Damian. jadi nanti lain kali aku akan bersiap lebih baik lagi, biar lebih maksimal. kalau sekarang jangan dulu. sungguh. sudah, pergilah. naiklah di sana."
masih ada yang mengganjal di hatiku, meskipun Elia mengutarakan perasaannya. "Ayah, biar aku saja yang menyetir, jadi kita berempat bisa pergi." kataku memekik, seakan aku dan ayah berjarak begitu jauh.
"Kamu tidak dengar ya, apa yang baru saja Istrimu katakan? dia tidak enak badan dan kurang percaya diri dengan penampilannya, kenapa kamu masih memaksa. biarkan dia istirahat!! kalau kamu mau pergi lekaslah naik, tapi kalau tidak masuk lah ke dalam! buang waktu saja."
ku pandangi lagi Elia
"Ayah benar, pergilah pak Damian. tolong jangan sia-sia kan kesempatan. aku tidak apa-apa kok."
"tapi El... "
"Sudah tidak ada tapi, pergilah... "
__ADS_1
Elia mendorong tubuhku masuk ke mobil, dengan berat hati ku tinggalkan dia di depan teras rumah. dia melambai dan tersenyum. menyembunyikan luka...luka yang teramat perih.