Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Iya, Sayang


__ADS_3

Sepulang dari perjamuan makan malam, aku pulang ke rumah. cepat-cepat aku naik ke lantai dua menuju kamar, mata dan pikiranku tak lagi mampu beralih selain hanya kepada Elia, belahan jiwaku. wajahnya yang jelita terpantul cahaya bulan, ia tidur di sofa kamar dekat jendela. mungkin dia menungguku pulang tetapi tak mampu menahan kantuk nya. aura tubuhnya seakan mengajak pikiranku bertamasya jauh di luar jangkauan otak. di sana aku mendapatkan apa yang tak ada dalam pikiranku.


"Pak, Damian sudah pulang?!"


Tiba-tiba kelopak matanya naik, sesaat ketika aku berlutut di sampingnya. jiwanya terbangun seakan ia tahu bahwa ada sepasang mata yang menaruh perhatian padanya.


"Maaf, aku membangunkan mu lagi, ya?"


Elia tersipu-sipu sambil melirik ke sana kemari. wajahnya yang cantik bersemu-semu kemerahan, hampir seperti buah tomat. angin malam berhembus dingin. suasana jadi semakin khidmat, aku ingin bermanja padanya.


Ku telungkup kan wajahku di pahanya, dan diapun mengelus kepalaku seperti biasanya. seketika aku merasa tenang, walaupun rasa bersalah terus mengalir dalam denyut nadiku. tentang perlakuan yang di Terima Elia malam ini.


"Bagaimana makan malamnya?" tanya Elia kepadaku.


"Biasa saja, seperti makan malam umumnya."


"Ceritakan, aku ingin dengar," katanya.


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk apa ya? hmm... biasanya kalau sudah bermanja begini, ada yang mengganggu pikiran, kan? seperti biasanya. Ayo, cerita! aku akan senang mendengar setiap keluh kesah Pak Damian."


sebelum ku mulai ceritaku, ku pandangi dulu Elia baik-baik. ku pastikan bagaimana perasaannya sekarang. sejenak ku pikirkan pula, ada baiknya untuk tak ku ceritakan soal gadis tadi. walau memang tak ada yang istimewa, tapi bisa saja Elia jadi berpikir kejauhan.


"Waktumu tidak banyak," katanya lagi.


"Aku tahu. Ehm, baik. berhubung sekarang sudah malam. aku akan mengajukan dua syarat. pertama, besok pagi aku ingin kamu membuatkan aku sarapan paling enak," sambil menunjuknya.


"Dan kedua, aku ingin menceritakannya sambil tiduran di pangkuan mu."


"Aku siap memenuhi syaratnya, Ya sudah kemari lah, biar ku gosok sekalian keningnya." dia memenuhi permintaanku.


"Tempat tidur?!"


"Ya," jawabku.


aku menjawab dengan senyum.


"Oke. sekarang biar ku bantu ke sana."

__ADS_1


aku membantu dia naik ke ranjang. pertama aku berdiri dari pangkuan Elia dan tegap di depannya. kemudian tanpa basa basi aku memegang pinggangnya lalu ku angkat dengan gagahnya, walaupun dia sendiri sempat kaget dan berusaha untuk menolak. tak ada niat atau acara apapun, hanya aku saja yang ingin memperlakukannya spesial.


Kini, tibalah saatnya aku bercerita. setelah aku tertidur di pangkuan Elia, dan ia duduk selonjoran di atas kasur.


"Sebenarnya tak ada yang berarti, pertemuannya ya hanya makan malam biasa. ayah memperkenalkan aku kepada rekannya itu, rekannya baru pulang dari luar negeri satu minggu yang lalu. tak ada obrolan seputar bisnis, mungkin karena masih baru jadi hanya mengobrol biasa."


"Syukurlah, semoga urusan pekerjaan pak Damian kedepannya bisa lebih baik lagi, dan selalu di berikan kelancaran. aku akan selalu mendoakan dan mendukung."


aku mengubah posisi tidurku, menghadap atas menatap wajahnya. kami hening sejenak, lalu ku tatap dalam dalam.


"Elia.."


dia balik menatapku, menatap kebingungan. seolah ia mencari apa yang ku hendaki.


"Ya?!"


"Kita sudah menikah, sudah jalan beberapa bulan. dan kita juga sudah bukan guru dan siswi di sekolah. bisakah mulai sekarang biasakan diri untuk memanggilku dengan panggilan lain juga?!" ku teguk saliva pelan-pelan, kemudian melanjutkan. "Aku ingin di panggil sayang! tetapi aku tidak melarang jika kamu memanggilku dengan " Pak Damian" seperti biasa, aku ingin saat kita bersama jadi lebih mesra dan dekat atau tak apa jika kamu merasa canggung, aku akan mengerti!" jelas ku panjang lebar.


setelah selesai ku pandangi lagi Istriku, wajahnya seketika memerah, kemudian untuk mengalihkan ia memutar pandangan ke atas. menghadap Plafon yang kelabu, di temani lampu besar namun cahayanya remang.

__ADS_1


"Iya, sayang."


__ADS_2