
"Damian, tolonglah dengarkan mama! kembalilah ke ayahmu, ya? dia akan membantumu bersama Elia hidup layak. bertani itu bukan hal yang mudah, itu pekerjaan berat dan butuh tenaga yang kuat. tolong pulanglah ke rumah, ayahmu tak mungkin diam saja."
"Tak apa, kami akan berjuang bersama. aku masih mampu."
aku pun berangkat menuju ladang, tempat di mana aku mencari nafkah sekarang, tentu berjalan kaki. namun ada yang berbeda beberapa waktu terakhir ini, aku pergi dan pulang bersama petani yang lain. nampaknya sekarang aku sudah memperluas kekerabatan dengan orang lain. bekerja di ladang bukan sekadar menyambung hidup, namun juga menyambung kebersamaan. akhirnya aku yang menyendiri, kini jadi terbuka dan memiliki teman. tidak seburuk itu...
"Berjudi itu kegiatan haram," kata seorang teman baru ku. "Karena ia pada dasarnya adalah bentuk lain obat terlarang, bisa kecanduan. setan berhasil membawa manusia masuk ke dalamnya dan menikmati. setelah mendapatkan nikmatnya, manusia gampang melakukan semua yang di larang Tuhan. lakukan terus tanpa kepuasan."
Dan kedua temanku ini hendak menukar barang berharga di sudut rumah atau mencari lembar ribuan uang dengan kesempatan di meja panas judi malam ini, mengumpulkan nafkah dengan cepat dan mudah secara ilegal. mereka berulang kali menawarkan aku untuk ikut, apalagi panen terancam gagal karena hujan terus menerus. sungguh membuat jiwaku gundah bukan main.
"Kalau cuma mengandalkan dari panen, keluargaku tidak makan! apalagi cuaca sedang ganas-ganasnya, seperti semesta tak ingin berhenti memberi nestapa."
kami terus melangkah di jalanan yang berkelok-kelok, mengingat ladang kami tempatnya berada di sebuah bukit yang menjulang di sebelah utara desa. ini perjalanan yang cukup sulit untuk petani tua sahabatku ini, dia cukup kerepotan bila mendaki terlalu tinggi. udara pagi ini basah dan lembab, tetapi kilauan cahaya matahari yang mulai tinggi di kejauhan membuat suasana menjadi hangat.
sampailah kami di tanah penghasil uang. memang tidak terlalu besar, sebuah ladang mungil yang kebanyakan kami tanami sayur sayuran. namun di ujung sana, sudah ada rekan yang duduk lesu di bawah batang mangga. sesekali ia menyeka air mata penuh duka dan frustasi.
Segera kami mendekat, dan mengejutkan sekali. "Matilah kita! Semua sayuran membusuk dan tanah terlalu gembur!"
Lemas tubuhku, saat kulihat tanaman yang ku tanam dan ku rawat penuh asa dan cinta membusuk dan keluar dari tanah. terjatuh aku, melebur bersama sayuran yang acak-acakan tak beraturan di ladang. sahabat ku langsung melepas capingnya dan di taruh depan muka menutupi kesedihannya.
__ADS_1
"Bagaimana keluarga ku makan, semesta?!"
jeritan petani ini, jeritan para kepala keluarga ini.. tak ayal adalah bukti bahwa pria juga memiliki air mata... menangislah kami seperti langit yang selalu menangis menurunkan derita musim ini.
apa yang harus ku lakukan sekarang? haruskah aku ikut menghardik takdir dari semesta, memaknai hujan sebagai pemberian namun juga sebagai fenomena alam yang memberikan derita?
hujan adalah air yang menetes dari langit.
hujan adalah kristal yang mencair.
hujan adalah darah mengalir yang menjamin alam ini tetap ada.
hujan juga adalah bencana yang mematikan rezeki kami hari ini. hujan adalah penyelamat sekaligus pembunuh...
Aku menangis sambil menggali-gali tanah mencari sisa sayuran yang masih bisa di selamatkan. mungkinkah masih ada secercah harapan untuk kami makan? tanah ini begitu lembut bahkan bisa ku peras airnya. menanam kembali pun percuma, bila hujan terus datang maka hanyut lah bibit-bibitnya.
aku menaruh harapan besar di sini, menaruh harapan untuk Elia, untuk Biaya hidup keluarga, aku meletakkan asa ku di tanah ini, pada benih-benih nya. dan pada saat yang sama pula semua bebanku muncul, utang ku pada Donny yang ku janjikan akan ku bayar setelah panen. bagaimana sekarang? aku harus berusaha sekuat tenaga melunasi hutang itu. persoalan ini semakin berat kala semesta berkehendak lain. aku harus memutar otak demi Elia...
Salah satu temanku datang, menghampiri dengan langkah tegar nya.
__ADS_1
"Bersabarlah kawan, kegagalan seperti ini bukan sekali dua kali bagi kita petani. bersedihlah tapi jangan berlarut, sebab kita masih harus berpikir cara lain untuk terus memutar hidup."
dengan berat hati perlahan-lahan aku bangkit dari sembahan ku di tanah. mengevaluasi pengalaman singkat yang rumit ini, hatiku kacau dan pikiranku berkecamuk menjadi satu. bagaimana ku sampaikan ini pada Elia? derita macam apa lagi yang akan menerpa? mungkin aku harus mengambil bagian positif dari kehendak Tuhan agar kemurnian jiwaku tetap terjaga, kendati kenyataan membuatku limbung dan gila.
langkahku terseok-seok menuruni jalan yang berkelok, terantuk-antuk seperti kakek tua yang menyusuri jalan dengan tongkat. sesampainya di rumah, aku segera mengetuk pintu dan menemui Elia.
"Selamat datang, pak Damian." dia menyambut ku begitu sumringah seperti biasanya. "Cepat sekali? katanya akan pulang telat."
"Bagaimana usahanya, pak?"
aku tidak menjawab, lalu tanpa basa-basi, aku memeluknya sambil terisak sesegukan.
"Eh, Ada apa? Apa terjadi masalah?"
lantas ku utarakan maksudku, seputar kegagalan yang terjadi di ladang. membuatku pusing tujuh keliling.
"Tak apa, kita masih memiliki simpanan untuk bertahan. jangan bersedih... "
"Kenapa kita terus di siksa Elia? mengapa kita terus hidup dalam sengsara? aku lelah, aku lemah. aku tak mampu... aku pria, tapi tak punya arah untuk mencari jalan. kita sudah menderita begitu hebat, aku hampir gila... mengapa di tambah lagi?!"
__ADS_1
Aku menangis hebat, menghardik takdir Tuhan yang ku rasa tak adil pada ciptaannya. dalam rengkuhan dadanya, Elia diam saja... menggosok-gosok punggung ku untuk menenangkan.