
Setelah berbincang dengan pasangan pura-pura itu, akhirnya aku menemui lagi jalan untuk melangkah. segera aku pulang ke rumah. tentu saja, kini aku tahu harus melakukan apa.
"Mungkin ada beberapa hal yang kamu tidak tahu, yang ada dalam pikiran istrimu, dan yang terjadi di balik pengetahuan kamu."
hal yang aku tidak tahu, tetapi Rinna pasti tahu.
Rumah ini terasa penuh, saat aku masuk di dalamnya. musik mengalun segar dan berani, sebuah lagu disco telah di putar. di luar, angin malam yang basah terus berputar di ruangan yang kian menghitam. Rinna mabuk tergeletak di sofa bagian belakang, di temani teman-temannya yang berjoget suka ria di bawah lampu kelap kelip. sedangkan teman lainnya terus minum anggurnya dengan penuh semangat.
bagai halilintar dari cakrawala sana, ku sambar tangan Rinna, ia yang masih setengah sadar langsung tersentak dan bangkit dari sofa. di tengah cahaya remang, mataku memperhatikan sosok ibu tiriku yang satu ini. dia sempoyongan dengan mata sayu yang hampir tertutup sepenuhnya sementara tangan kirinya masih kokoh memegang botol anggur.
bila melihat cara dan sikap tubuhnya sekarang, tampak dengan jelas dia sudah mengadakan acara disco ini agak lama, bahkan mungkin sudah minum yang banyak pula. namun bila memperhatikan akal sehatnya, nampaknya ia memang tak memiliki karunia dari Tuhan khusus untuknya sebagai manusia. bagaimana seorang perempuan yang sedang hamil mampu minum minuman keras sambil joget-joget eksotik? aku tak tahu. Tapi, malam ini aku mendapatinya secara langsung.
"Kamu yang mengadakan acara ini? sedang hamil tapi minum-minum!"
"Siapa?" sahutnya sambil tersenyum. "Oh, Damian."
"Kamu sudah mabuk, memangnya apa yang ada dalam pikiranmu?!"
__ADS_1
"Apa perduli kamu?" Tanya Rinna. "Ayahnya saja tidak peduli, mau anak ini mati juga tidak masalah. dia hanya anak perempuan! beda dengan kamu, kamu anak laki-laki, kebanggaan untuk ayahmu!"
"Mau bagaimanapun, dia adikku," jawabku sesingkatnya.
"Bohong. kamu membenciku. kamu itu tak ada bedanya dengan ayahmu," sangkalnya. "Dulu saja saat tahu aku hamil, dia begitu menyanjung ku sampai setelah dia tahu bahwa anak ini adalah perempuan. dia berubah! sampai aku di paksa untuk membawa kamu kembali lagi ke rumah ini agar tak di ceraikan olehnya. dan sekarang kamu sudah kembali, maka anakku ini sama sekali tak ada nilainya di mata ayahmu itu!"
"Kamu rela melakukan apa saja demi kehendaknya, salah satunya minum anggur dan memanfaatkan kebaikan Elia... " Aku tertawa kecil.
"Mungkin juga, dalam perjodohan dan keputusan Elia meninggalkan aku, kamu juga mengetahui alasannya? karena kamu bersikap fanatik terhadap kehendak ayah."
"Benar, tapi tidak sepenuhnya. yang aku tahu terakhir, ayahmu menghubungi gadis itu diam-diam. dia yang minta agar Elia yang meninggalkan kamu, agar hutang ayahnya lunas total. ku rasa istrimu tak punya pilihan, sama seperti saat dia menerima untuk jadi pengantinmu untuk menebus hutang." Rinna tertawa kecut,
"Lucu sekali kan? aku dan istrimu memiliki kerelaan mengorbankan apa saja untuk sesuatu, ha ha... " katanya sambil meletakkan tangannya di depan bibir meniru gaya gadis elegan saat tertawa.
"Itu sungguh konyol. jangan menyamakan dirimu dengan istriku, kalian jauh berbeda. istriku tidak sejahat kamu, sampai rela mau membunuh anak sendiri!" kataku dan segera berlalu.
Sementara Rinna diam di tempat sambil menunduk, menanggung beban derita karna menjadi pendamping ayah. menjadi perempuan dan ibu paling jahat.
__ADS_1
tanpa basa-basi dan membuang waktu, ku injak pedal gas dalam dan segera menuju tempat Elia tinggal sekarang. di Rumah mertuaku. saat di sana nanti akan ku peluk ia erat-erat lalu ku katakan padanya betapa aku menyesal, dan sangat merindukan dia.
...****************...
Hai ini author 🙋
-
-
-
-
Gapapa cuma nyapa doang~
(beberapa hari ini sering kena revi*w manual, padahal up tapi lolos hari besoknya, gaoaoa sumpah gaoaoa, gomennasaiiii(┬┬_┬┬))
__ADS_1