Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Lambang Kemunafikan Paling Sadis


__ADS_3

"Dengan begini semua berakhir." jawabnya, tersenyum.


"Kamu bicara apa? Apa yang kamu lakukan El? ini berharga sekali untukku, hadiah ulang tahun pertamaku! Kalau ada masalah, atau aku berbuat salah tolong bicara saja, jangan merusak ini."


"Aku lelah, aku rasa sudah waktunya berhenti. aku ingin kita berpisah pak Damian."


aku terdiam sambil menatap wajahnya lekat-lekat. kemudian ku alihkan pandanganku sambil memungut sobekan-sobekan kertas yang terhambur di lantai. hampa, perih dan sakit. kini, aku tak berani membayangkan jika yang dia ucapkan adalah kesungguhan. aku tak bisa membayangkan bagaimana jika aku berpisah dengannya, mampukah aku terus hidup? tak bisa. dan seandainya bisa, aku tak tahu bagaimana caranya.


"Maaf, aku salah ya tadi? maaf aku tadi sedikit membentak. sudah ya?! tidak apa-apa, nanti aku perbaiki gambarnya. aku punya lem kertas, di mana ya aku letakkan terakhir. tunggu sebentar... " ujarku mengalihkan topik, sambil membongkar meja dan laci lemari mencari lem yang ku maksud, meskipun sebenarnya aku pun tak tahu apakah aku benar memilikinya atau tidak.


"Aku akan pulang sendiri ke rumah orang tua ku, Pak."


"Elia!! cukup! okey? aku tahu kamu marah dan sakit hati karna ucapan ayah. tapi tolong, jangan bicara macam-macam. ayah memang kasar, kamu ingatkan aku pernah di anggapnya mati? jadi biarlah kita menjauh dari mereka, asal kita selalu bersama. kita akan baik-baik saja." sergahku dengan nada sedikit marah.


"Tak ada yang salah dari ucapan ayah." ia terdiam sejenak, lembut menatap ku. "dari awal, Aku dibeli untuk merawat pak Damian karena bapak jauh dari keluarga, dan sekarang aku sudah membawa pak Damian kembali ke rumah ini. karena itu tugasku untuk merawat sudah selesai. jadi biarkan aku pergi, hubungan kita... cukup sampai di sini saja."


aku diam, diam beberapa waktu. di lubuk hatiku yang paling dalam, betapa aku tak ingin mempercayai semua ucapan Elia. aku kecewa dan hancur, semua berlalu begitu cepat seakan aku tersambar kereta yang berlalu. mati di hantam nya. Ku coba untuk menepis kata-katanya, namun semua yang dia ucapkan masih terngiang jelas di telinga.


aku memahami, sudah terlalu lama Elia bertahan, sudah terlalu sabar ia mendampingi. bahkan disaat ia diperlakukan tak baik oleh orang-orang terdekat ku. aku tahu dia mungkin lelah, di balik sikapku yang masih tersisa pesimis dan mudah menyerah. aku memang belum menjadi suami yang baik untuknya, aku yang tak bisa mengambil keputusan, aku yang tak mampu bertindak tegas, dan aku yang masih butuh uluran tangan orang tua. ku pikir memang aku lah yang bersalah untuk ini semua, tetapi...


"Tugas?" jawabku sambil melotot. "Dari awal pernikahan kita ini semua tentang tugas? karena itu kamu selalu mengatakan kewajiban, kewajiban, kewajiban? bukan tentang cinta?"


"Benar."


Elia tersenyum, tak ada beban. seakan tak ada sebersit empati nya padaku atas apa yang dia ucapkan.

__ADS_1


"Kamu tak memiliki perasaan apa pun padaku? tak ada cinta? walau hanya sedikit?" kataku kembali. sekedar untuk memastikan bahwa ia bersungguh-sungguh atas ucapannya.


"Semua perhatian, kasih sayang dan hadiah. itu semua hanya karena tugas?"


dan lagi, dia tersenyum, menatap ku dengan ekspresi teduh. "Benar."


aku segera memeluknya, mencium dahi nya bertubi-tubi. dan dia pun tenggelam dalam dadaku, menggambarkan gairah cinta yang ku miliki demikian hebatnya. aroma harum rambut dan tubuhnya tercium oleh hidungku dan masuk ke dalam diri.


Aku tak ingin berpisah, bukankah itu yang kami yakini dari dulu? bahwa apapun yang terjadi, asal kami terus bersama, dan aku dapat terus memiliki Elia. maka hidupku ini akan terus terjamin keberlangsungannya, dia laksana udara yang ku hirup, jika tak ada dia maka aku akan mati.


"Kamu bercanda, sayang. sudah ya? aku tahu hatimu sekarang sedang terluka. karena itu kita bersiap agar bisa pergi secepatnya dari sini. aku sungguh minta maaf. aku mencintai kamu, hanya kamu satu-satunya gadis impianku." kataku berbisik.


namun setelah itu, dia menyentak tanganku dan mendorong tubuhku dari sisinya. "Lupakan lah Pak Damian, aku lelah terus berpura-pura kuat."


Aku hanya diam, membisu. ternyata semua ini berakhir dengan serius. ku tatap ia, dan ia menatap ku kembali. tak ada keraguan sedikitpun di bola matanya, dia membara seperti biasanya. mungkinkan yang ia ucapkan adalah benar? dia tidak sungguh mencintaiku? semua perhatian, pengorbanan dan kesetiannya tidak lain dan tidak bukan hanyalah bagian dari tugas yang diberikan oleh ayah padanya.


Tiba-tiba aku terkenang pada masa-masa yang telah kami lalui bersama, kini aku tersadar, dan aku merasakan diriku sungguh bodoh. aku telah terperdaya oleh seorang gadis SMA, siswi ku sendiri. setiap kata-kata manis yang dia ucapkan, setiap perhatian dan kasih sayang yang dia berikan tak lebih dari siasat untuk mengelabui hatiku.


rupanya dia hanya menjadikanku alasan untuk meringankan beban hutang keluarganya.


"Mengerikan, kamu sungguh mengerikan Elia! kamu bahkan tak ada bedanya dari keluarga ku, kamu jauh lebih buruk dari yang terpikirkan olehku."


kepribadian dan kecantikannya yang selalu ku puji dan ku banggakan, kini jatuh menjadi citra penipuan terencana berkedok cinta, lengkap dengan tindakan dan kata-kata indahnya.


"Hebat, kamu adalah lambang kemunafikan paling sadis yang pernah ada. berlagak seakan kamu lah penerang dan penyelamat. padahal kamulah sumber bencana dan sakit hati yang paling menyakitkan. enyahlah! pergilah dari hidupku. pergilah ke mana pun kamu mau!!!"

__ADS_1


dia menarik tasnya di lantai. selanjutnya berpamitan padaku, semula dia ingin memeluk dan mencium tanganku, namun kemudian dia urungkan, mungkin menimbang perasaanku.


"Terima kasih pak Damian, selamat tinggal." ujarnya.


dengan berat hati, perlahan-lahan ku coba melepas dia dari hidupku. seharusnya aku tahu dari awal, kalau akan sakit begini. mana ada gadis yang mau menikahi pria putus asa, dan tak memiliki gairah hidup seperti ku? hanya asa... aku saja yang bermimpi berlebihan.


kemudian dia menghilang dari balik pintu dan pergi jauh meninggalkan aku di sini. aku tak tahu seperti apa takdir, hanya saja di lubuk hatiku yang terdalam, aku berharap ini hanya mimpi... mimpi yang ingin secepatnya ku akhiri, bangunkan aku. sebab aku tak bisa membohongi, mau sakit bagaimana pun...


aku sangat mencintainya.


...****************...



Ini pesan untuk kesayangan kita.


Hai dek Elia? kamu sudah capek ya? pasti capek banget kan?


Dedek Elia tersayang kita, secara pribadi author tidak berani menjudge pilihan dek Elia... entah benar atau salah, author tahu dek Elia sudah bertahan dan berjuang sehebat ini untuk a' Dami.


ada suatu waktu, seorang wanita akan lelah. author yakin dek Elia cinta sama A Dami. author do'akan yang terbaik untuk pernikahan mereka, semoga bisa di pertahankan ಥ_ಥ


Kamu kuat dek, kami percaya kamu bukan gadis munafik dan mengerikan. author harap semua yang kamu ucapkan bohong, kamu gadis baik-baik dan tulus, hanya saja kamu pasti lelah... sudah banyak kamu berkorban dan berjuang. hinaan, di bentak, di manfaatkan, dan di rendahkan... kamu kuat, kamu hebat.


A' Dami kamu coba berpikir jernih ya? dan coba mulai evaluasi diri... kamu pria dan kamu juga kepala rumah tangga. jangan selalu merasa tak mampu berbuat apapun sampai harus berharap dari ortu. sederhana saja asal bahagia, kamu mampu dan kamu bisa!! Fighting kami mencintai kalian.

__ADS_1


Love,


Author Sanskeh


__ADS_2