Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Makan Malam Perayaan


__ADS_3

Karena kemarin malam adalah ulang tahun Elia, aku berencana untuk mengajaknya makan malam di warung pinggir jalan tak jauh dari rumah kami untuk merayakan pertambahan umurnya, meskipun Kecil-kecilan.


kami pergi makan malam jalan kaki. jalan-jalan ramai dan udaranya sedikit lebih dingin dari malam kemarin. Lampu-lampu jalan menyala terang, demikian pula lampu di rumah-rumah penduduk, sehingga desa ini terlihat seperti lebih ramai layaknya orang berpesta. Elia berdiri di sampingku sambil menggenggam tanganku lembut.


"Terima kasih pak Damian," katanya malu-malu.


"Untuk apa?"


"Mengajakku makan malam di luar untuk merayakan ulang tahun."


"Kita makan malam di warung biasa, jangan berlebihan ya! aku tidak enak."


"Ini semua lebih dari cukup, karena di temani pak Damian."


suaranya sungguh sangat menenangkan ku. bagaimana mungkin perempuan se-aktif itu bisa selembut ini? ah, seandainya... bagaimana mungkin dia bisa senang makan di tempat biasa hanya karena dia menginginkan aku menemaninya? itu tidak istimewa, karena dia sudah terbiasa makan di rumahku. tapi malam ini, ya Tuhan, dia berdandan hanya untuk makan malam denganku!


kami berhenti di sebuah warung makan di ruang terbuka dengan suasana tenang. aku memilih di duduk di meja ujung sekali, jauh dari pengunjung yang lain. suasana malam ini terasa sangat pas, meskipun hanya dengan outlet kecil namun sang pemilik sangat memperhatikan kenyamanan pelanggannya. ia memutar musik dengan sound system kecil.


pemandangan malam terbentang lebar, seakan perayaan kami berlangsung di bawah restu bintang-bintang. pertama kali ku nikmati makan di luar rumah, dan sepertinya ini tak terlalu buruk. bahkan jauh lebih menyenangkan. mungkin karena bersama dengan gadis istimewa yang malam ini cantiknya tak terkira.


"Kamu cantik sekali, Elia."


"Aku memang selalu cantik," jawabnya lembut penuh percaya diri. "Terutama di hadapan pak Damian."

__ADS_1


musik mengalir, iramanya bening menyerupai tetesan hujan yang datang. aku mendongak ke atas. langit begitu cerah, bintang-bintang berserakan mengelilingi bulan yang bulat penuh. berapa abad usia semesta ini? Tuhan, lindungi aku dari segala yang menakjubkan! angin malam berdesir masuk, menggerak-gerakkan syal Elia dengan sentuhan yang lembut. dia berseri-seri dan tersenyum.


"Aku suka dengan mata pak Damian saat memandang langit begitu. sangat syahdu seakan mensyukuri dan menikmati suasana alam," katanya dengan memasang mata berbinar.


aku mengalihkan tatapan ku ke luar sana, memandang malam yang legam.


"Seperti bulan yang jernih malam ini," dia tersenyum. "Aku sangat menyukai hadiah yang kemarin malam di berikan pak Damian."


aku terdiam, seketika wajahku memerah. saat ku ingat-ingat lagi pertemuan bibir kami di pergantian malam kemarin, malu dan mendebarkan sekali.


"Saat itu, apa yang pak Damian rasakan?"


"Tidak merasakan apa-apa," jawabku, meski kenyataannya saat itu pikiranku di penuhi ilusi-ilusi sensual tentang dirinya.


Aku mengangguk, mengangguk untuk menjaga gengsi ku.


"Kalau cium lagi bagaimana? untuk memastikan."


hancur aku bagai segumpal batu yang meledak berkeping-keping menjadi jutaan bintang yang berputar-putar terus, sampai kemudian pelayan datang membawa kopi dan teh melati, serta dua piring nasi ikan bakar dan sup miso. ku nikmati kopiku, hangatnya mengalir ke seluruh tubuh. dia menikmati teh nya sambil meniup sesekali permukaan airnya.


entah kenapa, angin berdesir lebih hebat dari biasanya, mengepung ku dengan hawa dingin yang membuat merinding. perasaan ini berdebar dengan hebatnya mengalun bersama dentuman musik dan tiap katanya yang menyiksa.


"Pak Damian diam saja? apa yang di pikirkan? kita memesan makanan yang lebih mahal ya? melebihi uang yang kita punya sekarang?"

__ADS_1


"Uhuk! uhuk!" Aku tersedak, bulir-bulir kopi berhenti dan bersemayam di tenggorokan ku, terasa sangat gatal di dalam ketika mendengar kekhawatirannya, "Tidak, ini masih terjangkau."


"Ah, maaf. soalnya pak Damian diam saja. aku khawatir jika karena tak enak, pak Damian jadi memaksakan diri."


aku hanya diam, hanya tersenyum simpul. sesungguhnya aku sedang salah tingkah tak berujung, aku pun tak memahami apa yang terjadi. dalam diri ini seakan ada pertengkaran hebat yang satu ingin segera memeluknya dan yang lainnya bertahan karena lingkungan.


"Oh, aku ada sesuatu untuk pak Damian."


dia membuka tasnya dan mengambil sebuah kertas. "Aku mendapat nilai 74 untuk kuis sejarah kemarin."


Ku ambil kertas itu dari tangannya. betapa aku bangga dan bahagia, sebab pelajarannya selama ini tak sia-sia. "Bagus sekali! kalau begini terus aku yakin ujian nanti akan berjalan mudah."


"bukan itu saja yang seharusnya pak Damian lihat!" hardiknya. "Bacalah tulisan tanganku pada sisa halaman terakhir kertas jawaban."


ku baca tulisannya di balik nilai, tulisan yang bagus namun sulit ku baca, entah karena lampu di sini yang redup atau mataku yang kurang sehat. dengan susah payah ku baca huruf demi huruf, kata demi kata dan baris demi baris. semula ku pikir isinya catatan tentang jawaban, tapi ternyata sebuah pesan; pesan yang sederhana namun indah. ku baca pesan itu, di bawah pengawasan matanya yang menyala-nyala seperti malaikat maut. tapi sebelumnya ku teguk kopiku terlebih dahulu:


Saat seseorang mencintaimu, mereka tak harus mengatakannya. Kamu akan tahu dari cara mereka memperlakukanmu.


aku terhanyut oleh maknanya yang menggetarkan. jiwaku terasa penuh, dan hidupku menjadi luas tak terbatas. segala yang keruh dalam perasaanku tersaring sedemikian rupa hingga tinggal menyisakan suasana sederhana yang jernih, semacam kata hati yang tak semata-mata, melainkan kata hati yang di dukung suatu kesimpulan yang lahir dari perenungan yang panjang.


meskipun aku hanya mendapatkan ini darinya, sebuah kalimat singkat namun penuh makna yang membuatku ikut merenung. bahagia sekali mendapatkannya, sehingga melipatgandakan rasa syukurku atas pengetahuan yang di berikan olehnya ini.


"Terima kasih,"

__ADS_1


__ADS_2