Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Rasa Sakit dan Cinta Pasutri yang Tersudut


__ADS_3

Di sekeliling kami suasana sekolah yang lenggang membentangkan kesunyian, para wali dan orang tua siswa berdatangan untuk menjemput karena hujan. siang yang sunyi menjadi latar yang kokoh dan lembut, dengan hujan deras di sertai kilat-kilat kecil dan angin berhembus. bunyi air yang berjatuhan di atas atap dan tanah mengalun menghadirkan irama yang melingkar-lingkar bagaikan nafas di dalam dada. kami masih saling memandang, dia masih memegang bunga itu kuat, senyumnya yang terpaksa menari-nari bebas di pantulan mataku.


"Aku ingin membuang bunga itu, karenanya ku bawa sekarang." ucapku.


"Terima kasih," ucapnya. "Aku tak tahu alasan pasti pak Damian ingin membuang bunga ini, tapi ku ucapkan Terima kasih, karena niat pak Damian itu sudah cukup mengobati hatiku ini... " timpalnya kembali.


Dia melempar senyum padaku, walaupun binar matanya tak dapat berbohong. angin kembali menghambur dari depan laksana amukan maut yang mematikan, menghantam kami begitu hebatnya. baju dan rok sekolah Elia bergoyang-goyang, juga rambutnya yang legam bagai malam. matanya berkedip-kedip. di lalu menutup mukanya sebelah kanan dengan kedua telapak tangan. sekolah basah oleh hujan, kami basah oleh hati kami yang rasanya ingin meledak.


Karena tak tahan melihatnya yang kedinginan dan kondisi sekolah sudah sepi, segera ku tanggalkan rompi rajut yang ku kenakan. kemudian menghampirinya lebih dekat. namun, ketika hendak ku pakaikan padanya, dia kembali menghalau pergerakan tanganku.


ku tatap dia, dan dia hanya membalas ku dengan senyuman simpul yang dingin.


"Tidak perlu pak Damian, ini masih di sekolah. jangan sampai semuanya jadi lebih rumit, kan?"


air mata kembali memenuhi matanya. dia menundukkan kepala sambil mengusap kelopak mata dengan jari jemarinya. sementara hujan terus menderas, saksi mata sebuah sejarah yang membuat hati ku terasa hidup kembali, karena kini aku merasa memiliki simpatik dan rasa sakit.


"Jangan menangis."


"Tidak... aku hanya terharu saja pak Damian, aku hanya tenggelam dalam renungan hubungan kita yang rumit ini. seandainya pak Damian tidak berbaik hati memikirkan diriku, mungkin aku tak akan merasakan kesedihan yang tak terhindarkan ini. andai pak Damian tidak memperjuangkan masa depanku, mungkin aku tak akan berdiri di sini dengan wajah menyedihkan seperti sekarang. aku sangat berterima kasih, Terima kasih sudah melakukan ini untukku. aku akan mendukungmu dan coba untuk menerimanya... "

__ADS_1


"Elia... "


"Pak Damian, aku minta maaf karena langsung datang ke depan kelas begini. seharusnya memang menunggu di perpustakaan lama, tapi aku harus secepatnya pergi ke rumah Ummi untuk belajar kelompok, jadi aku mau sekalian minta izin dengan Pak Damian untuk pergi sekarang, maaf tidak bisa belajar tambahan hari ini, maaf tidak bisa buatkan makan siang."


matanya menoleh ke kanan dan ke kiri, mengamati sekeliling kami, enggan sekali untuk menatapku. namun aku memahami, bahwa ada rasa tersiksa di saat ia mencoba untuk menerima. tenanglah Elia, aku akan cari jalan keluar lain secepatnya.


"Sekarang? Hujan-Hujan begini?"


dia mengangguk, mengangguk kecil, demi menjaga gesture tubuhnya yang sekarang.


"Baiklah, biar aku antar. kamu tunggu di sini, aku akan mengendarai mobil ke sini."


"Walaupun dekat, Kamu bisa sakit kalau hujan-hujanan."


"Aku sudah terbiasa mandi hujan... " Elia diam sejenak menggantung ucapannya sambil membuang muka, "Lagi pula, akan menambah masalah jika Ummi melihat pak Damian mengantarku..."


ku tarik tanganku yang ingin menggapainya.


aku benar-benar dalam dilema. di bakar rasa bingung yang amat sangat. ku pijat-pijat lembut kening. andai dan seandainya cinta dapat di selesaikan secara terapis seperti pergerakan dalam bidang kesehatan tradisional, aku cukup menyelesaikan persoalan ini dengan memencet-mencet bagian yang sakit. tapi, cinta jauh lebih rumit dari itu; setiap denyut dan gejalanya, setiap kehendak dan akibatnya selalu saja tak terduga.

__ADS_1


namun tiba-tiba, belum sempat aku memberi jawaban;


"Aku pergi sekarang ya, pak Damian." katanya memekik, seraya meninggalkan aku.


Kemudian dia menghilang di tengah guyuran air hujan dan pergi jauh membawa semua rasa sakit dan cintanya. aku hanya bisa menatap punggungnya, punggung yang sedikit terlihat dalamnya, karena seragam putihnya jadi transparan. beruntung, masih ada kaus coklat yang melindungi.


...****************...


Hai kak, ini Author πŸ™‹


apa kabar? he he sudah ada novel baru lagi... Terima kasih sudah membaca sampai Bab ini, author sangat senang. novel ini terdiri dari bermacam-macam suasana, ada senang, sedih, malu-malu, kesal. semua deh! Tapi masih enak di baca, kan? He he he...


Apa yang paling enak dan di nantikan bulan ini?


jangan lupa mempersiapkan diri untuk beribadah ya! author ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa beberapa hari ke depan bagi yang menjalankan xixi, semoga ibadahnya lancar dan di berikan kemudahan ya!


Hindari dehidrasi! makan-makanan yang sehat dan jangan kurang asupan, Jadikan hari ini sebagai pengalaman yang berharga, jaga kesehatan selalu, karena dengan pemikiran seperti inilah, kita bisa melewati hari-hari dengan baik. karena dalam kondisi apapun, kita harus menghargai tubuh dan diri kita sendiri.


Salam sayang, dimanapun kalian berada, author mencintai kalian semua.. sampai jumpa di bab selanjutnya, dukung kami selalu ya!

__ADS_1


α••( ՞ α—œ ՞ )α•—


__ADS_2