Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Bocah Basket


__ADS_3

Di saat angin berembus dari laut bersamaan dengan matahari yang mulai Meninggi di tengah-tengah langit. Menyinari permukaan bumi begitu teriknya, warna hijau berseri menghiasi tanah yang membentang luas tak terhingga.


Di rumah ku yang sederhana terbuat dari kayu pohon jati berkualitas Warisan nenek, di ruang tengah sambil menonton televisi Di sanalah aku duduk santai sambil memperhatikan jam.


acara televisi siang ini cukup membosankan. namun aku tak punya hiburan lain. Air dingin yang ku siapkan pun sudah mulai berembun setelah lama ku diamkan. Ku perhatikan gelas itu sampai melamun, ilusi mulai menggerayangi pikiranku ada satu ingatan sentimentil yang membuatku sedikit melankolis. kejadiannya tak lama, tak lama dari hari ini ;


Di musim penghujan beberapa waktu lalu, aku terbangun melihat ladang yang tak menghasilkan apapun. semua yang ku tanam hancur lebur, gagal untuk ku panen. Padahal hanya kebun itulah yang menjadi sumber kebutuhan kami sehari-hari. Sedih dan rasa putus asa menyelimuti suasana hati ku seketika itu. dengan berat hati aku pulang dan menemui Elia, istriku. Kata-kata nya yang teduh menenangkan ku dari kegusaran.


Setelah itu, esok Malamnya Elia menyiapkan ubi rebus untuk cemilan, "Elia, tolong buatkan aku segelas teh hangat," pinta ku padanya.


Dengan langkah gemulai Elia membawa segelas teh hangat yang ku inginkan. Segera aku meminum teh itu sebelum kehangatannya mulai hilang.


"Kok, rasanya begini?" Kataku bertanya dan memandang Elia dengan tatapan sedingin es.


"Kita saat ini kehabisan gula dan bahan dapur lainnya, Pak Damian." jawabnya dengan lembut.


ku tatap lagi Elia, gadis berusia 18 tahun, Siswi yang ku nikahi hampir satu tahun yang lalu, Meski cinta kami yang penuh liku dan hubungan kami yang terbilang di larang sekolah. Namun, Aku sangat mencintai Elia begitu pula dirinya.


Meski kemiskinan datang menjerat kami berdua, Elia rela bertahan dan menyisakan hidupnya bersama Dengan ku hingga Hari ini detik ini. Dengan rasa rendah hati aku meminum teh buatan istriku ini.

__ADS_1


Karena malam telah menyelimuti, Elia beranjak dari tempat duduknya dan meminta izin untuk beristirahat terlebih dahulu.


Aku terduduk membisu memandang gelas ku yang kosong, hingga saat ini Aku merasa bahwa menit-menit yang berlalu pada saat itu adalah menit-menit terpanjang dalam hidup.


Detik-detik berjalan dengan sangat lambat, jedanya bagaikan seumur hidup. Terlintas di pikiranku hidup berbahagia selamanya. Melihat ketabahan dan senyuman Elia membuat ku makin bersemangat melawan kerasnya dunia. Suka, duka, dan cinta ikhlas dijalani. Meski, hasilnya akan terkubur di dalam tanah pada suatu hari nanti.


Akhirnya, aku teringat pada kertas yang di titip kan Rinna pada Elia. lantas dengan setengah hati, ku beranikan diri untuk mengangkat gagang telpon dan ku hancurkan harga diriku saat itu. melawan takdir yang ku tolak, untuk kembali lagi pada ayah. namun, aku tak punya pilihan. Elia harus ku berikan kehidupan yang layak.


Dan kini ku rasakan hasilnya, kami mulai merasa longgar dan bisa menjalani hidup lebih tenang. tak ada lagi kekurangan juga tak ada lagi masalah dalam hal keuangan. karena itu Sepertinya, ini bukanlah langkah yang buruk. Demi Elia, aku akan melakukan apapun...


Denting jam dinding menyadarkan ku dari lamunan, hingga ku lihat jam sudah menunjukkan pukul satu siang. aku pun segera bangkit untuk bersiap dan berangkat ke sekolah menjemput Elia, sebelumnya aku sudah menghubungi Donny juga untuk bertemu di ujung jalan.


Sampailah aku di ujung jalan dekat sekolah. aku berpenampilan hati-hati, begitu turun dari bus, lebih dulu aku bertemu dengan Donny agar tidak mencolok. tempat seperti ini, dalam pikiranku, jika terlalu buka-bukaan menjemput Elia bisa membuat heboh satu sekolah lagi. Kepala bisa benjut karenanya.


"Jangan ambil pusing, syukurlah kalau semua berjalan baik." ucap Donny sambil menepuk pundakku.


mataku menjelajah, menerawang jauh ke depan. mencari-cari dimana Elia berada. adakah istriku itu di depan gerbang? Aku tahu, aku akan segera mengenalinya, karena tampangnya yang riang dan tatapan matanya yang tajam mirip todongan pistol rakitan terekam jelas di benakku. tapi tak ku dapati ia. mungkin sedang ke toilet. aku pun kembali pada Donny, sahabatku.


"Setelah Elia lulus, kami akan pindah."

__ADS_1


"Benarkah? Kemana?"


"Ke kota, ikut orang tua ke sana."


"Aku mengerti, aku dukung selalu pilihanmu."


aku kembali menerawang ke depan sekolah. dan betapa terkejutnya aku melihat Elia telah berada di sana, di depan gerbang. bersama seorang siswa yang, dalam pikiranku, terlalu tampan untuk ukuran anak Sekolah di desa pinggir gunung seperti ini.


Siapa lagi kalau bukan bocah basket. entahlah, aku lupa siapa namanya.


...****************...


Halo ini author ๐Ÿ™‹


cuma mau ngasih tau bocah basket yang di maksud si a'a dami itu yang ini ges โฌ‡๏ธ


4. Zack


__ADS_1


iyaa itu... ganteng kan? makanya a'a dami ketar ketir.


btw maaf kemaren ga update kak, sengaja ngilang biar di cariin ๐Ÿ’”โ˜บ


__ADS_2