Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Cobaan Besar Kepala Keluarga


__ADS_3

Demikianlah, akhirnya kami menjalani hari-hari setelah foto mesra itu tersebar. Elia tetap melanjutkan sekolah meskipun terkadang aku kasihan terhadapnya, namun dia tak pernah memberiku celah untuk merasa iba. sebab, dia selalu menjelaskan bagaimana ia dan sahabatnya Ummi belajar bersama di perpustakaan untuk persiapan ujian. syukurlah, setidaknya aku bisa tenang.


selama menganggur, aku tak tinggal diam. semua lamaran kerja di kantor-kantor kecil terdekat sudah ku masukkan, bahkan sekolah lain juga tak luput dari incaran. meskipun akhirnya ku sadari, nampaknya namaku sebagai pengajar sudah tercemar karena berita itu seperti telah menyebar di belakang layar.


yang bisa ku harapkan hanyalah panggilan kerja dari kantor percetakan kecil di ujung perbatasan antara desa ini dan ibu kota. meskipun, asa itu pula terlihat semakin jauh untuk ku capai. Beruntung, aku masih memiliki tabungan di bank. tetapi, sekali lagi. kami tak bisa hanya berharap dan mengandalkan di situ saja, sebab sesuatu yang di pakai terus menerus tanpa ada gantinya juga lama-lama akan habis, sama seperti uang.


Beban ku terasa sangat berat, meskipun sebenarnya aku telah mengalami hal ini sebelumnya, saat pertama kali aku tinggal disini. saat itu aku juga menganggur dan tak punya penghasilan. hanya saja sekarang, aku tak bisa bersantai dan bersikap tenang, sebab aku telah memiliki tanggung jawab untuk menghidupi dan memberikan penghidupan yang layak untuk istriku. karena itulah selama itu pula, aku membantu Elia untuk membereskan pekerjaan rumah sambil menunggu-nunggu panggilan kerja.


aku memasak untuk makan siang dan mencuci piring dan peralatan makan yang telah ku pakai. menjemur pakaian, menyapu halaman. semua ku lakukan. malu? sudah pasti, tak perlu ku jelaskan tentu semua orang mengerti.


Kemudian setelah memasak, sekitar pukul Dua siang aku akan menjemput Elia pulang secara diam-diam sampai keadaan sekolah cukup sepi.


Aku parkir di ujung lorong agar tak terlihat mencolok, dia melambai tangan saat keluar dari gerbang sekolah sambil berlarian, dan aku tersenyum dari dalam mobil.


"Maaf ya, kamu pasti kelelahan setiap hari harus menunggu satu jam lebih lama." kataku saat Elia masuk.


dia terus tersenyum sambil menyeka keringat.

__ADS_1


"Tidak masalah, aku menunggu sambil mengerjakan latihan soal. jadi tidak terlalu berat, Pak."


aku duduk terdiam, menyimak ceritanya, sambil menikmati kecantikannya yang menggetarkan ku. angin sore berembus, masuk melalui kaca jendela mobil ku yang sedikit terbuka, mengirim hawa sejuk. matanya menerawang jauh, dengan pandangan yang khidmat, seakan dia adalah pemikir tua bangka yang senang belajar. ia meneguk air yang ku bawa, masih dengan caranya yang khas.


hingga satu hal ku sadari, saat poninya kacau balau karena gerakan kepalanya yang mendongak, ku lihat plester menempel di sudut kiri kepalanya.


"Apa ini?" kataku sambil meraih plester di wajahnya, namun dengan cepat dia menghalangi.


"Bukan Apa-apa pak Damian! aku sedikit ceroboh saat pelajaran olahraga, sampai terkena lemparan bola baseball."


Dia tersenyum kaku, seakan menyimpan sesuatu. dia adalah pembohong yang buruk. tetapi aku akan tetap mempercayainya, karena Elia adalah istriku.


"Baik."


Ku injak pedal gas, pikiranku kacau balau. kembali lagi pada nasib ku yang menganggur, rasanya aku tak mampu bila harus pasrah begini saja, harus ada yang ku lakukan untuk mendapatkan penghasilan. kegundahan yang ku alami begitu mengganggu dan merasuk sampai aku kembali sulit untuk tidur, adakah cara lain agar aku mampu memenuhi tanggung jawab sebagai lelaki?


pada saat yang sama, ku ingat pula biaya tagihan ujian akhir Elia nanti. aku harus berusaha sekuat tenaga untuk melunasi nya. persoalan yang sangat berat. jujur saja, aku tak mungkin membayar dengan sisa uang di tabunganku, karena itu hanya akan mempersulit uang makan dan kebutuhan kami sehari-hari. ataukah aku harus memohon bantuan pada ayah? bodohnya aku, bukankah ayah sendiri yang mengatakan bahwa aku bukan putranya lagi? dia bahkan telah menganggap aku mati.

__ADS_1


mengenai itu, Tiba-tiba aku mendapat gagasan unik yang belum pernah kucoba : bagaimana bila aku bertani? aku masih memiliki panduan tentang tata cara bertanaman, selain itu pula aku pernah belajar teknik hidroponik, bagaimana bila berlanjut ke praktek yang lebih nyata? aku bisa menjual mobil ini untuk modal membeli ladang, bibit dan alat lain yang di perlukan seperti; pemberantas hama, pupuk, garpu tani, cangkul, dan seterusnya. bukan ide yang buruk bukan?


dengan semangat itulah, ku ungkapkan niatku pada Elia seketika itu juga.


"Elia, maaf... bagaimana jika aku tak bisa mengantar dan menjemputmu lagi ke sekolah?"


"Kenapa?"


"Aku ingin menjual mobil ini, untuk modal membeli ladang. aku ingin bertani... " kataku malu-malu.


namun, dia malah terharu, dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Pak Damian, maafkan aku. bapak jadi kesulitan begini karena kesalahanku."


"Hey!! ini bukan kesalahanmu." Sergahku, "Aku adalah seorang suami, dan kepala keluarga sekarang. aku tak bisa terus-terusan diam di rumah. kamu ingat dulu selalu mengatakan tentang kewajiban istri, maka sekarang aku harus melaksanakan pula kewajibanku sebagai suami. kamu tak masalahkan bila mobil ini ku jual?"


dia menunduk dan menggelengkan kepala pelan. momen ini begitu sentimentil, baginya dan bagi ku sebagai pejuang Nafkah.

__ADS_1


Aku hampir meneteskan air mata karena nya, bila kalian di posisi ini, jangan menyerah. Tuhan telah menyiapkan jalan bagi kita yang terus mencoba.


__ADS_2