
Pagi harinya aku segera pergi ke rumah Haris, dia adalah tetangga yang pernah meminta bantuan ku dulu saat ibunya sakit. Rumahnya tak jauh dari ladangku, dan ku dengar-dengar jagungnya telah panen minggu lalu. mungkin aku bisa datang padanya untuk meminta konsultasi tentang ujian praktik dan ujian akhir Elia.
sepanjang jalan aku berpikir, inilah saat dimana kesetiaan dan rasa tanggung jawabku sebagai suaminya sedang di uji. mampukah aku membantunya? bisakah aku bertanggung jawab untuk semua urusannya?
sesampainya di rumah Haris, aku langsung menyampaikan maksudku, setelah berbasa-basi sebentar, tentang film yang di tontonnya, di samping dia menanyakan keadaanku. walau aku orang yang sedikit kaku dan memang jarang untuk mengobrol dengan orang lain.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, ku pikir kamu juga makin produktif sekarang, karena sudah buka ladang akhir-akhir ini. itu artinya kamu sudah mulai berkembang ke ranah lain... "
"Aku sudah berhenti menjadi guru."
"Oh ya? Kenapa?"
"Kurang cocok saja."
"Sayang sekali, padahal kamu bergelar sarjana masa depan mu menjanjikan tapi kenapa memilih bekerja kasar. tapi tak apa, jika itu pilihanmu maka turuti kata hatimu, karna bekerja dari hati itu lebih menyenangkan. bagaimana apakah Kamu butuh bantuan untuk belajar bertani? atau, ada hal lain?"
"Begini, Haris. Simpanan ku di rekening bank sudah menipis, dan ladangku juga baru tanam. aku perlu pinjaman uang, untuk membayar tagihan listrik dan air. aku sudah menunggak beberapa bulan dan sudah jatuh tempo." kataku berbohong, aku tak bisa menyebutkan alasan sebenarnya. sebab pernikahan ku dan Elia memang belum di umumkan.
"Aku mengerti. hanya saja teman, aku sedang tidak ada uang. ibuku baru saja kontrol kesehatan di rumah sakit kota dua hari lalu dan pakai biaya yang cukup besar. coba kamu hubungi teman yang lain. masalahmu cukup pelik, tapi semoga bisa menemukan jalan keluarnya."
dengan cepat aku meluncur ke tempat Donny, sebenarnya aku berusaha untuk menghindari meminjam uang padanya karena mau bagaimanapun Elia dan Donny berada di bawah naungan sekolah yang sama. agak sedikit canggung saja...
sesampainya di rumah Donny yang mungil, teduh dan hangat. ku ketuk-ketuk pintu rumahnya berkali-kali, tapi tidak ada sahutan. mungkin dia sedang mandi, atau pergi, atau masih tidur sehingga tidak mendengar ketukan ku. ya, memang karena ini hari libur. aku merenung di beranda rumahnya, sambil menunggu Donny membuka pintu. matahari yang naik menampar mukaku. demi Elia aku sampai tidak menengok ladang. yang penting uang sekolahnya aman dulu.
__ADS_1
selang beberapa menit ku coba mengetuk pintunya lagi dan untungnya, kali ini ada jawaban.
dia keluar dengan kaus tidur dan rambut yang masih berantakan.
"Baru bangun?" kataku.
"Ha ha maaf, beberapa hari ini aku lembur karena membantu persiapan ujian praktek sekolah. jadi, hari libur ini adalah kesempatan ku untuk beristirahat."
"Maaf sekali karena mengganggu mu."
"Tidak sama sekali, untuk sahabat sepertimu aku tak masalah di kunjungi tengah malam sekalipun."
lantas setelah itu ku utarakan maksudku. seputar uang ujian praktek dan akhir Elia.
Donny masuk ke kamar tidur. aku menunggunya di ruang tengah sambil menonton acara televisi. acaranya kuis yang kurang menarik, hanya menebak-nebak harga barang yang di tunjuk. bila harga yang di tebak sama dengan harga aslinya atau mendekati, dia menang.
"Ini uangnya. jangan lupa belajar sampaikan pesanku padanya, ujian ini tidak main-main. apalagi suaminya sudah berjuang begini hebat untuk kebutuhannya."
"Terima kasih. soal pengembaliannya aku akan bertanggung jawab seusai panen nanti. aku janji akan mengembalikan tepat waktu."
"Aku memahaminya."
sesudah itu aku segera meluncur kembali ke rumahku di ujung kaki gunung untuk kembali menemui Elia yang menungguku di sana. usaha hari ini terpuaskan sudah, demi membuat dia berhasil dan bahagia. jujur ku akui, bahkan kalau aku hanya tetangganya yang tak akrab, aku akan tetap membantunya, karena masalah pendidikan yang pokok-pokok begitu harus di utamakan. seperti aku membantu Haris dulu.
__ADS_1
sesampainya di rumah dia tengah asyik duduk di beranda sambil merajut kembali sarung tangan.
"Pak Damian? pagi-pagi sudah pergi, Katanya ke ladang. tapi, waktu ku susul malah tidak ada."
"Maaf, aku ke tempat Donny untuk meminjam uang. agar kamu bisa melunasi iuran ujian praktik besok."
Elia tidak menjawab,
"Tak apa, aku akan mengembalikannya setelah panen nanti dan Donny pun mengerti. jangan bersedih, kita tidak berada di keadaan yang se-terpuruk itu tetapi memang uang belum bisa kita miliki sekarang. hanya masalah waktu saja... "
"Aku tahu." dia memelukku.
Tak terasa, hari ini berjalan lebih cepat. hari libur selalu terasa begini, seperti biasa. angin sore berembus. awan putih menggantung di langit. pohon ketapang telah melebat, sedangkan mawar putih yang kemarin ku petuk memunculkan putiknya lagi.
"Apa yang kamu baca?"
"Ringkasan bahasa asing yang di ajarkan pak Damian dulu. ingat?"
"hmm. rangkuman dari rumus-rumus penulisan berdasarkan waktu."
"Ingatan pak Damian bagus sekali. boleh tolong bantu ajarkan tentang bagian ini pak? aku sudah lupa."
aku memandangi bagian halaman yang ditunjuknya, kemudian menoleh lagi kepadanya. dia tersenyum.
__ADS_1
"Kemari, kalau soal begini jangan terlalu dihafal. ini sebenarnya mudah. tinggal masukkan bagian ini saja, dan kalau dia pakai kata kemarin, minggu lalu, tentang yang dulu-dululah, bukan waktu yang sekarang. berarti pakai penyebut untuk masa lampau."