
Malam begitu tenteram dalam keagungannya. sebuah bintang yang sendiri berjalan merapat ke arah kerumunan bintang di sekitarnya. bintang itu perlahan berbinar-binar dan tampak semakin tegar pada orbitnya di tengah alam semesta yang demikian luas dan gelap.
setelah mandi, Elia tertidur pulas. Dan aku duduk di sampingnya, sambil mengelus-elus keningnya. nampaknya ia sangat kelelahan. dari luar ada suara bibi Hera memanggil.
"Tuan, saatnya makan malam."
setelah dua tahun berlalu aku kembali pulang ke rumah ini. suasana hening kembali menguasai ku. aku masih duduk di samping Elia dan masih mengelus keningnya. dari kisi-kisi jendela, angin bertiup sepoi dan basah, mengusik tubuhku. ku ambil buku fiksi yang ku baca sore tadi. rasa penat hampir memadamkan seluruh seleraku. makan malas, apalagi baca buku. aku hanya bisa bermalas-malasan sambil mengelus Elia, dikutuk kesunyian yang mematikan.
tetapi, malam ini adalah makan malam pertamaku dengan ayah setelah dua tahun. setidaknya aku harus menghargai dan bersikap baik. bukankah aku yang ingin memperbaiki ini semua? baiklah, ku putuskan untuk turun ke bawah makan malam. tetapi aku pergi sendiri karna tak tega membangunkan Elia. biarlah nanti ku ajak ia makan kalau nanti sudah bangun.
Aku menutup pintu pelan-pelan agar Elia tak terbangun. lalu pergi ke meja di pojok ruangan dekat dapur. dan di sana sudah ada ayah dan Rinna, dari kejauhan aku tersenyum simpul, pemandangan ini jarang sekali ku dapati dulu.
"Duduklah," ayah menunjuk kursi di depanku, dan dia tersenyum. "Aku sudah meminta bibi Hera untuk mengambilkan kopi hitam untukmu."
"Terima kasih ayah." aku tersenyum simpul, rasanya tersentuh sekali.
"dan Maaf, Elia masih tidur. dia sangat kelelahan jadi aku tidak membangunkannya, ku harap bisa di maklumi."
Ayah menaikkan alis matanya sebelah kanan, "Oh, ya tak masalah." katanya sambil menikmati makan malamnya.
Aku mengangguk lalu ku tatap makanan yang ada di meja, bibi Hera menuangkan nasih ke piringku. aku lapar, sejak siang tadi belum makan. ku ambil makanan bagianku, aku pun memakannya dengan lahap. makan bersama keluarga,
"Besok malam kita di undang oleh rekan bisnis ayah untuk makan bersama," ucap ayah dari ujung meja sana. "Ini kesempatan yang bagus untuk memperkenalkan mu dengan kolega karena kamu yang akan meneruskan perusahaan kita nantinya."
aku hening sejenak, dalam hatiku aku bergumam rupanya ayah sungguh menerima kehadiran ku kembali. ayah mengajakku untuk memudahkan jalan di dalam kerajaan bisnisnya, aku gemetar seperti ia tengah memberi kado yang mengejutkan. sebuah anugerah.
"Aku tidak memaksamu, jika memang tidak ingin ikut. biar ayah dan Rinna saja yang pergi."
__ADS_1
"Aku akan ikut ayah, maaf."
pada malam ini kiamat hidupku akan ku putuskan, ayah tersenyum, disusul Rinna yang menggosok lengannya bahagia. aku juga berusaha tersenyum.
tak lama setelah itu, dari ujung muka pintu sana. ada sosok malaikat tak bersayap berdiri kebingungan, di tengah cahaya remang, mataku memperhatikan sosok cantik itu. wajahnya yang sekuning rembulan karena pantulan cahaya lampu masuk jelas dalam pandangan mataku, dia mengambil semua perhatianku. dialah Elia, rupanya dia sudah bangun. bibi Hera menyambutnya dan mengantarnya ke meja makan.
"Kamu sudah bangun? maaf aku turun sendirian karena tak tega membangunkan kamu."
"Tidak, tidak masalah pak Damian. maaf ayah, mama. aku tidak sadar kalau sudah semalam ini, maaf tidak bantu masak makanan."
Aku tertawa kecut, lalu ku raih pundaknya. "Kamu ini bicara apa? di rumah ini sudah ada bibi Hera yang masak dan beres-beres rumah. ayo, duduk dan makanlah bersama kami."
aku masih tak bisa menahan geli, saat Elia menyanggul kembali rambutnya. mungkin baginya ini adalah penampilan terbaik untuk bertemu dengan keluarga ku, aku senang sekali karena ia memiliki rasa hormat yang begitu tinggi. bahkan rela berdandan dulu sebelum turun ke sini, meskipun hanya untuk makan malam.
ku tarik kan kursi untuknya, dan ia duduk di sana. bibi Hera mengambilkan piring dan nasi, tetapi Elia menolak dengan segala kerendahan dalam hatinya.
"Ayah mau kemana?" kataku.
"Aku ada jadwal rapat sekarang, sudah telat 5 menit jadi harus segera ke ruang kerja sekarang. lanjutkan saja! aku harus pergi sekarang."
aku tersenyum kaku, lalu mengangguk pelan. dan perlahan ayah melangkah pergi meninggalkan kami, di lain sisi Rinna pun ikut mendorong kursi dan beranjak dari tempat duduknya.
"Ah, maaf ya Elia, Damian. perut mama keram, jadi mau istirahat di kamar."
kami mengangguk, dan Rinna pun pergi.
malam tiba-tiba terasa kian sunyi. ku tatap langit malam dari pintu kaca di samping, ada sebutir bintang yang menyendiri, jauh dari gugusan bintang di sekitarnya. bintang itu begitu murung, namun tetap tegar pada orbitnya. lalu ku alihkan lagi pandangan pada Elia di sampingku, barangkali ia tak jauh berbeda dari bintang itu.
__ADS_1
ku pandangi lagi dia. dia memandang kosong meja sambil menggigit sedikit bibir bawahnya. mungkin ia sedikit tersinggung dengan tingkah orang tuaku padanya. rasanya aku seperti disayat sebilah belati tajam.
"Sanggul mu sedikit kendur, Elia," aku berkata sekadar untuk menenangkan diri. dia tersenyum simpul dan dengan sedikit gugup, membetulkan kembali sanggulnya.
di saat itulah rambutnya tergerai, dan ku saksikan kecantikan yang lebih alamiah; garis wajahnya begitu seimbang dengan pahatan fisik yang sempurna. terpujilah Tuhan yang menciptakan makhluk secantik ini.
namun, di balik wujudnya yang menyala-nyala, terdedah ekspresi penuh duka. ingin rasanya aku memeluknya, walaupun hanya sekejap saja, sekadar agar ia tidak terlalu berat menanggung beban perasaan atas kehidupan keluargaku yang dingin. tapi, keinginan itu ku urungkan karena dia sudah membetulkan dandanannya. apabila aku memeluknya, sudah pasti dandanannya rusak.
jadi aku hanya bisa memegang tangannya erat.
"Keluargaku memang begitu, aku harap kamu tidak tersinggung. sejak dulu, aku sering mengalaminya. jadi ini bukanlah hal yang mengejutkan. maafkan ayah dan mama ya El?!"
Elia menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak tersinggung sama sekali, pak Damian."
dia meneguk air putih di depannya, kemudian lanjut melahap makan malamnya, meskipun di dalam matanya berkaca, aku tahu ia sedang tidak baik-baik saja.
aku meneguk kopi dan melanjutkan juga makan malamku.
"Kamu mau ayam goreng?"
"Tidak."
"Atau udang ini?" kataku. "sejak beberapa bulan terakhir kita sudah jarang makan begini. aku ambilkan ya? biar kamu senang."
"Terima kasih pak Damian."
"Oh, sebelum tidur aku ambilkan puding dan susu di kulkas. puding buatan bibi Hera tidak kalah enak, apalagi kalau di makan waktu dingin. segar sekali."
__ADS_1
Elia tersenyum.