Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Romansa Ketenangan


__ADS_3

Ku sandarkan kepala di sofa ruang tengah, mataku terpaku memandang langit langit yang polos. apakah aku ini bertingkah kekanakan? Entahlah, aku hanya kesulitan menepikan sedikit rasa yang menggerayangi hatiku sekarang.


tak lama kemudian, Elia datang membawa pesanan ku. secangkir coklat yang di campur kopi hitam.


"Kenapa duduk di lantai? tidak di sofa?" tanyanya sambil meletakkan coklat itu di sampingku.


"Begini lebih nyaman." jawabku singkat.


kami saling bertatapan lagi, saling bertanya-tanya barangkali ada yang tersembunyi, sesuatu yang tidak terduga. "Apakah kamu marah kepadaku? sudah pasti, kan? buktinya kamu dingin sekali. kejam," mungkin dalam pikirannya. dan kamu? akrab dan tersenyum bukan hanya padaku saja, apakah kamu memang seluwes itu? ataukah hanya pada si bocah basket saja? kenapa kamu bisa cantik sekali? aku menduga-duga di dalam hati.


"Pak Damian Marah?"


"Tidak."


"Minum Kopinya, jangan diam kaku seperti itu." katanya dengan mimik muka lesu penuh harap.


aku mengambil kopiku. lezat sekali, tidak seperti yang ku bayangkan. manis dan pahit menyatu begitu harmonis, aromanya lebih harum dan larutan nya pun kental sekali, seperti cream. oh, rupanya ada bahan rahasianya, dia mencampurkan kayu manis di dalamnya. lezat....


aku menatapnya lagi.

__ADS_1


tiba-tiba, tanpa gerakan yang dapat ku duga. dia naik ke kaki ku yang ku biarkan memanjang di lantai, tepatnya duduk di pahaku. dengan cepat, kedua telapak tangannya yang dingin menyentuh kedua pipiku dengan lembutnya.


"Tatap mataku!" tegasnya, "Coba katakan apa yang sedang pak Damian rasakan?!"


Aku meneguk saliva kasar, dan kami saling bertatapan lagi, namun dalam jarak yang lebih dekat dan lebih intim. saat kini ku rasai bagaimana rasanya saat Elia duduk di pangkuan ku. saat tubuhnya begitu dekat dalam jangkauan kuasa ku.


tanganku akhirnya bergerak, meski mulutku tetap diam. ku raih bagian belakang lehernya. ku dorong dia ke depan dan aku mendekat. bibirnya yang semerah buah naga tak mampu ku tahan godaannya. belum lagi, aku juga sangat marah, bibir ini lah yang nakal karena tersenyum dan tertawa pada pria lain begitu akrabnya. biar ku beri dia sedikit pelajaran.


ku ciumi wajahnya bertubi-tubi, berulang kali ia memohon agar aku menghentikannya.


"Sudah, sudah. cukup."


Elia hanya bisa pasrah saat aku terus menekan tubuhnya ke depan merapat pada dadaku. kami pun saling berciuman lagi, mula-mula dengan bibir, kemudian ke lidah. mungkin aroma kopi dan coklat pada lidahku terserap oleh lidahnya. kami berciuman lebih lembut, dalam gairah kopi dan coklat yang hangat menenangkan sambil terus ku mainkan tali celemek yang terikat di belakang lehernya.


pertama kali kami lakukan, sentuhan yang jauh lebih berani dan panas. tetapi enak juga...


di sekeliling kami suasana rumah yang lengang membentangkan kesunyian, cuaca yang tadi terik seketika mendung di penuhi awan gelap. siang yang temaram menjadi latar yang syahdu dan lembut, dengan hujan rintik-rintik dan angin berembus. andai saja di putar musik dalam piringan hitam itu, mungkin aku akan meraja di siang hari yang khidmat ini. kami masih saling berciuman. bibirnya terasa begitu kenyal dengan ukuran mini dan tipis, menari-nari pada bibirku dengan pasrahnya.


setelah merasa cukup, dan sebelum aku terbawa suasana lebih jauh. ku lepaskan lah sentuhan kami. ku coba bicara dalam suasana hati yang lebih tenang.

__ADS_1


"Kelihatannya kamu sangat akrab dengan bocah basket, ya?"


"Bocah basket?" Elia diam sejenak mengharap penjelasan lebih detail padaku, namun akhirnya Tuhan mengirimkan ingatan padanya lebih cepat, jadi aku dapat menghemat kata-kata.


"Maksudnya Zack?" sambungnya.


"Ya, mungkinlah. siapa lagi kalau bukan dia?!"


"Ya, kami memang sering mengobrol. aku sering meminta bantuan nya untuk melatih ku sebelum ujian praktik olahraga di mulai. tidak lebih. oh, juga saat sepulang sekolah tadi, sebenarnya aku berpikir untuk menunggu lagi di perpus lama karena kondisi sekolah yang sedang ramai-ramainya. tapi rupanya tak lama dari itu, Zack datang. jadi sekalian aku ingin mengucapkan Terima kasih karena berkat arahan dan bantuannya nilai ujian praktik ku nyaris sempurna."


"Bagaimana jika aku tidak percaya?"


dia diam sejenak, lalu melanjutkan. "Aku tidak tahu, tapi dapat ku pastikan bahwa aku tidak berbohong pada suamiku sendiri." timpalnya.


dia menatapku, begitu juga aku. kami saling melemparkan senyum. lantas ku peluk ia dengan penuh haru dan saling membenamkan diri. dan seperti biasa pula, ia menggosok-gosok punggungku begitu lembut memberikan kehangatan dan ketenangan.


"Aku cemburu sekali... " kataku pelan.


"Tidak masalah, cemburu itu tandanya cinta dan takut kehilangan. aku merasa senang, tetapi lebih baik lagi jika di ingat, bahwa aku sudah menjadi seorang istri, tak mungkin berkhianat."

__ADS_1


__ADS_2