Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Damian Akan Membuka Hati


__ADS_3

Dalam suasana yang mulai tenang, aku baru menyadari sosok anggota baru di rumah ini tak terlihat batang hidungnya, sejak pulang aku belum melihat Rinna di rumah ini.


"Dimana Mama?"


"Mama sudah pulang setelah ayah menelpon. tidak lama setelah pak Damian berangkat ke ladang." jawab Elia dari kejauhan sana.


Aku duduk di ruang tengah, sambil meratapi nasib. sesudah itu aku meluncur ke beranda di sana ada Elia yang duduk anggun sambil belajar seperti biasa.


ku hampiri dia, dan duduk bersila di sampingnya. ia tersenyum.


"Elia, kamu tidak lelah belajar?"


"Lelah, tapi tidak akan menyerah. karena pak Damian sudah susah payah mencari uang hanya agar aku bisa duduk di kursi dan menjawab soal ujian. aku tak akan menyia-nyiakan perjuangan kita."


"Kenapa kamu bisa begitu kuat dan tegar di saat kehidupan keluarga kita telah di terpa banyak musibah."


"Karena selama ini kita belum cukup kuat. kalau sudah terbiasa, hati dan pikiran kita pun akan luas saat kembali di datangkan derita. tidak lagi berpikir kenapa aku bisa begitu kuat? kenapa aku bisa tegar? tetapi akan berpikir tentang, mencari cara agar berbesar hati menerima takdir dan tetap mampu melewatinya dengan tenang."


Elia tersenyum mengambil tanganku dan menggenggamnya erat-erat.

__ADS_1


"Sesungguhnya tidak ada satu pun obat yang dapat meredakan perihnya rasa sakit, kecuali hati yang percaya bahwa takdir apapun yang datang padanya adalah ketetapan yang terbaik." Elia diam sejenak, kemudian melanjutkan. "Yakin saja pak Damian, pasti ada kemudahan nanti."


ia memelukku lagi, erat. harum rambutnya hadir dalam jiwaku. dia mengelus-elus punggung ku dengan hangat, sementara aku kembali terisak di dadanya, terharu... kemudian dia mengangkat wajahku, di tegakkan agar kembali kokoh, dan dia membenahi pakaianku yang kusut.


"Agar tetap tampan," ucapnya.


dia tersenyum manis, lalu mengecup keningku dengan lembut dan mengelus-elus wajahku agar kembali bangkit dan ikut tersenyum.


"Aku beruntung bisa hidup bersama pak Damian, apapun yang terjadi, kita adalah sepasang suami istri yang harus saling menguatkan."


aku diam, tanda setuju. di lubuk hatiku yang paling dalam, betapa aku mengagumi kebesaran jiwa Elia yang tak terkira. tanda betapa ketekunan dan kesabaran nya terhadap kehidupan tidak sia-sia, karena berhasil membentuk karakternya yang begitu bijak dan tegar, tak sekadar ucapan semata tapi juga dalam sikap dan tindakan.


kami saling berbincang dalam suasana hangat-hangat kuku, karena di serang rasa kikuk dan kaku, juga rasa haru. hingga kemudian Elia berpamitan untuk mengambil sesuatu di laci meja ruang tengah.


"Oh, mama menitipkan sesuatu sebelum pulang. tunggu sebentar biar aku ambilkan."


Kemudian kembali lagi membawa secarik kertas kecil. berisi pesan singkat bertuliskan; Hubungi mama di sini jika kamu berubah pikiran, mama akan bantu untuk bicara dengan ayah. dan deretan angka nomor ponselnya.


"Mama baik sekali, tapi begitu cepat meninggalkan kita. semoga kebaikannya tak berkurang meski pak Damian dingin selama ia datang ke sini."

__ADS_1


"Aku akan minta maaf padanya nanti." ujarku.


...****************...


Setelah ku pastikan gagal panen, aku melewati hari-hari bagai kelinci peliharaan di dalam kandang. tanpa arah dan tujuan, hanya makan tidur, tidur dan makan. sedangkan Elia sudah mulai menjalani ujian praktik nya di sekolah, seminggu kemudian ujian akhir akan di mulai. selain gembira aku pula patut was-was sebab ini berarti hutang ku pada Donny sudah hampir jatuh tempo, sudah secepatnya harus ku lunasi.


tetapi kini, aku hanya bisa menghabiskan waktu sambil merenung. mendaftar kerja ke sana sini namun kembali tak ada hasil.


oh, sayang. aku harus mengalahkan ilusiku. tak ada pilihan lain, selain memenuhi bantuan dan pertolongan yang di ulurkan Rinna pada kami. demi terus menyambung hidup dan demi Elia. toh, kehidupan sama-sama membuat manusia mendapati takdir yang tak ada pilihan. seperti awalnya aku terpaksa menerima Elia, hingga sekarang aku rela melakukan apapun untuknya. mungkin ini tak ada bedanya dengan memberi kesempatan dan membuka hati pada Rinna, ibu keduaku. meminta maaf dan memperbaiki hubungan dengan ayah kembali. bisa sesederhana ini kan?


dengan perasaan berdebar ku ambil gagang telpon, dan menekan tombolnya sesuai urutan nomor ponsel yang di tulis Rinna.


"Halo?" jawab seseorang dari kejauhan sana. seseorang yang ku kenali bahkan dari suara, dialah pemilik nomor ini.


"Ini aku, Damian Toma."


"Sungguh ini kamu? mama senang sekali..." katanya merintih.


"Maaf, Aku sudah memikirkannya, kalau berkenan aku mohon bantuannya."

__ADS_1


Mungkin ini adalah saatnya, mungkin ini adalah maksudnya dari semua derita yang ku Terima... Aku rencananya, akan mulai berdamai pada kehidupan lama dan menatanya kembali. pada ayah, Rinna dan juga Elia...


__ADS_2