Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Kembalilah Damian


__ADS_3

pulang dari tempat makan, aku melihat seorang perempuan yang ada di depan rumah. dia duduk manis di kursi teras, mengenakan sepatu teplek di padu rok panjang dengan motif polkadot dan jaket katun warna krem. dan yang membuat penampilannya hedon adalah syalnya yang di biarkan terbuka pada lehernya yang jenjang.


rasanya aku mengenalnya. bukankah dia adalah perempuan yang di nikahi ayah? aku memandangnya lebih cermat. dialah Rinna.


aku menangkap pandangan matanya yang lembut dan khidmat menyerupai warna temaram langit malam ini. cahayanya berpijar pada kelopak yang pas di bawah alisnya yang rapi.


"Akhirnya, mama bisa bertemu kamu lagi, Damian." sambutnya lembut sambil memelukku


Namun segera ku tangkis rangkulan hangatnya, "Untuk apa datang kemari? apa yang kamu inginkan?!"


Di sisi lain, Elia tampak kebingungan sesekali menoleh pada Rinna lalu kembali menatapku.


"Mama?" ucapnya pelan.


"Dan, apakah gadis ini menantuku?"

__ADS_1


Elia dan aku segera mengajaknya masuk ke rumah. meskipun dengan setengah hati. dia gembira bukan main bertemu Elia yang di panggil-panggilnya menantu, "Penampilanmu sungguh lain, Elia. tidak ku sangka ternyata menantu ku begitu muda. mantel dan rambutmu, kontras yang menarik; seperti gadis ceria penuh cinta, apalagi di dukung pipi berisi yang ranum ini," ujarnya di ruang tengah. "Boleh aku memelukmu?"


"Tentu," kata Elia lembut. "Anda harum sekali."


"Hmm... " Rinna mendes*h manja. "Panggil Mama." ujarnya sambil melepaskan diri dari pelukan Elia yang hangat dan kuat.


akhirnya setelah beberapa waktu berlalu, ku perkenalkan dia dengan Elia. di sebuah pertemuan tiba-tiba, pertemuan yang kelabu. namun, hanya dengan beberapa waktu saja, keduanya sudah demikian dekat dan saling mengenal lewat perkenalan yang rumit dan tak terduga. mungkin karena energi mereka sama, Elia yang penuh semangat dan hangat, serta Rinna yang mudah akrab dan luwes, jadi bukan barang aneh bila keduanya dapat saling menyatu dan melebur.


setelah itu, ku minta Elia untuk membuatkan teh hangat untuk Rinna, mertuanya. Elia menurut dan pergi ke dapur. akhirnya, tinggallah kami berdua di ruang tengah ini. ku hela nafas sambil menyandarkan punggungku di kursi.


Rinna tersenyum simpul, "Kamu dingin seperti biasanya."


"Aku ingin memperbaiki semuanya, aku tak menyangka saat ku dengar dari mulut ayahmu, bahwa kamu telah tiada. kalian pasti telah bertengkar hebat! kalian itu benar-benar ayah dan anak, Sama-sama keras dan tak mau mengalah. Dari lubuk hatiku yang terdalam, sampai sekarang, aku merasa bersalah karena akulah sebab kamu meninggalkan rumah." ucapnya menundukkan kepala penuh duka.


"Intinya saja, kamu mau apa?"

__ADS_1


"Damian... " kini, dia mengangkat muka. memberanikan diri menatap mataku yang dingin.


"Aku ini mungkin hanyalah seorang wanita asing di kehidupan kalian, aku datang setelah ibumu tiada dan di nikahi ayahmu. aku menyadari betul, bahwa sampai kapanpun kamu tak pernah bisa menerima kehadiranku sebagai orang tua sambung. tetapi, sejak awal bertemu denganmu, meskipun usia kita tak berbeda jauh, aku selalu menganggap kamu adalah seorang putra yang amat ku sayangi. berulang kali ku minta ayahmu untuk mengirim surat agar kamu mau kembali, tetapi seperti yang ku katakan, kalian berdua memiliki watak yang sama, keras kepala dan tak mau mengalah.


"Aku sungguh tersiksa sebagai seorang ibu, karena kehadiranku hubungan kalian menjadi buruk dan semakin buruk. karena itu, Damian Tolong kembalilah ke rumah! aku akan pergi dan meminta untuk berpisah dari ayahmu. aku akan membantu agar kalian dapat saling berbicara."


Aku terdiam menyimak kata-katanya. langit semakin kelam dan Elia telah datang kembali membawa tiga gelas teh hangat dan sepiring ubi bakar.


"Aku izin pergi lagi ya, mau membereskan kamar tamu untuk mama." ucap Elia lembut seraya bangkit dari kursi.


"Mama tidak menginap Elia." sergahku, "Setelah minum, dia akan pulang. kamu di antar supir atau naik kereta?"


"Eh? tapi ini sudah malam?!"


Ucap Elia pelan.

__ADS_1


__ADS_2