
Nafasku serasa habis, berbarengan dengan emosi yang ku luapkan di depan Elia. tetapi dia malah tenang dan membalik badan menggeser kursinya lebih dekat dengan ku.
“Minum ya, pak? Mumpung masih hangat.”
Aku masih mengatur nafas, ku pandangi coklat panas dalam gelas yang diberikan Elia.
“Rasanya Enak, kok.” Ucapnya kembali.
Lantas ku ambil gelasnya dan meneguknya, “Manis dan hangat...”
“Dibuat dengan susu hangat dan ditambahkan coklat batang yang dilelehkan.”
Dia meneguk kembali coklat miliknya, dan aku kembali melamun. “Seharusnya ini di minum waktu musim salju kemarin, tapi tengah malam juga cocok, kan pak? Dulu aku sering menginap di rumah Ummi, dia sahabatku dari kecil. Kami sering menginap bergantian, lalu sambil memandangi langit kami minum coklat panas. sangat menyenangkan.”
“Sahabat? Aku sudah tidak memikirkan tentang itu lagi. Apalagi aku hanya tinggal sendirian, yang ada Cuma perasaan pahit saja. aku sudah muak dengan itu, orang-orang palsu, kalau keluargaku saja tidak bisa memberikan kasih sayang, apalagi orang lain? dari tidak di pedulikan oleh siapapun hingga di buang pun aku sudah merasakannya.”
Setiap malam aku selalu berpikir lebih baik tidak usah bangun lagi. Sebab jika aku matipun, tidak akan ada yang merasa sedih. Hanya saja sialnya, aku malah tidak bisa tidur kalau membayangkannya.
Elia bangkit dari kursinya dan tanpa gerakan yang terduga dia mengusap rambutku lembut, sangat lembut. Aku nyaman, matanya menatapku hangat sekali. Lalu di dapatkannya kepalaku dalam pelukannya. Dadaku digosok dan ditepuknya pelan-pelan, sentuhan yang sudah ku lupakan bagaimana rasanya, karena mungkin sudah lama, lama sekali tak pernah ku dapatkan.
“Kenapa... kamu sangat baik kepadaku? Keluarga ku saja tidak pernah memperlakukan ku begini. Tak ada satu pun... bahkan sampai ibu meninggal pun.”
“Saat ayah pak Damian membeliku setara dengan hutang ayah, lalu aku jadi istri dari orang yang aku pun tidak mengenalnya. Bohong sekali kalau aku tidak takut. Tetapi saat pertama kali kita bertemu, dan aku mengetahui kalau suamiku itu adalah pak Damian, ternyata aku menyadari bahwa suamiku adalah orang yang sangat tulus dan baik hati. bapak selalu bertanya aku jalan kaki seberapa jauh, lalu memakaikan aku mantel yang tebal karena aku berjalan di malam musim dingin. Aku merasa, bahwa pak Damian pasti akan menjagaku dengan baik.”
Pecah hatiku, bertebaran jadi bintang beribu-ribu saat gadis ini mengelus kembali kepalaku, suaranya sangat lembut masuk ke dalam rumah siput telingaku.
“Karena itu, aku juga akan menjaga pak Damian. Dan bersikap baik pada suamiku.”
__ADS_1
Sial, aku jadi terbawa suasana. Aku merasa tubuhku jadi sangat panas sekarang seperti orang yang overdosis obat per*ngsang. mudah sekali dia melakukannya, mungkin karena aku tidak pernah berhubungan apalagi di sentuh se-intim ini oleh lawan jenis.
“Ke-Kenapa kamu bisa mengatakan hal seperti itu? Kamu tidak pernah di ajarkan untuk waspada terhadap pria kah?”
“Eh?” dia menatapku dengan mata berkaca, senyumnya langsung sumringah. Dan menggenggam tanganku erat-erat.
“Pak Damian, boleh kita tidur bersama? Ini malam musim semi pertama yang kita lalui. Ayo kita sambut pagi di musim ini bersama!”
Menyambut pagi bersama? Memang tidak berdosa jika aku melakukannya, kan? Tetapi, ah Pikiranku melayang, otakku seperti terbelenggu karena ucapannya seperti bumerang bagi pertahanan diriku. Apakah aku sudah bisa menerima kehadirannya? Atau karena aku memang sedang bernafsu saja? mengerikan. Aku harus bagaimana?
Gong pergantian musim kembali berbunyi di atas bukit, aku tidak bisa menjawab pertanyaan Elia, tetapi kini kami sudah di kamar, dan anak itu membawa bantalnya ke ranjang ku.
“Bagaimana ini? aku harus bagaimana? Ini pertama kalinya untukku? Di saa begini aku harus bagaimana?” kataku dalam hati.
Pikiran dalam otakku beradu, hingga aku teringat bahwa Elia masih harus melanjutkan sekolah, tetapi di satu sisi aku tak bisa menahan diri. Meskipun sebelumnya aku belum pernah berpikir mesum, tetapi nyatanya Elia malah membangkitkan suasana sensual malam ini, aku seperti binatang yang sedang birahi. Dan Oh, aku teringat sesuatu..
“Permisi, Pak Damian!”
Suaranya membuatku terkejut, hingga aku langsung kikuk dan salah tingkah, padahal aku masih belum menemukan benda yang ku maksud.
“Sial!” kataku pelan.
Tetapi kemudian aku membisu, ketika ku lihat Elia datang membawa kasur lipat. Dan membentangkannya di samping bawah ranjangku.
“Loh? Kasurnya sendiri- sendiri?” kataku kembali dalam hati.
“Selamat tidur, Pak Damian.” Katanya tersenyum lalu menarik selimutnya.
__ADS_1
Maksudnya tidur bersama itu, tidur bersama itu, ini kah yang dia maksudkan tidur bersama? Bodoh, ku matikan lampu dan segera ke kamar mandi. sambil menghidupkan keran aku berpikir sepanjangan, aku bukannya berharap lebih... tetapi, menahan kesakitan seperti ini rupanya lebih tidak enak. Lain kali kamu harus lebih berhati-hati Elia, saat menyebut dirimu adalah istriku.
“Sial..” aku mendengus kesal di toilet.
Kemudian setelah tiga puluh menit, aku keluar dari kamar mandi. karena masih kesal ku banting bantal ke sudut dinding. Aku berbaring dan menarik selimutku.
“Pak,”
Aku langsung bangkit saat ku dengar Elia memanggil namaku dari bawah, apakah dia belum tidur?
“Apa lebih baik satu kasur berdua?”
Kali ini dapat ku pastikan bahwa Gadis ini memang belum tidur. “Kamu masih bangun?” kataku.
“Maaf, aku dari dulu selalu menjaga diri. Karena aku selalu berpikir soal itu lebih baik menunggu sampai menikah dulu. Tetapi aku janji akan menyerahkan diriku ini pada pak Damian, suamiku.”
“Kamu ini...”
“Panggil saja aku Elia, pak.”
“Oh, tetapi memangnya kamu tetap mau menyerahkan dirimu pada pria yang tidak kamu sukai?”
“Aku... ingin selalu ada di sisi suamiku dan melihat banyak hal bersama pak Damian. Aku ingin mencintai pak Damian. Semoga itu semua bisa terwujud. Jadi mohon terimalah kehadiranku sebagai istrimu, ya pak!” dia tersenyum, dan aku memperhatikannya, “Selamat tidur.” Katanya lagi.
Aku ikut merebahkan tubuhku. Apa-apaan dia ini? mengatakan hal yang panjang-panjang tetapi ujung-ujungnya tetap tidur sendirian. Aku terpaksa berbaring telentang karena dia tiba-tiba menggenggam tanganku dari bawah.
Kupikir aku akan melamun lagi sepanjang malam, suasana malam ini memang hening sepeti biasanya, tak ada lagi bunyi gong. Sebab tadi adalah, bunyi yang terakhir. Sesekali aku melirik gadis yang tidur di bawah, seandainya kamu bukan siswi. Mungkin kita bisa saling terbuka. Aku memikirkan dia, dia yang mengatakan ingin mencintaiku. Dia yang ingin menjagaku dan menghabiskan waktu bersam denganku selamanya. rupanya tiba-tiba mataku jadi berat. Malam ini ternyata aku jadi bisa tidur.
__ADS_1