
Ayah mengantarku naik ke lantai dua rumah, menuju kamarku yang sudah lama ku tinggalkan. setelah sampai di kamar ayah berpamitan untuk keluar dan kembali turun ke bawah. di susul pak An yang datang membawakan koper dan tas ku.
di saat itu lah pula aku baru teringat pada istriku, Elia. dimana dia? sembunyi, kah? tidak mungkin, dia baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini. aku khawatir dia kebingungan. bodoh sekali... kenapa aku sampai ceroboh dan meninggalkannya.
baru hendak keluar dari kamar, ku lihat Elia baru sampai dari ujung tangga. dia nampak kesusahan membawa koper dan tasnya, langkahnya tersaruk-saruk terutama karna membawa dua beban itu melewati tangga. aku segera berlari menghampirinya.
"Mengapa kamu membawanya sendiri? dimana orang-orang di rumah ini? mama? bibi Hera? pak An?"
Elia tersenyum dan keringat mengucur dari kepalanya. "Mama sedang hamil, jadi tidak mungkin ku bolehkan membantu. aku juga tidak melihat siapapun di sini. jadi aku bawa sendiri saja... tidak apa-apa."
"Maafkan aku, seharusnya tidak ku tinggalkan kamu sendiri tadi. aku benar-benar lupa karna ayah langsung membawaku naik ke dalam."
"Jangan minta maaf, aku malah senang ayah menyambut kedatangan kita dengan baik. lihat, ketakutan pak Damian tidak terjadi, kan?" katanya terengah-engah, sambil sesekali menyeka keringatnya.
ku peluk dia.
"Padahal kamu sudah dandan secantik ini, tapi harus mengangkat tas dan koper ini sendiri menaiki anak tangga sebanyak ini. maaf Elia, maafkan aku."
dia tersenyum manis, lalu mengelus kedua pipiku lembut. dan merapikan rambutku yang sedikit berantakan.
"Anda tampan sekali pak Damian."
__ADS_1
"Kamu pintar sekali mengejek."
Elia menjawab dengan Senyum.
aku membantu dia ke kamar, ku ambil tas dan koper miliknya dan ku bawakan. kemudian satu tanganku memegang pinggangnya agar tidak goyah. kami berjalan beriringan menuju tempat beristirahat.
Elia duduk di ranjang kamar sambil terus menyeka keringat yang mengucur sampai ke lehernya. di saat itulah aku seperti tersihir oleh kekuatan gaib yang memancar dari aura kecantikannya yang menyala-nyala. pandanganku terpusat pada sosok perempuan jelita yang duduk di depanku dengan sikap elegan seperti patung seorang dewi yang suci.
suasana jadi hening.
aku pun beranjak dari tempat duduk ku untuk mendekatinya. dia tersenyum dan mengubah posisi duduknya. kemudian, aku berlutut di hadapannya, meraih tangannya, dan menggenggamnya erat-erat. ku telungkup kan wajahku di pahanya. lalu, ku angkat wajahku, ku sorongkan ke wajahnya.
"Kamu begitu lelah, aku minta maaf." kataku
"Aku baik-baik saja, cuma bawa barang itu saja tidak masalah."
"Kamu tadi menyapa ayah, tapi ayah mengacuhkan mu."
"Ayah terlihat begitu merindukan pak Damian, jadi mungkin ia tak fokus. dan hanya terpaku pada anak pria yang sudah lama tak ia jumpai. tidak masalah, ayah sangat baik. nanti aku akan menyapanya lagi, ya?!"
aku tersenyum simpul untuknya, dalam hatiku terbesit perasaan mengganjal untuk beberapa jam kedatangan kami di sini. untunglah ia tidak tersinggung dan berkecil hati karenanya.
__ADS_1
cahaya matahari yang mulai menjingga masuk melalui kaca jendela bersama dengan angin yang berdesir bagai kecupan seorang kekasih, bersama burung-burung yang memandang dari atas sana, dan bersama detak jantungku yang gemetar menerima sentuhan kata-katanya. semua yang ada di sekeliling ini nampak tersenyum, seakan ingin berkata : "Kamu sungguh sangat beruntung!"
Elia berdiri dan tegak di depan jendela yang di buat besar, hampir full satu dinding. dia memejamkan mata dan menarik nafas pelan-pelan, sambil tangannya menegang seakan tengah mengundang seluruh malaikat yang bersemayam di atas sana. aku mendekat dan memeluknya dari belakang.
"Dulu aku sengaja meminta di buatkan jendela penuh seperti ini, agar bisa menikmati pemandangan di luar puas-puas." kataku sambil menyandarkan dagu di bahunya.
kemudian, kembali di bukanya matanya, dan bibirnya yang cantik mulai menari-nari mengancam dan mengundangku untuk menggaulinya.
"Pak Damian sangat menyukai suasana alam, ya?"
aku masih saja diam, masih terkesima oleh auranya yang lembut tapi mematikan. dia menyatukan telapak tangannya di depan dada. ku hembuskan nafas di telinganya, membuat tubuhnya gemetar.
"Aku lebih menyukaimu." kataku sambil mengecup bahunya yang kecil namun sedikit berisi dan kulitnya terasa begitu kenyal, membuatku ingin terus menciuminya.
"Aku menginginkanmu Elia," sambung ku, "kamulah obat dari segala rasa lelah, kamu lah pelipur dari segala lara, dan kamulah jalan keluar dari segala rasa gelisah dan cemas ku."
kami saling berciuman dan ku giring tubuhnya menuju ranjang. suhu tubuhku memanas saat kami terbaring di sana. baru hendak menuju awal permainan, Elia malah mendorong tubuhku. membuatku mendengus, karena kehilangan ritme di tengah perjalanan.
"Ada apa?"
"Aku berkeringat dari tadi, panas. biar aku mandi dulu, pak Damian."
__ADS_1
begitulah yang terjadi, dia masuk ke kamar mandi dan aku tak mampu berbuat apa pun selain duduk bengong di sofa memandangi panorama senja yang mulai meraja dengan langit jingga.