Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Pria Jahat


__ADS_3

Dengan muka masam dan rasa bersalah, Rinna diam sambil senyum-senyum kecil. dan Elia menatapnya tak tega, juga sesekali menatapku untuk meminta penjelasan.


"Ini sudah malam, mama menginap di sini dulu, ya?! biar aku siapkan kamarnya."


"Biar ku antar keluar! kamu naik kereta atau dijemput supir." sergahku sambil mendengus.


baru hendak bangkit dari kursi, Elia menatapku dengan tatapan tajam, membuatku sedikit tertekan. namun, aku akan tetap pada pendirian ku agar Ibu kedua ku ini segera pergi. aku masih canggung bila harus serumah dengannya, walaupun hanya satu malam dan niatnya datang sungguh baik.


tetapi hati ku ini, sudah terlanjur mati karenanya. atau lebih tepat bila di katakan, bahwa; aku belum bisa menerima kehadiran Rinna...


"Pulanglah! Ayah akan marah kalau kamu pergi-pergi tanpa seizinnya!"


"Aku sudah izin padanya,"


"Untuk pergi ke rumahku?" timpal ku kembali. seketika itu pula Rinna terdiam, semakin menundukkan kepala. Pandangan matanya menghilang di balik kelopaknya yang tenggelam.


aku memainkan pandangan, malas. wajahku dingin, sedingin udara malam ini. karena sudah merasa menemui ujung pembicaraan, ku putuskan untuk kembali ke kamar. sambil bangkit dari kursi, ku katakan lagi kepadanya; "Pintu Keluar ada di depan, Pulanglah! jangan sampai ayah salah paham dan aku bermasalah lagi dengannya!" tegas ku padanya.


Rinna bangkit di bantu Elia.

__ADS_1


...****************...


"Pak, kenapa tidak mengizinkan mama tinggal di sini, setidaknya sampai besok tiba. kedatangan mama tidak menganggu sama sekali, ini sudah malam dan jarak rumah kita ke stasiun cukup jauh kalau jalan kaki. mama menunggu dari sore tadi, kenapa pak Damian dingin sekali padanya? paling tidak berikan kesempatan untuk mama menginap."


"Bagiku itu biasa saja," kataku. "Aku tak ingin menambah masalah Elia, aku sudah sering ribut dengan ayah karenanya."


aku mengisap rokok pelan dan tenang, seakan tak ingin kehilangan sedikitpun nikmatnya rasa tembakau, mencari ketenangan dari hisapan asap dari ujung bibir.


"Pak Damian harus menyadari, bahwa menutup hati hanya akan menyulitkan keadaan. apakah pak Damian ingat? pertama kali aku datang ke sini, pak Damian begitu dingin, membenci dan menutup hati untukku. tapi aku terus mencoba sampai hati itu akhirnya terbuka, dan mama sedang mencobanya sekarang," katanya meyakinkan.


"Dalam hal ini, ku pikir aku lebih peka dari pak Damian. di lihat dari kedatangan mama, yang rela menunggu dari sore sampai kita pulang kembali ke rumah. di lihat dari tatapan matanya, dari caranya mengajak kita bicara, dari setiap gerakan tubuhnya, dia menginginkan kita menjadi dekat dan saling membuka diri. pak Damian harus ingat analisa ku ini."


"Percayalah kepadaku," Elia meyakinkan ku. "Ajaklah mama kembali masuk, beri kesempatan untuknya menunjukkan kesungguhan. seperti dulu pak Damian memberikan aku kesempatan untuk berusaha. bersikaplah yang hangat dan dewasa, agar semua dapat berubah."


aku kembali mengisap rokok, kali ini apinya sudah hampir mencapai pangkal rokok. lalu ku buang puntung rokok di lantai dan menginjak-injak apinya sampai mati.


"Kalau aku jadi pak Damian, rasanya aku sudah di beri kesempatan oleh semesta untuk kembali memperbaiki hubungan dengan keluarga. meskipun kelihatannya usianya masih muda, tetapi mama begitu dewasa. pak Damian ingat?! saat bertemu kita, mama selalu menyebutku menantu? bukankah itu berarti ia menganggap pak Damian adalah putranya?"


Aku dapat memahami pendapat Elia. memang Niat Rinna datang kemari sangat baik ingin memperbaiki hubungan keluarga antara aku dan ayah, terutama saat ku dengar ia siap untuk berpisah, bila memang aku menghendaki. tetapi, aku masih ragu jika ia bersungguh-sungguh, sebab sudah dua tahun berlalu dan dia baru datang setelah semua itu.

__ADS_1


dari luar angin malam terus menyerbu masuk. ku rapatkan selimut untuk menghindari hawa dingin yang menyiksa. jam dinding menunjukkan malam sudah larut. dari kaca jendela, langit tampak gelap dengan warna hitam kelam. ada beberapa bintang di sana, dengan cahaya sayup-sayup menyapa dari ketinggian, seakan ingin menemaniku memikirkan dia, yang masih duduk menunggu di depan rumah. meski dengan perasaan yang sulit di pahami.


Elia masih berdiri di depan jendela kamar, ia masih nampak sangat gelisah. di tambah lagi rupanya hujan tiba-tiba datang, begitu derasnya. saat itu pula, Elia langsung beranjak pergi keluar kamar.


"Mau kemana?" kataku.


"Mengajak mama masuk! di luar hujan deras, dan mama masih duduk di sana berharap kesempatan dari kita. aku benar-benar kecewa pada pak Damian. jika tak bisa menghargai mama sebagai ibu, paling tidak hormati ia sebagai wanita."


Elia marah padaku, pertama kalinya ku dengar ia membentak. Mungkin saat ini di matanya, aku lah sosok Pria paling jahat. sepanjang malam ini hatiku di penuhi perasaan khawatir karenanya, akhirnya aku pun beranjak menuju pintu depan, untuk menyusul Elia dan Rinna.


ku hela nafas saat ku lihat mereka saling tolak menolak lengan, yang satu menolak masuk dan yang satu menolak berhenti.


"Kalian sedang apa?" kataku di muka pintu.


"Pak, pak Damian tolong izinkan mama masuk dan menginap di sini. tolonglah! mama tak mau masuk karna pak Damian tak mengizinkan! sedangkan hujan semakin deras di tambah angin, mama sampai basah."


aku diam sejenak, menatap mereka dengan tatapan dingin untuk melihat reaksinya.


"Masuklah, tetapi jika terjadi masalah antara aku dan ayah, kaulah yang harus bertanggung jawab!" kataku sambil mendengus.

__ADS_1


Rinna meneteskan air mata karena haru, Dengan cepat Elia langsung memapahnya membantu untuk masuk ke rumah. dia menatapku sambil berkaca-kaca seperti aku adalah jelmaan sari Alam, bunga kamboja yang menjadi favorit dewa.


__ADS_2