Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Ketika Aku di sini, dan Dia di sana


__ADS_3

Demikian lah setelah itu, satu minggu berlalu dan aku mulai bekerja bersama ayah di kantor, banyak sekali kegiatan hampir seluruh tenaga dan pikiran ku habis di dalam pekerjaan. pergi pagi pulang malam. tetapi untungnya, aku tak pernah kehilangan sambutan hangat Elia setiap pulang. dia, Elia selalu menungguku di sofa kamar setiap malam.


pagi ini, aku bangun kesiangan. di puncak langit sana, matahari telah tinggi. Sinarnya masuk menerobos mataku sampai silau. Elia menggoyangkan badanku pelan, agar aku segera sadar dan bangkit dari kasur.


"Sudah jam 7 pagi, ayah sudah menunggu di meja makan. bangunlah!!"


ku sisihkan selimut dan bangkit menuju kamar mandi. awal hari yang melelahkan.


aku berangkat kerja sambil menahan kantuk. di kepalaku seakan gravitasi sepuluh kali lebih besar, sampai rasanya berat sekali, seluruh energi dan kekuatan ku terserap karena daya tariknya yang demikian dahsyat.


namun, bisa ku sebut aku kembali beruntung. karena tadi aku menikmati sarapan Ekstra dengan kadar gula tinggi. dua gelas susu cokelat kental, dua potong pie apel, dan segelas air mineral. Elia memang bukan istri sembarangan, betapa beruntungnya aku memiliki dia.


Sampai di tempat kerja, Rommy menyambut ku dengan gayanya yang khas. "Selamat pagi, pak Boss. semoga pekerjaan hari ini dapat berjalan dengan baik," ia berdiri di muka pintu sedikit membungkuk dengan tangan kanan dimasukkannya ke dalam saku celana, seakan ialah pemilik perusahaan ini.


Rommy adalah asisten yang di pilihkan ayah untukku. meski baru satu minggu bekerja, namun berkat Rommy lah divisi perusahaan dapat bertahan dan berkembang di bawah kepemimpinan ku. dia memiliki pembawaan yang lembut, hanya saja badannya kelewat tambun, membuat Rommy gampang ngantuk kalau jadwal lengang sedikit.


aku segera masuk ke ruang kerja, menyandarkan tubuh di kursi empuk di belakang meja yang di penuhi berkas dan buku-buku yang mencatat kesuksesan divisi ku sebelumnya. ku buka laporan kemarin sambil memprediksi berbagai kemungkinan yang akan berlangsung hari ini. sesekali rasa kantuk menyerang ku, membuatku berkali-kali harus menghempas kepala pelan untuk terus sadar.


"Ada Pimpinan, Bos." Rommy membuyarkan konsentrasi ku dari pesona laporan-laporan yang di berikan staff.


seseorang berhenti di depan mejaku, dialah pimpinan yang di maksud Rommy, ayah. kedatangannya adalah tanda akan terjadi sesuatu yang besar hari ini. dan Astaga, lihatlah apa yang di bawa ayah, tumpukkan berkas untuk diperiksa lagi.

__ADS_1


Sore menjelang, akhirnya karena sudah tak tahan dengan hiruk pikuk kantor. aku izin pulang lebih dulu dan membawa berkas untuk mempelajarinya di rumah dan ayah menyusul.


sepulang kerja, aku kembali ke rumah. ku lihat tak ada sambutan saat aku datang. aku coba untuk memahami, mungkin Elia belum tahu bahwa aku sudah pulang. pulang lebih awal. baiklah sepertinya aku yang akan memberikannya kejutan.


Semua rasa lelah ku kembali bahkan berpuluh kali lipat setelah kulihat Rinna berkumpul di rumah bersama teman-temannya. Ada sekitar enam orang, yang semuanya berpenampilan mencolok yang menjijikkan, ada yang pakai cincin di tiga jari sekaligus. adapula yang pakai kalung bermata zamrud dengan ukuran cukup besar. itulah teman, teman sosialita yang penuh kebohongan.


"Dimana Elia?" tanya ku pada Rinna di singgah sana tempatnya duduk.


"Elia?!"


"Ya, dimana?"


lalu di tengah itu semua, datanglah seseorang dari arah dapur, seseorang yang ku kenal dengan baik bahkan hanya dengan suaranya saja. Elia, dia datang sambil membawa satu nampan penuh berisi gelas jus, ada Tujuh buah. nampaknya itu semua untuk Rinna dan teman-temannya.


"Apa yang kamu lakukan?!"


"Buat minuman dan makanan untuk mama dan teman-temannya."


Ku tatap Rinna dalam dan tajam, sehingga membuatnya tertekan. begini kah caranya memperlakukan Elia saat aku tiada, dan jauh darinya?


"Pak Damian mau minum apa? atau mau ku siapkan air panas untuk mandi?"

__ADS_1


"Apalagi yang kamu lakukan selain melayani Rinna dan teman-temannya?" kataku, ku abaikan Pertanyaan sebelumnya.


"Iya?! Ah, maaf bibi Hera belakangan ini selalu pulang lebih awal dan kembali lagi ke rumah setelah masuk jadwal makan malam."


"Apalagi yang kamu lakukan selain melayani meraka, Elia?!" kataku sambil mengepal tangan, situasi menjadi sedikit lebih panas dan tegang, namun sayup-sayup masih bisa ku dengar tawa dari mulut rekan Rinna.


"Aku sedang mencuci piring sekarang," jawab Elia pelan.


"Bekas teman-teman Rinna?"


"Ya,"


Dengan berat hati dan tergopoh-gopoh aku berjalan ke dapur, Ku pastikan untuk melihat langsung pekerjaan yang di lakukan istriku selama aku tak ada di rumah. meskipun berulang kali pula Elia mencoba menghalangi ku.


Hancur aku bagai gelas yang jatuh, belingnya berpisah ke berbagai penjuru, seakan tak mampu lagi di jadikan satu seperti semula. ketika ku lihat piring yang menumpuk di wastafel, dan yang lebih menyakitkan adalah; sepiring nasi di bawah wastafel. nasi yang baru habis setengah.


"Milik siapa?" kataku sambil memungut piring itu dari bawah.


"Itu... " jawabnya gugup dan terbata, "Milikku."


"Kamu makan sendirian, di lantai dapur sambil mencuci piring? lalu melayani Rinna dan temannya?" kataku memastikan, meskipun dengan nada cukup tinggi, sampai suasana menjadi tegang dan kikuk. "Jawab aku dengan jujur dan tangkas, persis seperti biasa kamu bicara padaku."

__ADS_1


"Ya," katanya pelan.


__ADS_2