
Ini adalah aku, Damian Toma. seorang pria dewasa yang pesimis. aku melengkapi hidupku sendiri, tanpa ada cinta, tanpa ada ikatan satu sama lain dengan siapapun, aku bukan lah lelaki yang mampu bersikap romantis, cintaku mungkin tidak terucap, namun tersirat dan bisa di rasakan. ya, Mungkin.
harta bukan jaminan untuk kebahagiaan, namun orang tua ku, salah pengertian dalam mencurahkan kasih sayang.
kehidupan yang kering kasih dan sayang, membuatku tumbuh tanpa perasaan, aku tau orang bilang aku adalah laki laki dingin seperti gunung es, tapi apakah kalian harus menghancurkan gunung es untuk bisa di cintai? tidak bisa kah kalian menaklukan gunung es tanpa harus mencairkannya?
apakah aku terlalu membual? cinta itu hanya ilusi dan omong kosong, hasil buah pemikiran dan keinginan hati yang membara para pujangga. Tuhan menciptakan rasa, dan manusia menyebut salah satunya dengan cinta. ku pikir dulu, hidup menyendiri juga tak terlalu buruk.
Aku menutup diri pada perempuan, namun semua berubah saat gadis kecil itu datang. aku tidak meyakini perasaanku, bahwa aku tertarik padanya saat pertama kali ku lihat dia, aku terlalu naif untuk mengakui bahwa aku tidak akan jatuh cinta padanya, aku menyusuri waktu namun semakin aku menjauh yang terlihat hanya lah dirinya, aneh. dia membuatku merasa di cintai dan menghidupkan hatiku yang telah mati.
namanya adalah Elia, wanita cantik yang begitu ramah, yang memberikan apa yang tidak ku miliki dan ku dapatkan. yang membuka mata ku tentang dunia yang sesungguhnya, wanita istimewa yang membuat hidup ku lebih berwarna. dia yang membuatku jatuh cinta dari mata hingga ke hati.
mungkin aku adalah laki laki yang hina, di usia nya yang masih 18 tahun, yang masih dalam masa transisi, dia yang masih belum mengenal cinta, secara tidak langsung aku sudah hancurkan masa depannya. aku bersalah, sangat salah. namun aku lebih brengsek jika membiarkan dia untuk bebas mencari lelaki lain, sedangkan aku sudah mengambil yang berharga dari hidupnya.
Elia maaf aku memang laki-laki angkuh, aku sombong karena yakin tidak akan pernah jatuh cinta padamu. aku tak tahu bagaimana berjuang layaknya lelaki sejati. aku terlalu pesimis sebagai kepala keluarga, hingga aku harus membawamu kembali ke dalam neraka yang mematikan.
sayangnya... kini aku telah kehilangan dia, dia telah pergi jauh, kembali ke rumah ternyaman nya. dan akhirnya kami berpisah, yang tidak pernah aku duga... dia yang mengatakan lelah.
setelah malam itu, aku tetap di rumah melanjutkan hidupku yang panjang bersama keluarga. sementara dia jauh di sana. meski begitu, ada sesuatu yang aku kejar. apa pun itu, semua tak lain hanya untuk cintaku yang telah pergi jauh...
__ADS_1
...****************...
minggu pertama tanpa Elia, aku menderita kesepian yang pedih tak terkira. aku melewati hari-hari bagai kuda liar yang bergerak pagi hingga malam, bagai seekor burung yang terpisah dari kawanan terbang menyendiri di angkasa yang luas. hidupku ini nyaris tak ada bedanya dengan file-file kantor yang menumpuk dan terus bertambah setiap harinya di atas meja kerjaku di mana aku tengah merenung di depannya; bedanya aku penuh oleh khayalan dan pikiran liar yang pedih dan menyakitkan, bukan tulisan dan laporan.
kesunyian mengubur ku dalam kesepian yang gelap bagaikan kegilaan. pada suasana seperti ini, dimana aku tengah duduk melamun sendirian di meja kerja sambil memandang keluar jendela menyaksikan awan berarak di langit dengan bulan bulat menyembul di antara mega-mega, dia selalu hadir menggodaku; saat-saat yang telah kami cipta bersama, hadir dan tenggelam bagai fatamorgana. senyum dan tawanya laksana mutiara putih yang menyala silau dalam pikiranku,
namun lenyap setiap kali hendak ku sentuh dengan tanganku. kesepian itu adalah neraka yang lebih panas dari api hitam dan lebih dingin dari bongkah es.
tapi, aku harus mengalahkan ilusi dan kesedihanku. apakah pernikahan ini memang benar berakhir, atau masih bisa di perbaiki? mungkin ya mungkin juga tidak. yang pasti Elia telah lelah dengan semua tugasnya, biarlah ia pergi untuk menyegarkan diri. dan aku pun kembali menekuni dunia bisnis yang baru ku geluti; bekerja keras dari pagi hingga malam demi memenuhi target ku, sebab ada dosa yang harus ku tebus. aku tak akan membiarkan pesimis dan tekanan kembali menghantui ku. jadi aku bekerja keras untuk itu, demi Istriku yang jauh di sana.
Tiba-tiba dering ponsel menyadarkan aku dari lamunan. sebuah panggilan masuk dari Donny sahabat lamaku. sudah lama sekali sejak kami pindah, akhirnya aku bisa melihat lagi namanya muncul di layar ponselku. lantas segera ku angkat.
"Baik, tetapi juga buruk! kamu bagaimana?"
"Padahal sudah jadi bos perusahaan besar! besok aku ke kota. aku rindu denganmu. sekolah sudah libur, dan kamu harus tahu ada berita besar, Amanda mengundurkan diri satu bulan yang lalu. mungkin setelah tahu kalau kau dan Elia sudah pindah ke kota. ah, tapi tujuan utama ku bukan memberitahukan soal itu saja, aku mau bertemu denganmu dan Elia. sekedar melepas rindu."
"Bertemu denganku dan Elia?"
"Ya," Jawabnya.
__ADS_1
"Tidak bisa," sergahku. "Tidak baik tebar kemesraan pada pria lajang yang hampir lapuk. tunggu kamu sudah punya pasangan dulu."
aku Menyeloroh untuk mengejeknya, padahal dalam hatiku, itu semua hanyalah akal-akalan untuk menutupi borok di pernikahan kami belakangan ini.
"Jangan begitu, Justru aku datang dengan perempuan."
"Pacar? Amanda?" ujarku.
"Bukanlah, memangnya siapa yang mau dengan seseorang yang cintanya untuk orang lain. lihat saja, ku tunjukkan pada kalian bahwa aku bukan pria lajang yang lapuk. pokoknya besok bertemu ya! aku kirim lokasinya nanti."
"Baiklah," jawabku mendengus sambil mematikan ponsel. mungkin nanti aku akan cari-cari alasan tentang Elia besok, aku tak enak jika harus menolak ajakan Donny. dia begitu baik pada kami selama ini, ku rasa dia pun begitu semangat untuk mengenalkan pacar barunya. perempuan mana yang beruntung mendapatkan pria sebaik dia. tentu saja aku harus datang untuk bercengkrama.
ku perhatikan jam di layar ponsel, ternyata sudah pukul 10 malam. jujur kepalaku sedikit sempoyongan dan mataku mulai berat. nampaknya aku harus pulang lebih awal dari biasanya.
aku di antar supir pulang, sesampainya di rumah aku segera menuju ke halaman samping dulu tepatnya di bawah jendela kamarku, ada yang baru; aku memelihara kelinci. binatang pemakan Tumbuh-tumbuhan itu ku biarkan hidup bebas di taman. agar saat aku lelah setelah bekerja di kantor aku bisa melihatnya sebagai pelipur lelah, dan dia adalah sambutan saat aku pulang malam. dia mengunyah rerumputan, merusak bunga-bunga, mengencingi tanah dan bebatuan. oh, binatang yang cantik dan lucu, binal dan manja, dengan telinga lebar dan tinggi juga tatapan mata yang tampak malu-malu. mirip benar kau dengan belahan jiwaku. oh, biarlah aku jadi rumput yang kau makan sampai habis agar kau tetap hidup.
Elia, maafkan aku...
aku sangat merindukan kamu...
__ADS_1