
Setelah merasa lumayan beres, aku segera melangkah melangkah ke luar kantor. meski Amanda masih sibuk meyakinkan ku untuk meninggalkan Elia, namun biarlah lingkungan yang membuatnya enyah.
saat kendaraan memasuki jalan, pemandangan alam di pinggir jalan tak pernah mengecewakan. ku pikir suasana rumahku kini telah sama dengan keadaan di sepanjang jalan ini, Sama-sama menenangkan. ku nyalakan rokok untuk menghangatkan badanku yang sedikit kedinginan, meski cuaca sedang cerah, mungkin karena aku gugup berlebihan, dinginnya masuk menyelusup dengan ganas sampai ke tulang-tulang. jantung ku pun ikut merasa tak nyaman.
di tengah-tengah lalu-lalang pemandangan dan kendaraan, di tengah pohon-pohon di kaki gunung dan pagar pembatas, perasaanku seperti diserbu melankolia. selain melihat kegigihan Amanda dalam mengejar cintaku, aku sebenarnya tak tahu kenapa mesti menghadapi masalah seberat ini hanya karna perasaan seorang wanita. "jika aku tak bisa memilikimu, maka lebih baik melihat kalian sengsara seperti yang ku rasakan. lebih baik aku tak melihat kau dan dia lagi dari pada aku harus mengingat hubungan kalian di belakang ku," dia menegaskan saat aku masih di kantor tadi.
seperti orang gila, aku berkata sambil mengumpat sendiri di dalam mobil. mungkin karena aku merasa tak cukup adil, harus menerima imbas dari obsesi perempuan yang perasaannya tak bisa ku balas. dia semakin menjemukan karena kegenitannya yang tak terampuni. tak ada rasa, hingga ini di terapkan nya dengan cara memaksa. tidak pula dapat terjadi, sebab itu lah pula kini ia menyakiti, persis mengadopsi film dan sandiwara kriminalitas dalam kehidupan.
bagiku sekarang, Amanda hanyalah sampah yang bingung menanggung kegilaannya sendiri.
ku parkir mobil di halaman rumah, rumahku ini memang tak sebesar yang ku tinggali saat bersama ayah dan ibu dulu. tetapi, untuk kategori pedesaan rumah ini terkesan lebih modern, dengan atap tinggi dan jendela bergaya Art-deco.
ku putar gagang pintu, rupanya tidak terkunci. aku segera masuk. rupanya ada seseorang di dapur, karena bunyi-bunyian kompor dan panci.
"Elia?" kataku sambil mengerutkan dahi.
"Pak Damian?!" jawabnya. "Sudah sampai di rumah?!"
__ADS_1
"Kamu tidak ke sekolah?"
"Soal itu, Tadi Ummi menunjukkan sesuatu di web sekolah. jadi dia menyuruhku untuk beristirahat dulu di rumah."
"Jadi kamu sudah tahu, ya? nampaknya berita ini memang sudah menyebar menyeluruh di satu sekolah. mungkin lebih jauh lagi." ujarku, membuatnya semakin sendu dan lesu.
"Pak Damian juga di suruh pulang, ya beristirahat di rumah. sampai masalah sedikit redup?"
aku diam sejenak, sambil mengalihkan pandangan. sesekali mataku menatap nanar, mencari kata yang tepat untuk menjelaskan, harus kah aku jujur? atau kembali membohonginya? tapi begitu sama saja melukai hatinya kembali, maka lebih baik aku mencari kata lain yang lebih tepat.
"Iya, hanya saja berbeda sedikit denganmu. aku akan tetap di rumah bahkan setelah masalah menghilang."
"Aku berhenti menjadi guru Di sekolah." Kataku sambil mendengus, "Maafkan aku, semua ini adalah salahku. aku lah yang membuatmu menghadapi situasi sulit begini, aku lah yang membuatmu merasa canggung di sekolah nanti. aku sungguh minta maaf."
"Tolong jangan meminta maaf, ini juga kesalahan ku. Aku menuntun pak Damian pada masalah. Maaf, aku baik-baik saja. jangan khawatir." Sergahnya, kami hening sejenak, kemudian dia melanjutkan;
"Aku sungguh baik-baik saja, aku tak perduli dengan pandangan orang lain terhadap ku. yang penting, aku masih bisa terus berbakti pada suami dan terus bersama dengannya. tak masalah orang lain mau berpikiran apapun juga, sekalipun aku harus berhenti sekolah, itu tak apa."
__ADS_1
"Apa?" Kataku, menatapnya tajam.
"Pak Damian, kita masih bisa bersama-sama kan, tak peduli badai seperti apapun yang menerpa. tak peduli berapa banyak pun orang yang datang saat kita masih menyimpan tentang status perkawinan. kita akan terus bersama-sama, ya?"
kami saling tatap, lantas berpelukan harus dan saling membenamkan diri. satu kalimat yang mampu ku ucapkan, ketika aku tenggelam dalam dekapannya yang hangat dan harum.
"Aku akan berusaha sebaik mungkin mencari pekerjaan baru, kamu pun berjuanglah sampai lulus. jangan pernah mundur, mari sama-sama berjuang."
...****************...
Halo kak, ini author 🙋
Bagaimana kabar kalian hari ini? semoga baik-baik saja Yup. author doakan semoga ibadah puasa kalian di berikan kelancaran selalu. tetap semangat, walau kadang cuaca sulit di tebak!
sudah hari ketiga puasa di bulan Ramadhan, tapi semoga belum terlambat; Author ucapkan minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin ya kak ☺🧡❤💚. selamat menjalankan ibadah puasa bagi kita dan kalian semua yang menjalankan. semoga kita selalu berada di lindungan Tuhan, aamiin.
Sekali lagi Terima kasih untuk semua dukungan yang kakak berikan untuk Damian dan Elia. sulit di jelaskan, bagaimana kami begitu terharu dengan kakak pembaca sekalian. kakak adalah salah satu dari pengembang semangat literasi dan semangat author untuk terus menulis! Terima kasih banyak ╥﹏╥
__ADS_1
sekian, Author mencintai kalian semua (´༎ຶ ͜ʖ ༎ຶ `)♡