
"Surat dari siapa?" ucap Elia sambil menyodorkan wajahnya di depanku.
"Mama.. " jawabku.
"Isi suratnya apa?"
"Ayah dan Mama sudah pulang dari perjalanan bisnis, mereka mengucapkan selamat untuk kelulusanmu... " aku diam sejenak, kemudian melanjutkan. "Dan mereka meminta kita untuk pindah ke kota besok. apakah kamu tidak keberatan?"
Elia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak sama sekali."
...****************...
Pagi harinya aku dan Elia segera bersiap untuk pergi ke kota. aku sempat gugup, memikirkan akan bertemu kembali dengan ayah setelah dua tahun berlalu. ada perasaan sentimentil dalam hatiku.
Ku nikmati sarapan yang di buat Elia, tapi dia tidak menemaniku di meja makan. dia masih sibuk mengemas pakaian dan menutup pintu dan jendela. pagi ini, hari ini, sarapan terakhir di sini. Gelisah terus menguasai ku. namun, aku tak bisa berbuat apa-apa selain duduk bengong di kursi makan, di panggang rasa cemas.
di saat itulah tiba-tiba muncul dua telapak tangan dari belakangku dan menutup mataku dengan erat. ku pegang telapak tangan itu, lembut sekali. ini jelas tangan seorang perempuan. dan milik siapa lagi kalau bukan Elia, kesayanganku...
"Kamu membuatku terkejut."
"Sudah selesai sarapannya?"
"Belum, sebentar lagi ya?!"
dia tersenyum, manis sekali. mengenakan pakaian seperti yang ku saksikan saat ku ajak dia ke pantai waktu itu. rok polkadot nya lucu sekali, membuatnya tampak lebih feminin. inikah pakaian andalannya? rambutnya di sanggul ke belakang, dan mahkota tusuk kondenya yang berbentuk angka nol, khas sekali gadis desa yang lugu. membuat bulu kuduk ku merinding. sampai aku jadi tertawa geli karena melihat tusuk konde itu. aku jadi terlupa dengan rasa gugup dan cemas ku dari semalam.
Elia menarik kursi di sampingku, lalu duduk di sana.
"Ada yang di pikirkan? dari semalam tidak mau makan, sekarang makan sarapan lama sekali."
"Tidak, tidak." jawab ku sambil meringis.
__ADS_1
"Kenapa tertawa? memang aku tampak aneh ya?"
"Tidak, tidak. maksudku, dari tadi aku memikirkan kendaraan kita ke rumah nanti, sejujurnya aku tak mau lagi pakai atau menyewa mobil tua kemarin. susah sekali mengatur tuas dan setir nya. belum lagi saat ku bayangkan kamu memegang kursinya yang sudah sobek sana sini." Aku berkata ngawur, sekadar untuk mengalihkan perhatian tentang tusuk kondenya yang berbentuk angka nol. dan pakaiannya yang unik dan mencolok.
"Pak Damian ada-ada saja, kita kan bisa naik taksi."
"Oh, ya. kamu benar. omong-omong pakaianmu bagus sekali. seperti yang kulihat waktu kita ke pantai."
"Memang pakaian ini yang ku pakai waktu itu?"
"Benarkan? tapi bawahannya beda, kamu tidak pakai rok ini."
"Kalau iya, memangnya tidak cocok ya pak? atau daya tarik ku jadi berkurang? Aku akan bertemu keluarga besar pak Damian untuk pertama kalinya, jadi aku berusaha tampil sebaik mungkin."
"Tidak, tidak sama sekali. kamu pakai apapun juga tidak mengurangi perasaanku dan penghormatan keluargaku padamu. lihat, kamu malah terlihat sangat lucu dan cantik sekali. apapun yang kamu pakai aku tetap sayang padamu. sayang sekali... " Kataku.
dia menatapku tersenyum dan aku balik menatapnya sambil menyantap kembali sarapan ku.
sepanjang jalan, di dalam taksi, pikiranku melayang-layang tidak keruan, bertubrukan dengan semrawutnya pemandangan kota yang riuh-rendah oleh kendaraan dan orang-orang yang berlalu-lalang. mampukah aku dekat kembali dengan ayah? benarkah jalan yang sudah ku ambil ini? mampukah aku memendam perasaanku seperti yang diperkirakan oleh Elia, bila ternyata ayah masih bersikap dingin padaku karna telah menganggap ku mati?
"Berhenti sebentar!" seruku kepada sopir.
taksi berhenti di depan sebuah mini market. aku membeli rokok dan kemudian berangkat lagi.
apapun yang terjadi akan ku Terima. bukankah Rinna telah memberitahu ayah tentang ini semua? mungkin tidak akan secanggung yang aku pikirkan.
"Putar ke kiri, pak. berhenti di depan rumah itu."
taksi berputar pelan dan tiba-tiba hatiku berdebar-debar hebat. apa yang akan terjadi? dari seberang dapat kembali ku lihat rumah masa kecilku ini rupanya tak banyak berubah, malah terasa lebih besar dan lebih megah dari sebelumnya. taksi terus melaju, sejauh aku mencoba tenang dengan suasana kota, aku tetap saja merasa cemas dan gelisah.
perasaan berdebar-debar itu kian kencang ketika taksi memasuki sisi jalan sebelah kiri, tepatnya di depan gerbang rumah ayah. rasanya jantungku mau copot. tapi, ah, rindunya. aku harus tetap tenang, tidak gugup; meskipun kenyataannya aku hanya bisa berpura-pura tenang dan berpura-pura tidak gugup.
__ADS_1
keluar dari taksi, pemandangan siang tampak begitu indah dan tenang, dengan langit yang sedikit cerah serta udara yang terasa cukup bersih. sebab di kejauhan sana, di sebelah barat cakrawala, mendung awan tebal hitam menggantung, seakan mengancamku. aku masuk ke dalam gerbang rumah, dan rupanya pak Andrean masih bekerja jadi satpam di rumah ini. beliau segera menyambut ku dan membantu membawakan tas dan koper ke dalam.
"Tuan Dami?! akhirnya anda kembali, saya sangat merindukan anda. kemari, kemari biar saya bantu."
"Terima kasih pak An."
Di rumah itu, apa yang sedang ayah lakukan? apakah dia juga berdebar-debar dan berpura-pura tenang? Tapi, astaga ternyata ia sudah berdiri di depan pintu, bersama dengan Rinna di sampingnya.
"Akhirnya kalian datang juga." Sambut Rinna begitu ramah.
namun aku masih membisu, diam terpaku. ayah menatapku, dan aku juga menatapnya. dia menatapku dingin seperti biasa, sikapnya masih sama terlihat begitu arogan dan berwibawa. wibawanya yang tinggi memancar dari caranya berdiri dan menatap.
Aku pun beranjak dari tempatku tegak untuk menghampirinya. aku sedikit terkejut saat dia menepuk pundakku sedangkan tangan satunya masih tersembunyi di pinggang belakangnya.
"Maaf dan Terima kasih, sudah mau menerima ku kembali." kataku.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya.
"Baik."
"Hidupmu nampaknya tak berjalan mulus, maka aku tak keberatan untuk menerima mu kembali. mau bagaimana pun juga, kamu adalah satu-satunya anak laki-laki keturunanku. itu artinya, kamu masih menjadi tanggung jawabku."
aku hanya diam, mengiyakan, tapi dengan perasaan berat, karena aku tahu dia masih tidak sepenuhnya benar-benar menerimaku apa adanya.
"Ayah... "
Tiba-tiba Elia menyambung dari sampingku, dia menjulurkan tangannya begitu sopan dan penuh hormat untuk mencium telapak tangan ayah. namun, ayah hanya memandang Elia, kemudian merangkul tanganku begitu gagahnya, sambil sesekali menepuk dadaku penuh kebanggaan. sepintas ku lihat Elia jadi kikuk tersenyum kaku...
"Ayo masuk, kamu pasti sudah lelah. ayah sudah minta bi Hera untuk menyiapkan kamarmu."
ayah menarik ku masuk ke dalam rumah dengan rangkulannya. dia terlihat begitu hangat berbeda dari yang ku pikirkan seharian dari kemarin.
__ADS_1
"Terima kasih." kataku.