
di Sebuah malam yang mendung, setelah pulang dari kerja, di mana aku sedang beristirahat di ranjang kamarku. sambil memandangi lagi hadiah ulang tahun yang sudah ku susun dan ku rekatkan kembali menjadi satu. gambar edelweis di sebuah sobekan koran lama. aku kembali terharu, maknanya kembali menyentuh kalbuku. "Cinta Sejati dan Abadi."
ku cium gambar itu. rindu yang tertahan dalam diriku perlahan mencair oleh kata-katanya saat memberikan ini untukku yang hadir dalam ingatan, seakan aku tengah merasakan dia bicara kepadaku. suaranya mengambang di udara, menggetarkan di sekeliling telingaku. sementara mataku menerawang jauh, menembus kegelapan malam yang kelabu, dengan bintang mungil yang berserakan bagaikan mutiara yang mustahil untuk di petik.
sekuntum bunga di musim semi, gugur saat musim dingin. meninggalkan wanginya dalam pikiranku.
nampaknya malam ini aku, kembali tidak bisa tidur...
...****************...
aku bangun kesiangan.
hawa dingin membuatku ingin tetap berada di tempat tidur, menutup seluruh tubuhku dengan selimut tebal sambil memeluk gambar buatan Elia, hanya itu lah yang mampu membuatku merasakan kehadirannya. tapi, aku harus segera bersiap untuk memenuhi undangan Donny, sahabatku.
agar tampak sopan dan sedikit terhormat ku kenakan pakaian setengah resmi tetapi juga terlihat santai. sebagai penghangat, ku lengkapi penampilanku dengan jaket wol tebal dan kerah yang sengaja ku tegakkan agar leherku terhindar dari udara dingin yang menyiksa, nampaknya sebentar lagi musim dingin akan datang.
setelah merasa lumayan beres, aku segera melangkah ke luar rumah. berhubung hari ini libur, aku juga bisa menyegarkan pikiran dari urusan kantor dan setidaknya, aku punya kegiatan lain untuk menyibukkan diri. Ayah pergi ke luar kota, seperti biasa. dan Rinna istirahat di kamar karena usia kehamilannya yang rentan.
setelah kendaraan memasuki jalan raya, pemandangan kota begitu ramai oleh orang-orang yang bertamasya bersama, berbeda dengan suasana malas dan senyap di dalam rumah. ku pikir suasana rumahku selalu sama dengan keadaan di seluruh kota ini, rupanya tidak.
ku nyalakan rokok untuk menghangatkan badanku yang masih saja kedinginan meski telah mengenakan pakaian berlapis lapis, mungkin karena AC mobil yang agak kencang.
di tengah lalu-lalang manusia dan kendaraan, di tengah kota yang ramai ini, perasaanku seperti di serang melankolia. selain melihat kegigihan sahabatku yang telah bersusah-payah mengunjungi ku di tempat yang jauh ini, dan keinginannya untuk memperkenalkan kekasihnya, aku sebenarnya agak kebingungan bagaimana tanggapan dia saat aku datang tanpa Elia. "Aku ingin melepas rindu dengan kalian berdua, harus datang. aku ingin kencan ganda!" dia menegaskan lewat telpon lagi tadi pagi.
sampailah aku di The Romantic Garden. gedungnya cukup besar, dan tempat parkirnya juga lebar. sesuai namanya, hampir setiap sudut cafe ini di hiasi kembang dari berbagai jenis.
__ADS_1
begitu masuk, aku segera duduk di meja bagian pojok, hampir seluruh kursi di sini sudah penuh oleh pasangan muda mudi yang berkencan. mataku menjelajah ke penjuru ruangan, mencari-cari di mana Donny berada. Tapi, belum ku dapati juga dia. seorang pelayan menghampiriku. menawarkan pesanan.
"Capuccino kayu manis?" tanya pelan, agak memekik dan berusaha tetap sopan.
"Ya."
"Tidak ada. tapi ada air mineral atau kopi susu biasa."
"Mineral saja. di tambah kue atau pudding apa saja... "
aku kembali merenung, begitu rindunya aku sampai di cafe pun aku memesan makanan yang sering dibuatkan Elia. namun, di tengah itu semua betapa terkejutnya aku melihat Donny tiba di depanku bersama seorang perempuan yang, nampaknya aku mengenalnya. di dalam pikiranku...
"Kamu sudah di sini?!" tanyanya.
Ku perhatikan gadis yang menggandeng mesra tangannya, dia tampak malu-malu sambil menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
"Ka-kalian saling mengenal?" ucap Donny.
memang, aku telah mengenal Vania cukup baik, bahkan kami sempat terlibat masalah sampai Akhirnya terjadilah perpisahan antara aku dan Elia. tetapi, aku tak akan menyalahkannya, sebab Vania pun sama seperti ku. dia tak tahu bahwa aku telah menikah. dan terakhir ku dengar, dia telah membatalkan perjodohan kami karena mengaku mencintai orang lain, apakah itu berarti orang itu Donny? tapi bagaimana mereka bisa saling mengenal? sedangkan Vania saja belum lama di sini.
suasana jadi sedikit kikuk dan canggung. hingga akhirnya kami saling terbuka satu sama lain.
"Sebenarnya kami tidak benar pacaran, hanya bertemu di aplikasi kencan. aku ingin membuktikan pada Amanda bahwa aku telah bangkit dari mencintainya. aku bukan pengemis cinta. dan aku pun ingin menunjukkan pada orang-orang yang sering mengejekku bujang lapuk. aku malu karena sering diejek tidak bisa melupakan Amanda."
begitulah Donny menjelaskan awal mulai pertemuannya dengan mantan wanita yang ingin di tunangkan dengan ku, kemudian Vania;
__ADS_1
"Aku menyetujui kesepakatan untuk pacaran pura-pura dengannya agar ayah yakin dengan keinginanku. aku tidak mau jadi duri di pernikahan orang lain. ayahmu memang mengatakan kalau kalian akan bercerai dan meminta ayahku untuk meneruskan perjodohan. tetapi, aku tahu bahwa kamu dan gadis polos itu saling mencintai. karena itu, untuk membatalkannya aku pura-pura sudah memiliki kekasih diam-diam selama ini, dan aku sangat mencintainya."
"Apa? Bercerai?" sergah Donny dengan ekspresi terkejutnya yang khas. "Sampai segitunya?"
"Entahlah. ini semua karena kesalahanku. semenjak tinggal di sini, Elia kurang mendapat perlakuan yang baik dari keluargaku, sampai dia lelah dan ingin berpisah."
"Kenapa tidak pindah? dan kembali ke rumah lama? di situ kan lebih tenang. kalian hidup berdua saling mencintai."
"Ayahku mengancam untuk melakukan apapun pada orang tua Elia, jika aku pergi dari rumah, karena hutang orang tuanya yang begitu banyak."
"Jahat sekali... " Ucap Vania pelan. "Lalu sekarang bagaimana? kalian akan benar-benar berpisah?"
"Saat tahu kalau di jodohkan, aku marah besar. sampai terjadi keributan. aku memutuskan untuk pergi bersama Elia, ayah juga sudah tidak mempermasalahkan soal hutang lagi. tetapi, Tiba-tiba Elia membuat pengakuan yang membuat aku jadi sangat marah dan kecewa. dia mengatakan sudah lelah berpura-pura, dan tugasnya sebagai pengantin untuk merawat ku telah usai. tak ada cinta, semua hanya karena tugas. sampai dia merobek hadiah ulang tahun yang di buatnya sendiri untukku. padahal maknanya begitu dalam; Cinta abadi dan sejati. tetapi rupanya itu hanya sekedar kata-kata... Kini kami telah berpisah, sampai sekarang aku belum tahu kami akan bercerai atau bagaimana, sesungguhnya aku tidak rela, karena aku masih sangat mencintai dia."
"Kamu tahu Damian? terkadang seorang pria terlalu lambat mengambil keputusan dan terlalu lemah untuk mengambil tindakan. sama seperti kamu yang sudah tahu gelagat ku yang menaruh perhatian lebih padamu, tetapi kamu memilih untuk tidak memberitahuku lebih awal bahwa kamu telah menikah. hingga perasaanku jadi lebih dalam, dan istrimu jadi berpikir macam-macam," Vania berhenti sejenak, kemudian menegakkan kepalanya menatapku dalam dalam. kemudian melanjutkan.
"Kamu mengatakan mencintainya, tetapi saat istrimu berbohong pun kamu tidak tahu. bagaimana bisa kamu tidak sadar akan cintanya dan percaya bahwa semua itu hanyalah bagian dari tugas. dia memberikan kamu hadiah yang begitu sederhana, tetapi di dalam semua itu, dia memberikan segalanya untukmu, cinta, ketulusan, kasih sayang, dan hidupnya. dia mencurahkan dan menyimbolkan sebagian kecil cintanya ke wujud hasil tangan yang bisa kamu pegang dan rasakan. sama seperti yang aku lakukan, aku membuat patung Phoenix semalaman selama beberapa hari hanya untuk dirimu, mencurahkan cintaku di dalamnya agar kamu tahu bahwa aku benar-benar cinta. aku ingin memberikan yang terbaik. sampai aku lupa makan dan istirahat."
"Mungkin ada beberapa hal yang kamu tidak tahu, yang ada dalam pikiran istrimu, dan yang terjadi di balik pengetahuan kamu."
sebuah kejutan tiba-tiba menusuk jantungku. dalam tiap kalimat Vania, mungkin karena ia juga perempuan, menyadarkan aku dan membuka mataku.
"Dia tidak pergi, jangan sedih. dia masih mengharapkanmu," ujar Donny sambil menepuk-nepuk pundakku.
momen ini membuatku tiba-tiba teringat sebuah kalimat yang seharusnya tak boleh ku lupakan seumur hidup:
__ADS_1
Saat seseorang mencintaimu, mereka tak harus mengatakannya. Kamu akan tahu dari cara mereka memperlakukanmu.