
"Kamu yang membuat kalimat ini?" tanyaku.
"siapa pun yang membuatnya tidak penting," tukasnya. dia membetulkan posisi duduknya dengan menaruh kedua lengan di atas meja, seolah sedang memaksaku untuk bersikap layaknya seseorang yang dia hormati. aku merasa kikuk, namun aku hanya bisa duduk tenang di depannya sambil menunggu apa yang akan dia katakan selanjutnya. dia menarik nafas pelan-pelan, tersenyum dan memejamkan mata, kemudian memandangku dengan saksama.
"Aku menemukannya di buku syair saat ke perpustakaan beberapa waktu lalu," ujarnya dengan nafas agak berat. "Tetapi yang penting, kalimat itu mewakili perasaan diantara kita berdua."
dia diam sejenak, membetulkan mantel nya yang terbuka, lalu kembali berkata.
"Saat pak Damian mencium ku, itu adalah hadiah terbaik yang pernah ada. melebihi dari hadiah barang dan bunga sebagainya. saat pak Damian meminjam uang ke sana kemari hanya untuk biaya ujian ku, dan sekarang membawa ku makan di luar rumah hanya untuk merayakan ulang tahun, padahal kondisi keuangan kita pun sudah di ujung tanduk. semua itu tak ayal menepis ucapan pak Damian yang mengatakan tak merasakan apa-apa. tanpa pak Damian jelaskan, aku... tahu pak Damian mencintaiku... begitu baik. begitu pula aku, ku harap tanpa harus menjelaskannya, pak Damian sudah merasakan sebesar apa aku mencintai."
aku gemetar mendengar suaranya. aku membisu terdiam kaku. apa yang baru saja dia katakan masih jelas di telingaku. aku mencoba meragukannya, tapi kalimat itu hidup lagi, seperti musik pada piringan yang di putar terus sepanjang malam. dan betapa tersiksa nya aku apabila harus mendengarnya sampai pagi, aku akan semakin hanyut dalam ilusi dan cintaku semakin mengalir memenuhi hati..
Aku meneguk kopi dan menghirup kuah sup miso ku.
"Bicaralah, pak Damian. bagaimana? bagaimana?" Kecamnya.
ku tatap matanya yang menyala karena tak sabar menunggu.
__ADS_1
"Iya..., " jawabku pelan. "Aku mencintaimu di atas segalanya."
kami kembali terdiam dan tenggelam dalam perasaan masing-masing. malam kian meraja dengan bintang-bintang yang berkedipan. angin malam berdesir kian kencang. tubuhku jadi menggigil. dia menatapku sambil menggigit bibirnya menahan senyum dan aku menatapnya sambil bertopang dagu. kami saling bicara lewat mata, sementara mulut kami terkunci. musik terus mengalun lembut. tempat makan ini mulai di tinggalkan pengunjung, tinggal beberapa orang saja yang masih bertahan.
"Aku mencintai pak Damian, aku begitu mencintaimu." katanya.
ku tatap matanya lebih dekat untuk memastikan bahwa dia tidak main-main dengan kata-katanya. tatapannya nanar dan berbinar akhirnya ia mampu meluapkan beban perasaannya yang menggunung.
Aku tersenyum simpul, bahagia sekali...
akhirnya, setelah selesai makan malam kami beranjak untuk pulang. Elia menunggu di depan outlet sedangkan aku menunggu kasir menghitung total makan kemudian membayarnya.
"Kamu bahagia malam ini?"
dia mendongakkan kepalanya ke atas, menatap wajahku. "Bahagia Tak terkira....
mimik mukanya membuatku tak mampu menahan tawa, kedua ujung bibirku melengkung, membentuk senyuman.
__ADS_1
sepanjang jalan kami habiskan sambil menikmati panorama langit malam, bertabur bintang di langit yang legam. indah sekali.. seperti manik di kertas polos. hingga akhirnya sampailah kami di rumah, namun, nampaknya ada yang berbeda di teras rumah malam ini.
ada seseorang yang datang, seorang wanita tinggi yang duduk di kursi depan. kami segera mempercepat langkah kaki untuk menyambut tamu yang agaknya sudah menunggu kami cukup lama.
"Mohon maaf, cari siapa?" ucap Elia.
perempuan itu beranjak dan menoleh. aku mengerutkan dahi saat ku lihat wajah sang tamu yang tak asing. seperti pernah ku lihat.
"Kamu Damian, dan apakah kamu gadis itu, menantu ku?"
dia memeluk Elia, meskipun Elia sendiri mematung kebingungan.
Siapa? ku ulik-ulik ingatanku sekedar untuk mendapatkan memori tentang perempuan ini, mengapa dia bertingkah seakan mengetahui tentang kami.
hingga akhirnya yang ku butuhkan terbesit juga, wajar dari awal aku merasa tak asing.
"Untuk apa datang kemari? apa yang kamu inginkan?!"
__ADS_1
ya, dia adalah Rinna. istri kedua ayahku sekaligus ibu tiri yang belum bisa ku Terima kehadirannya.