Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Pernyataan Cinta di Keharmonian Semesta


__ADS_3

Sepulang dari cafe, seperti biasa Elia menyambut ku di depan beranda rumah. nampaknya dia telah menunggu ku pulang dengan membawa kabar gembira. suasana tenang menyelimuti ku. suasana tenang yang tercipta dari udara siang yang ramah.


"Selamat Datang, Pak Damian." sambutnya sumringah seraya bangkit dari kursi duduk di depan rumah.


dari dalam mobil aku tersenyum simpul melihat senyumnya yang penuh semangat. sangat teduh untuk suasana hari libur seperti ini. meskipun biasanya aku membenci energinya yang membara begitu, tetapi agaknya sekarang energi itu lah yang membangkitkan jiwa ku untuk kembali hidup.


"Aku tidak menyangka akan secepat ini, apakah semua berjalan lancar pak?" katanya saat aku turun dari mobil.


"Seperti yang kamu lihat." kataku.


Seketika itu pula si coklat dalam matanya membulat berbinar-binar, "Bu Amanda tidak marah?"


aku menggelengkan kepala.


"Bu Amanda Terima dan tidak lagi mengancam kita?"


aku mengangguk, mengangguk untuk meyakinkannya.


dia tersenyum, manis sekali. dan aku balik menatapnya dengan senyuman simpul. lalu dia mengajakku masuk dan menyeduhkan kopi hitam yang hangat untuk melawan rasa lelahku karena menyetir mobil cukup jauh ke kota, sehingga keadaanku perlahan-lahan kembali segar.


ku perhatikan Elia yang sedang masak untuk makan siang sambil mereguk kopi yang diseduh olehnya. tentram sekali, seperti cuaca hari ini. cahaya tajam matahari kemarin telah surut, dan hawa sejuk mengalir di sekeliling, mengusap-usap punggung dan pikiran yang penat.


Sesekali ku lihat Jam dinding, ternyata masih pukul 11 siang. sisa waktu yang cukup panjang di hari libur. cuitan burung dari luar membuat lamunanku mengalir. kalau di pikir sudah dua bulan aku hidup bersama Elia, tetapi kami bahkan belum pernah menghabiskan waktu bersama, aku pergi bersama Amanda tetapi tak pernah bersama istriku sendiri.


Akhirnya, Sambil makan siang, ku pikirkan hal yang tepat untuk menikmati waktu sisa-sisa hari libur. alunan suara alam menemani ku mencari keputusan. Hingga kemudian terbesit lah pantai biru di ujung desa, alam yang asri karena tak terjamah oleh warga kota.


setelah makan siang ku ajaklah Elia bersiap, dan ku bukakan pintu mobil untuknya, hal yang jarang sekali ku lakukan.


"Mau kemana kita?" katanya sambil memasang Seatbelt.


"Jangan Khawatir, duduk dan diam saja."


kami terus menyusuri jalanan yang cukup panjang, dia menikmati musik yang ku putar mungkin karena musik yang ku putar cocok di telinganya. matanya menoleh kanan dan kiri, mengamati jalanan yang semakin sepi.


sesampainya di tempat yang kami tuju. ku parkir mobilku depan swalayan kecil yang menyendiri. lantas segera ku tuntun Elia turun ke bawah untuk menikmati keajaiban alam yang berisi air biru berombak. sepi... sunyi... dan menenangkan.

__ADS_1


"Ini adalah tempat tersembunyi, bahkan penduduk setempat tidak pernah mengunjunginya."


"Indahnya." katanya berdecak kagum, sambil memegangi dada mengisyaratkan bahwa ia memang menikmati karya Tuhan satu ini.


begitu juga aku, aku pula tengah menikmati polesan Tuhan dalam keajaiban wujud seorang gadis. pada penghabisan pipinya yang menyala-nyala, sebuah lengkung perak dengan zamrud hijau imitasi menjuntai di daun telinganya. sementara, rambutnya yang gelap dan tipis di tarik ke belakang dan memusat pada sanggul bergaya putri dari negara timur.


sebuah pembawaan yang mempesona dalam keseluruhan dan detailnya, dengan daya hidup yang membina setiap gerak geriknya dari dalam, seakan-akan ada kekuatan gaib yang mampu menyihir lingkungan di sekitarnya.


"ada apa?"


dia balik menatapku. Oh, betapa malunya aku, dia tahu ada seseorang yang sedang mencuri pandang dan terkesima menyaksikan penampilannya yang lebih memukau dari biasanya.


"Bukan apa-apa." kataku. "Tempat ini indah, kan?"


aku segera beranjak menghampirinya agar lebih dekat "Elia, dengar. Pernahkah kau melihat matahari biru tenggelam?"


"Matahari biru tenggelam?" jawabnya heran.


"Tidak mungkin ada dan bagaimana mungkin bisa ada, ya kan? bahkan kau tidak tahu, kau tidak akan pernah melihatnya satu kali pun, kecuali jika kau pergi ke mars. Tapi ayahku mengatakan bahwa dia pernah melihatnya sekali. dia mungkin hanya membual tentang hal-hal yang tidak di ketahui anak-anak."


"Dia adalah seorang pemimpin perusahaan dan kepala keluarga Toma, dia selalu pergi ke luar negeri untuk perjalanan bisnis. semua orang tahu dia adalah seorang workaholic. karena itu lah sejak lahir aku tak pernah mendapatkan perhatian darinya, dia bahkan kadang tak ada waktu untuk keluarga. namun, aku memaklumi karena dari kecil aku selalu di ajarkan bahwa yang di lakukannya karena dia mencintai keluarganya. Tapi kadang-kadang saat dia berada di rumah, aku selalu berusaha untuk mendapatkan sedikit waktunya, dia selalu membuat cerita bualan seperti itu dengan senyum di wajahnya."


"Dan ketika aku berumur 14 tahun, aku semakin kehilangan sosok dirinya. bahkan senyumnya pun tak pernah lagi nampak ku lihat. puncaknya, saat terjadi kecelakaan yang menimpa ibu. ayah memutuskan untuk menikah lagi, dengan perempuan muda yang usianya tak jauh dari usiaku. aku tak bisa menerima itu, dia bahkan mampu melupakan ibu semudah itu. aku semakin kehilangan dia karena kehadiran perempuan lain di keluarga kami. dia mengajarkan tentang cinta, dan merusaknya hingga ke dalam-dalam. karena itu, aku tak pernah percaya tentang cinta, aku membenci semua hal tentang perasaan."


ku hentikan langkah dan berbalik badan menatap Elia. aku menangkap pandangan matanya yang lembut dan khidmat. auranya terpantul pada caranya menatap,


"Aku tidak pernah menceritakan ini sebelumnya, kamulah yang pertama. kau tidak benar-benar mendengarkannya, kan? cerita seperti ini." kataku


dia hanya diam.


"Elia.. " kataku, kami saling berpandangan, menduga-duga adakah yang berubah pada diri kami masing-masing.


"Setelah kamu lulus nanti, ayo bentuk keluarga sesungguhnya dan memiliki anak."


sontak dia terkejut, ku lihat dia meneguk saliva. liur itu masuk ke dalam tenggorokannya, terpancar dari urat birunya yang mengombak bagai gelombang air di pantai.

__ADS_1


"Ini pertama kalinya aku jatuh cinta. Makanya, aku pikir aku bisa terus hidup dan pergi kemanapun jika bersamamu." kataku diplomatis, meyakinkannya.


"Itu alasannya? bukankah tadi pak Damian mengatakan tak pernah percaya tentang cinta, dan membenci semua hal tentang perasaan."


"Kaulah yang mengatakan akan membuatku jatuh cinta. dan sekarang kau telah membuktikannya, ku rasa kau telah berhasil."


aku berjalan mendekat. menghampirinya lagi.


"Jadi bagaimana? ini kurang lebih adalah lamaran resmi dariku."


lantas setelah itu, dia memutar badan membelakangi aku seakan ia menghindari tatapan mata milikku.


"Kalau pak Damian sampai begitunya... Aku mau." katanya malu-malu.


mendengar itu tanpa ragu, ku peluk dia dari arah belakang. menyandarkan daguku di bahunya yang kecil dan pendek.


"Pak Damian... "


"Aku mencintaimu, Elia. jika itu demi dirimu, aku bisa berhenti jadi guru di sekolah." aku berbisik di telinga nya lalu ku putar kembali badannya, "Tapi, jika ini sampai di ketahui orang lain seperti Amanda kemarin. kamu bisa di keluarkan, karena itu sampai kamu lulus, kita harus tetap seperti guru dan siswi. Kamu mengerti?"


"Ya." katanya dengan mimik masygul penuh haru.


ku raih tangannya, dan memegangnya erat-erat untuk menguatkan hatinya yang sedikit lebur.


"Jangan khawatir, apapun yang terjadi aku akan selalu melindungi mu. Ok?"


Dia kembali mengangguk, "Iya."


aku tersenyum dan dia pun ikut tersenyum "Sini." ku tarik tangannya, menuju air yang mulai menyentuh bibir pantar. "Kemari lah."


"Tunggu!"


"Ku tangkap kau."


sepanjang garis pantai, angin berdesir dan ombak menghapus jejak kaki di pasir. kami berlarian, saling mengejar seperti anak kecil yang bermain lari-larian. jiwanya yang masih remaja dan manja memanggil-manggilku untuk menggapainya, gairah masa kecil yang ku rindukan melebur di keromantisan suasana alam yang mulai menjingga.

__ADS_1


"Saat waktunya tepat nanti, kita akan tunjukkan pada dunia dan semua orang. bahwa kita adalah pasangan dan keluarga."


__ADS_2