
Hari demi hari berganti, cinta kami terasa semakin kuat dan basah, penuh kesejukan. setiap hari ku lingkari angka-angka yang ada di kalender bulan ini. akhirnya Ujian Akhir telah berlalu dan Hari ini tepat satu bulan setelah penantian panjangku. pengumuman kelulusan Elia di bacakan siang ini, kabar apakah yang akan ku Terima darinya?
seperti biasa aku menunggu di ujung jalan depan gerbang sekolah, tapi kali ini ada yang berbeda, ya, aku menyewa sebuah mobil untuk menjemput kekasih abadi ku karena hari ini adalah hari yang spesial untuk kami. meskipun hanya mobil tua yang mengerikan...
tidak lupa, aku juga sudah menyiapkan tiga tangkai lily putih kesukaannya, sebagai hadiah.
dari kejauhan sana, siswa-siswi sudah berhamburan dengan wajah bahagia yang pecah. mereka adalah para murid yang menerima kelulusan hari ini, mereka telah melalui ini semua dengan penuh perjuangan maka ekspresi suka ini sungguh menyentuh sekali.
Saat keadaan sekolah sudah mulai sepi, dari dalam mobil aku pun bersiap-siap untuk menyambut Elia yang sudah terlihat di depan gerbang. aku berharap perjuangannya terbayarkan dengan impas, tentang papan top Score sendiri, aku tak akan mempermasalahkan, bagiku kelulusannya saja sudah mampu mengubah seleraku yang mungkin terlalu datar dan membosankan.
Aku keluar dari mobil. kemudian melambaikan tangan padanya, dia berlarian ke arahku dan ku sambut dengan lily putih kesukaannya.
"Aku, telah lulus." katanya tersenyum.
"Ya, Selamat." kataku datar, mencoba untuk tenang. "Apa yang ingin kau lakukan sekarang?"
dia membisikkan tujuannya ke telingaku, seolah tengah memberi berita yang amat penting bagiku. "Aku ingin berpegangan tangan."
Pecah aku bagai gumpalan batu yang meledak jadi berkeping-keping, sederhana saja namun aku jadi salah tingkah. seperti kumpulan bola-bola kecil yang di acak-acak dalam gelok undian hadiah. terombang-ambing tidak karuan.
akhirnya, ku julurkan tanganku di depannya dan tangannya segera datang.
__ADS_1
"Tanganmu kecil, dan dingin." kataku.
"Tangan Pak Damian hangat, dan besar." balasnya.
lalu diangkatnya genggaman tangan itu menempel di pipinya yang bulat, tanganku yang katanya besar ternyata hampir memenuhi setengah wajahnya.
"Aku senang mengenal pak Damian."
"Tak ada sesuatu yang baru dalam hidupku sebelum kamu datang... aku lah yang seharusnya mengatakan itu." timpal ku.
ku ajak Elia masuk ke dalam mobil, sebelum menyusul ku pandangi lagi bangunan sekolah yang menaungi kami selama ini.
jika hari esok tiba, tempat ini sudah bukan lagi milik kita... dan seseorang akan membuat sejarah baru lagi. tetapi, semua hal yang ku renungkan di sini, semua hal yang ku ragukan di sini, semua hal yang ku pikirkan di sini... akan tetap ada dalam diriku, dan akan menjadi kekuatan menuju jalan yang akan ku susuri mulai saat ini.
kenangan apapun itu.. kegembiraan, kesedihan, segalanya akan menjadi kekuatanku. selalu menjadi tempat bersejarah dalam mahligai perjalanan cinta antara aku dan Elia.
aku segera masuk ke dalam mobil. ku lihat Elia sudah duduk manis sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, mengamati setiap inci interior kendaraan sewaan ku yang mengerikan. kulit jok bagian depan telah terkelupas di sana sini, seperti seseorang yang menderita luka-luka, sementara lantainya tanpa pelapis sehingga getarannya terasa begitu keras. ruangan gelap dan sempit, seperti suasana di dalam brankas, sehingga membuat nafas jadi terasa sesak.
"Mobil dari mana?"
__ADS_1
"Aku menyewa nya dari kakek ujung kebun. hanya dia yang memiliki mobil di sekitar rumah kita."
"Mobilnya sangat eksentrik." dia mengomentari kendaraanku yang tua yang terlihat seperti mesin tua rongsok.
kami terus melaju sepanjang jalan yang masih basah dan licin. aku harus lebih berhati-hati menyetir agar tidak tergelincir. Elia terus berpegangan pada kulit bangku yang sudah parah penuh sobekan. "jangan ngebut pak Damian. dari pada sewa mobil, lebih baik naik bus saja. tempatnya tenang, ongkosnya lebih murah, dan tidak perlu repot buat negosiasi dengan pemilik." katanya keras-keras, seolah aku berjarak sepuluh meter darinya.
"Ya," sahutku.
kami terus menyusuri jalanan yang ramai, bercakap-cakap sambil terus berpegangan.
"Aku peringkat ke tujuh, itu artinya berhasil masuk top Score." katanya pelan. "Bagaimana? pak Damian bangga tidak?"
aku gemetar mendengar suaranya. aku membisu, terdiam kaku. apa yang baru saja dia katakan terdengar jelas di telingaku. dia berhasil meraih impiannya, begitu bahagia sampai membuatnya terisak.
ku pandangi dia. dia masih terisak dan mengusap air matanya dengan syal. aku terharu, bukan karena oleh air matanya yang baru kali ini ku saksikan, bukan pula oleh kecantikannya yang menggetarkan, melainkan oleh kegigihan dan tekadnya yang kuat dalam mencapai keinginan. semua itu di ungkapkan melalui ekspresi yang begitu murni dan rendah hati.
"Selamat, aku bangga sekali padamu." katu tersenyum simpul sambil menggosok rambutnya yang legam.
sesampainya di rumah, ku dapati sepucuk surat di atas meja depan teras. surat yang di kirim oleh seseorang, Keluarga yang ada jauh di sana.
Damian, kami sudah pulang dari perjalanan bisnis. ku dengar Elia lulus hari ini, ya? sampaikan salam kami untuknya, ya?! besok pindah lah ke sini! ayah sudah tak sabar menunggu kamu kembali.
__ADS_1