
Donny menangkap pandangan mataku yang jauh ke depan, akhirnya terpanggil untuk mengikutinya. lalu kembali beralih menatapku yang masih membisu.
"Jangan Khawatir, ku rasa dia pun sedang mengulur waktu karena ini jam pulang sekolah, jadi masih ramai anak-anak." Donny berseloroh sambil matanya menunjuk ke belakang pada sosok yang ku nanti dari awal.
"Tenang saja, aku akan menemani mu mengobrol sampai sekolah agak sepi. biar tidak terlalu mencolok kalau mau menunggu sang pujaan." ucap Donny sambil tersenyum menggodaku.
"Oh! Maaf, aku tidak bermaksud. kalau kamu ada pekerjaan tak apa, aku akan menunggu di toserba depan."
Donny hanya tersenyum lalu kembali mengajakku berbincang-bincang. dia memang sahabat yang begitu pengertian, sayang cintanya jatuh pada gadis yang salah. ku pikir Amanda, tak pantas mendapatkan cinta tulus dari pria sebaik Donny ini.
aku masih gagal fokus pada Elia dan bocah basket yang asik mengobrol juga di depan sana, tepatnya di samping pintu gerbang. nampaknya selama aku tak lagi di sini, mereka semakin akrab saja. Oh, sungguh membuat kesal...
selang beberapa waktu kemudian, akhirnya sekolah mulai sepi. memang ada beberapa murid yang menyadari kehadiran ku, namun mereka baik baik saja karena aku mengobrol dengan Donny. ada juga beberapa di antara mereka menyapa, dan ku balas pula dengan senyuman.
"Aku kembali ke kantor dulu ya, hati-hati pulangnya." Donny kembali menepuk pundakku. menyadarkan ku dari ilusi api cemburu.
namun ada yang lebih mengejutkan ku, yaitu saat Donny pergi sosoknya malah terganti pada seorang gadis cantik penuh kilau yang begitu ku cinta. dia berdiri di hadapanku dengan senyum khasnya yang menenangkan.
"Kamu sudah di sini?!" tanyaku.
__ADS_1
"Tadi aku duduk di situ, di belakang pak Donny," katanya sambil menunjuk kursi tunggu halte bus di belakangnya. "Tapi, mata pak Damian tidak melihatku, karena aku sembunyi di balik dinding itu... tapi seharusnya tetap sadar ya saat aku mendekat ke sini, pak Donny saja tahu. sedang melamun ya?"
"Oh, ku pikir kamu sedang ke Toilet, atau masih asyik mengobrol dengan anak laki-laki tadi. seperti biasanya... "
"Anak laki-laki? Nah, mulai berani mengejek lagi ya?"
"Tidak mengejek, kenyataannya kamu memang sering ke toilet atau mengobrol dengan siswa lain. karena kamu bukan anak yang pendiam, kamu anak yang terbuka, luwes dan mudah akrab, bukan?"
"Sudahlah, pak Damian pasti lapar. pulang yuk?! aku buatkan sup pangsit terenak." Sergahnya sambil membusungkan dada dan tersenyum begitu sombongnya.
"Baiklah," kataku.
kami pulang ke rumah dengan menaiki bus, Elia duduk di sampingku dengan tenang, sambil bernyanyi-nyanyi kecil.
"O-oh!" jawabku malas.
bus yang kami tumpangi terus melaju. dan Elia terus bersenandung. suaranya sungguh sangat menghibur diriku, tetapi tidak dengan hatiku. ya, mungkin aku sudah terlalu tua untuk merasa marah dan cemburu. tapi soal cinta? ku rasa cinta tak mengenal usia. Aku khawatir sekali...
kami berhenti di depan halte depan jalan, tinggal naik bukit sedikit agar sampai ke rumah. di tengah perjalanan dia meraih tanganku, namun aku tetap bersikap dingin.
__ADS_1
"Pak Damian tahu, hari ini aku bisa menjawab ujian dengan tenang. hampir semua yang ku kerjakan dan ku pelajari sebelumnya masuk di lembar ujian. aku senang sekali... baru kali ini aku percaya diri dengan nilai ujian. semua berkat Pak Damian!"
dia menatapku. tersenyum. dan aku balik menatapnya, tapi dengan mimik dingin, untuk melihat reaksinya.
"Pak Damian diam saja, ada apa denganku? apa Aku berbuat salah?"
"Tidak."
"Aku keluar sekolah lama ya, jadi buat pak Damian menunggu sampai bosan."
"Tidak juga."
"Kalau begitu jangan melihatku begitu. aku jadi panik. memang tidak bisa bersikap wajar, ya?"
di tengah pembicaraan, akhirnya kami sampai di depan rumah. aku segera mengambil anak kunci untuk membuka pintu. lalu masuk ke dalam.
"Aku buatkan sup pangsit ya? pak Damian jangan diam kan aku begini, aku jadi kebingungan. jangan menatapku dingin begini lagi, aku panik, khawatir juga."
Dia menatapku penuh harap, sampai aku sendiri jadi tak tega. ku gosok-gosok kening sambil menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Bisa buatkan coklat di campur kopi?" tanyaku.
"Bisa," jawabnya penuh semangat, kemudian pergi meninggalkan ku ke dapur.