Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Aku Juga Ingin Membuka Hati


__ADS_3

Angin berhembus mengelus tengkuk ku. Sejuk dan sepoi-sepoi. Ku rengguk lagi kopi yang nikmat dan segar. Koran terbitan lama ku tanggalkan sudah, koran yang hanya berisi ilusi-ilusi tentang kenyataan, bukan realitas itu sendiri. Ku nyalakan sebatang sigaret untuk menenangkan diri, dan ku hisap asapnya kuat-kuat, aku jadi lebih bergairah. Mataku menerawang jauh, jauh sekali... ke tempat seorang gadis yang memberikan aku ketenangan berada.


Ia duduk manis dan tampak sangat bersahaja, mengenakan pakaian sederhana namun terlihat sangat pantas dan menarik. Dia tersenyum padaku dan langsung menyalami tanganku saat aku hendak pergi bekerja. Kemudian tiba-tiba ketika aku menangis, dia menarik tubuhku, hingga kepalaku merapat ke dadanya. Dan ketika aku terus bersedih, dia menenggelamkan wajahku dalam rengkuhan kuasanya.


Ketika ku nikmati kenikmatan pelukannya, dari kejauhan terdengar suara kokok ayam mengagetkanku. Akhirnya tamatlah riwayat mimpiku, mimpi yang berisi ingatan soal semalam. Sialan.


“Elia?”


Tidak ku sangka nama itu yang pertama kali ku sebut saat aku bangun.


Aku bangun dan berjalan ke sekitar rumah sambil menahan kantuk. di kepalaku seakan ada planet mungil yang beratnya sama dengan bumi. Seluruh energiku terserap oleh daya gravitasinya yang dahsyat. Tempat pertama yang ku datangi adalah halaman samping kiri rumah, tetapi tak ada sosok Elia di sana, hanya ada pakaian yang masih basah dan baru terjemur.


“Elia!” kataku mencarinya,


Satu-persatu ruangan ku periksa untuk mencari Elia. Hingga akhirnya ku dengar suara nyanyiannya dari arah dapur.


Suaramu di kota di warnai oranye


Aku benar-benar bosan dan kesepian tanpamu


Jika aku mengatakan aku kesepian, kamu pasti akan menertawakan ku


Aku akan memeriksanya lagi dan lagi, apa yang tersisa.


Bersinar tanpa memudar, Seperti langit setelah hujan.


Aku ingat senyumanmu, mengingat itu membuatku ikut tersenyum


Aku yakin kita berdua akan tetap menjadi anak-anak yang lugu seperti dulu


Melihat setiap hari esok saat kita melewati musim yang berubah.

__ADS_1


Suaranya sangat lembut berbeda saat dia bicara dengan gayanya yang lincah. Aku merasa lega saat ku lihat dia sedang memasak, ternyata dia masih ada di sini.


“Elia?”


“Loh, Pak Damian?”


Nyanyiannya berhenti sekejap setelah aku memanggil namanya, dia menoleh padaku dengan mimik muka terkejut, imut sekali.


“Kenapa ke sini? Sebaiknya beristirahatlah sebentar lagi.”


“Tidur sendirian rasanya... membosankan.” Kataku seraya memalingkan muka.


“Pak Damian merasa kesepian tidur sendirian?”


Bam


Sial, aku keceplosan. Ku rasa dia salah paham maksud ucapanku, atau aku yang salah menyusun kalimat? Ucapanku barusan jadi terkesan sangat mesum,dan menggambarkan aku ini sebagai seorang guru cabul.


“Pak Damian kemari!”


Elia mendekat padaku dan dengan gerakan tak terduga, dia menyentuh pipiku sehingga tubuhku ikut menunduk menyamakan posisi tubuhnya. Perasaanku berdebar-debar ketika Elia menempelkan keningnya di dahiku.


“Bagus sekali, sepertinya demamnya sudah turun.”


Ku pandangi dirinya, sebuah perlakuan tulus di balik kemurniannya yang nyata. Dia menuntunku ke arah meja makan, “Di dapur hawanya dingin,” lalu dia memasangkan mantel yang tergantung di gantungan dekat ruang tengah, ke tubuhku. “Pakailah ini dan duduk di sini, sampai aku selesai menyiapkan sarapan, ya pak? Buburnya sebentar lagi jadi, jadi tidak perlu memaksakan diri berada di dapur.”


Ku pandangi lagi dirinya, saat ia kembali pergi ke meja memasak. Padahal sebentar lagi akan masuk jam sekolah, tetapi dia memilih untuk memasak dan merawat ku. Dia tidak mengeluh sedikitpun, sebagai seorang pria dewasa yang pesimis, aku merasa malu jadi gurunya.


“Pak Damian belum terlalu lapar, kan?”


Tiba-tiba suaranya yang penuh gairah menyambar hatiku kembali, sehingga lamunanku tentangnya langsung pecah seketika.

__ADS_1


“Sekolah, Elia apakah kamu tidak ingin berangkat sekolah? Ini sudah hampir terlambat kalau kamu belum bersiap sama sekali.”


“Tidak masalah Pak Damian, aku sudah menitipkan surat pada Ummi untuk izin tidak masuk sekolah hari ini.”


“Jangan! Pendidikan kamu penting, sebentar lagi ujian akhir.”


Dia menatapku dan tersenyum simpul, “Satu hari saja, tidak masalah. Kesehatan pak Damian lebih penting, aku harus merawat pak Damian sampai sembuh Karena aku sudah berjanji untuk berbakti pada suamiku.”


Jangkauan mataku menghilang dari sekitar, yang ada sekarang hanyalah sosok Elia. Siswi ceria yang menjadi istriku, “Elia, saat pergi dan pulang sekolah besok dan seterusnya, ayo kita pergi bersama!” kataku dengan semangat membara.


Kenapa aku mengatakan ini? apakah aku sudah lupa bagaimana resikonya jika ada seseorang di sekolah yang memergoki kami pergi dan pulang bersama. Aku pikir diriku tak akan memperdulikan siapapun lagi. Ingatanku jadi buruk tiba-tiba. Atau perlu ku tarik lagi ucapanku? Namun, Elia juga pantas mendapatkannya. Dia telah berjuang sampai sini dan membuktikan semua tekadnya untuk mencintai dan berbakti, jadi tidak masalah jika aku sedikit membuka hati untuknya.


“Terima kasih banyak pak Damian,”


Matanya yang coklat berkaca-kaca makin terlihat jernih, dia tersenyum menggetarkan jiwaku. Dia menatapku seakan ingin memberikan isyarat rasa bahagianya, seandainya aku bertemu kamu lebih dulu dibanding rasa pesimis dan kecewaku, mungkin aku lebih cepat membuka hati atas kehadiranmu Elia; seandainya aku dan kamu bukan guru dan siswi di sekolah, mungkin aku tak akan menjaga jarak denganmu di lingkungan luar, mungkin kita bisa mencoba menghabiskan waktu bersama, dan memberi ruang untuk saling mengenal satu sama lain. tetapi sayang, saat ini aku hanya dapat menangkap kehadirannya yang penuh energi, membiarkan diriku mulai hanyut dan mengikuti setiap kata hatinya yang liar.


“Pak Damian..”


“Apa?”


“Bolehkah nanti malam kita kembali tidur bersama?”


Dia selalu pandai memainkan jiwaku yang baru beranjak bangkit dari keinginannya untuk menutup diri, Elia seperti pemegang kuasa terhadap kendali jiwa dan perasaanku, tetapi, aku tidak menolaknya.


“Aku selalu peringatkan kamu untuk berhati-hati saat mengatakan yang berkaitan dengan peran mu sebagai istri, apakah kamu tidak memiliki rasa takut terhadap pria?”


“Pak Damian itu suamiku, jadi aku tidak akan takut jika mengatakan hal itu pada bapak. Pak Damian sendiri yang mengatakan untuk menjaga tubuhku sampai aku lulus. Sampai saat itu tiba, aku yakin kita berdua akan baik-baik saja.”


“Barusan pak Damian mengatakan bahwa tidur sendirian itu membosankan, Aku ingin menemani kesendirian pak Damian, bahkan sampai tidur sekalipun. Karena aku adalah Seorang istri,” dia berhenti sejenak menggantung ucapannya. “Tenang saja, aku akan selalu berada di sisimu.”


Hancur pertahanan diriku, ucapannya menggetarkan seluruh jiwa dan hatiku. Menjadi istri delapan belas tahun untukku, gurunya sendiri. Dia mampu memberikan ruang dan sandaran untuk diriku yang pecundang. Aku juga ingin, membuka hati Elia... cepatlah lulus.

__ADS_1


__ADS_2