Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Perjuangan Cinta


__ADS_3

"Kamu angkat kaki dari sini, ku pastikan Aku bisa mengambil apapun milik mertuamu, jangan pernah kamu lupakan, orang tua gadis itu berhutang besar padaku. bahkan anaknya saja tak akan cukup walau hanya setengah harga."


bagaimana aku harus memutuskan?


"Lihatlah bagaimana kamu akan berpikir?" Ejek ayah.


Aku mengagumi kecerdasan sekaligus cara ayah menjelaskan dasar pemikirannya untuk mengancam ku. dia bahkan lebih jahat di banding dua tahun yang lalu, sekalipun dalam beberapa hal watak kebapakan nya masih terlihat jelas.


kesengsaraan telah membuatku, secara tidak langsung kembali memasuki dunianya, sementara dia kembali menguasai hidup dan duniaku. dia amat suka mengendalikan dan memimpin seseorang, berperan sebagai dalang.


"Kalau memang Elia tidak boleh bekerja di rumah, mama mengerti Damian! mama akan berusaha sendiri. tidak perlu sampai di besar-besarkan begini, kan?"


Aku mendengus, lalu ku tarik lagi tangan Elia ke pintu depan. aku tidak perduli apa pun yang mereka katakan, aku tidak perduli apa pun ancamannya. yang pasti, aku harus membawa Elia pergi dari sini. neraka yang menyiksanya pelan-pelan.


tetapi,


dia, Elia. tak menggubris. dia membisu, diam di tempat saat aku menariknya ke depan. ku tatap dia yang berjarak sekitar satu meter dari ku sekarang, dia menunduk. kami kembali terdiam, tenggelam dalam perasaan dan pikiran masing-masing. malam kian meraja dengan bintang-bintang yang berkedipan. angin malam mulai berdesir, bahkan terasa kencang. tubuhku menggigil.


"Ada apa Elia? ayo kita pulang!"

__ADS_1


dia menatapku sambil menggigit bibirnya dan aku menatapnya dingin. kami jadi saling bicara lewat mata, sementara mulut kami terkunci.


"Aku ingin kita tetap di sini pak Damian, aku mohon turunkan emosi mu," katanya.


ku tatap matanya lebih dekat untuk memastikan bahwa dia tidak main-main dengan kata-katanya. tatapannya nanar dan pilu karena tak mampu lagi menanggung beban perasaan yang menggunung.


"Ayah benar, jangan membesar-besarkan masalah. aku sungguh baik-baik saja. lagipula... "


"Jangan bodoh Elia! kamu mau disakiti seperti apalagi agar sadar? jangan terlalu banyak berharap, karena mereka bukan bunga kemuning."


dia mendekat, matanya menyala menatapku. dan mulai terisak.


Rumit sekali, sampai aku terdiam beberapa waktu. aku menyadari betul betapa gundah yang di alami Elia sekarang. dia sudah banyak mengalah demi keluarganya.


begitulah Elia. dia orang yang suka mengandalkan intuisi. selalu menuruti bisikan hatinya, yang menurutnya mutlak untuk diikuti. katanya, intuisi itu adalah panggilan hati yang alamiah yang mampu membuat dirinya bertidak, tetap tulen dalam merasa dan berpikir. dan dengan itulah pula dia mengambil keputusan malam ini.


"Lihatlah, bintang di luar sana, apabila Tuhan tidak memberikan orbit yang pasti, bintang itu akan goyah dan kemudian jatuh. dan bayangkan jika setiap bintang tidak memiliki orbit? dunia ini akan kiamat. anggap saja aku dan keluargaku ini adalah bintang yang memerlukan orbit agar tidak terjadi kiamat. karena kiamat itu, menakutkan. biarpun kita belum pernah mengalaminya. jadi ku harap, kita bisa sama-sama memahami. minta maaflah pada ayah dan mama. aku mohon!"


"Kamu yakin dengan kehendak mu ini?"

__ADS_1


Elia mengangguk, mengangguk untuk meyakinkan ku.


Kiamat apa yang mengguncang kami? Kami sudah mengalaminya, mungkin bisa di sebut kiamat kecil. dia adalah seseorang, teman, pasangan, yang memahami ku, tak hanya dengan pikiran, tapi juga sifat-sifat ku. aku juga harus mempertimbangkan kehendaknya, namun sebagai suami aku pula harus mempertahankan haknya di rumah ini. satu hal yang utama, jangan sampai aku menjadi sebab, kiamat besar untuknya dan keluarga.


Ku peluk Elia, hangat dan mencari ketenangan. ku pejamkan mata agar kami lebih tentram.


"Baiklah. maafkan aku karena menjadi suami yang tidak berguna. aku pasti akan bekerja lebih giat dan menghasilkan uang yang banyak agar bisa melunasi hutang ayah mertua sampai tuntas." kataku berbisik di telinganya.


Ku buka kembali mataku, pemandangan pertama yang ku lihat adalah Elia yang tersenyum, seakan pertanda bahwa ia merestui pilihanku dan senang karenanya.


aku melangkah ke depan, ke hadapan ayah dan Rinna.


"Baiklah, kami tak akan pergi dari sini. tetapi, aku mengajukan syarat. pertama, Elia bukan orang asing di sini, maka apapun yang terjadi pandanglah dan hormati ia sebagai istriku. kedua, hormati ia sebagai menantu kalian. jika aku mendapati kejadian seperti ini terjadi lagi, maka jangan salahkan aku jika menganggap kita bukan keluarga lagi!"


Cinta itu memang lah rumit, terkadang ada beberapa masa yang membuat kita terpaksa menjalani sesuatu di luar kehendak. tetapi, jika itu adalah alasan untuk membuatnya sedikit senang. maka karam di tengah-tengah pun tak masalah.


cinta itu terlalu aneh, berpura-pura acuh pun malah semakin kikuk. dia adalah Elia, dia seperti daun jati yang gugur agar pohonnya tetap hidup.


hari ini, malam ini, kami akhirnya saling mengerti makna sesungguhnya Perjuangan Cinta.

__ADS_1


__ADS_2