Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Memiliki Milikku Sepenuhnya


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, ku cari susu dan puding yang ku janjikan pada Elia sebelumnya. tetapi sialnya, puding yang ku maksud tak pernah lagi di buat bibi Hera sejak aku pergi dari rumah ini. jadi, karena tak ingin mengecewakan Elia, aku pergi keluar sejenak membeli puding buah untuknya.


ku suruh, Elia duduk manis di meja kitchen bar, sambil menunggu ku kembali.


namun, betapa terkejutnya aku saat kembali setelah 30 menit berlalu. gelagat Elia jadi aneh, kepalanya miring-miring sambil tertawa-tertawa kecil.


"Aku sudah pulang, Elia. ini puding untukmu."


dia menatapku, dengan tatapan sayu. seakan ia tengah memanggil jiwanya yang lain. ini bukanlah sisi yang di tampilkannya pada semua orang selama ini, tetapi nampaknya akulah yang pertama kali dan hanya aku satu-satunya yang boleh menyaksikannya.


"Haus... " katanya.


semerbak wangi anggur tercium dari mulutnya yang terbuka, aku jadi curiga. ku tatap gelas di depannya. lalu ku cium aromanya, oh semesta nampaknya istriku telah salah minum. ia meminum minuman memabukkan ini dengan payah. terlihat sekali ia masih pemabuk yang amatir.


ku papah dia yang tergopoh, lalu ku putuskan untuk menggendongnya agar lebih cepat beristirahat di kamar.


namun ia begitu nakal, berulangkali menggeliat untuk menggodaku.


pertahanan diriku yang memang lemah, terutama karna tadi sore gagal ku lampiaskan, akhirnya Tuhan memberikan ku kesempatan memiliki milikku sepenuhnya. ya, meskipun dengan cara yang tak terduga. di luar bayanganku sama sekali...


akhirnya Malam ini, Aku bisa leluasa meniupkan hasrat di setiap sudut kulit Elia. Tangannya melingkari sebidang dadaku yang luas. Tak ada dingin menelusup di balik selimut sutra dari luar negeri yang membelit tubuh kami di ranjang dengan ukiran ornamen kembang, kembang tandanya cinta dan kecantikan alam. Aku meyakininya sejak pertama kali ku decor sendiri tiap benda di kamar pribadiku ini.


“Kau semakin tua, Pak Damian.”

__ADS_1


Elia yang mabuk mulai bicara ngawur, Kemudian ia meraba wajahku. Menyentuh guratan halus di kulitku. Seperti halnya ia melihat ada masa lalu yang ranggas beberapa tahun lamanya. di kedalaman Matanya ada kobaran api menyala-nyala yang siap membakar segala kemurkaan dan gairah emosi yang selama ini terpendam. Kepalanya menyimpan jutaan peristiwa yang siap meledak-ledak seperti bom waktu.


“Jangan menyentuh tubuhku jika bukan suamiku,” ucapnya lagi.


Memang, ia begitu menghargai daranya, persis seperti yang dia katakan saat pertama kali kami tidur bersama, menjaga tubuhnya hanya untuk belahan jiwa yang memimpinnya dalam bahtera rumah tangga, aku mencintai tiap detail tubuhnya yang mulus tanpa ada bekas luka sedikit pun. secantik ratu dari negeri gurun yang disanjung sanjung.


"Akhh…" Aku mend*sah, Sesekali aku bisikkan kata-kata manja nan mesra. Elia, bergidik. Tubuhnya terpingkal-pingkal membuat irama ranjang lebih keras dan semakin keras; menghanyutkan kita pada sebuah perjalanan panjang malam ini. Memang, takdir tak sebagaimana kita duga dan tak seindah yang kita harapkan. Elia menyakini itu, dan dibuktikannya ketekunannya atas semua itu padaku hingga sekarang. Perasaan itu yang kerap menggelisahkan kita berdua sepanjang pernikahan kita.


Seorang wanita yang berbaring di sebelahku ini bukan semata-mata orang yang aku cintai sejak beberapa bulan awal kami menikah. Itu disebabkan, karena awalnya aku tak percaya dengan cinta. Dan lebih percaya bahwa takdir Tuhan lebih kejam membuat kita menderita sepanjang hidup. Menyiksa, mengepalkan tinju ke wajah istriku yang tak berdosa. hingga karena aura hidup dan cintanya yang begitu hangat memaksa masuk ke dalam hidupku, dan aku meyakini bahwa hanya ialah alasanku tetap bertahan hingga sekarang.


“Apa 6 bulan selama itu? aku kasihan pada suami dan diriku sendiri, kami jadi harus menahan diri, dan tiap ingin melakukannya jadi canggung.” ucapnya sangat marah.


Sebelum kami tidur nyenyak, hampir tiap malam, tak ada adegan percintaan yang membuat kenikmatan untuk kami berdua. Seperti malam pertama seorang pengantin, Kami hanya mengisi dengan sambutan, pelukan, juga obrolan Dan mengganti topik dari satu ke satu topik yang lain.


“Hmmm….” aku mendes*h lagi, hanya itu yang bisa aku lakukan. Elia mulai gelisah dan bergeliat. Ku hentikan ciumanku sesaat. wajahnya mulai memerah, ada bekas ciuman di leher jenjang nya.


“Pak Damian, aku bersedih sekali malam ini.”


Elia, membalikkan tubuhnya segera. Kita bersebelahan saling menyibukkan dengan pikiran kita sendiri-sendiri. Kulihat air mata keluar dari pelupuk matanya, ia bersedih karena ayah yang terlihat mengacuhkannya. meski selalu tersenyum, akhirnya karena anggur itu, Elia mampu meluapkan isi hatinya.


Ayah, Dialah orang yang memaksa kita untuk bersama, membeli Elia untuk merawat ku, dengan "embel-embel" penebus hutang. Akhirnya, kita menikah tanpa saling mengenal sebelumnya. Maka di situ seiring berjalannya waktu, kami saling mengenal dan muncullah perasaan kasihan yang disertai rasa cinta pada pasangan ku, Elia.


Kemudian, ku dekatkan sebatang badan ini. Ku belai-belai rambutnya dengan lembut. Ku dekap tubuh Elia yang mulai gemetar. Di luar rumah hujan mulai berjatuhan, berjatuhan di atap rumah. Guntur menggelegar memecah keheningan langit seakan ingin melahirkan bencana yang lebih besar. Rasa dingin menyatu pada lapisan kulit kami. Seolah kami tengah berada di penghujung sebuah musim semi.

__ADS_1


Ku rapatkan pelukanku dengan Elia. Dia tidak meronta lagi dan tidak memukul-mukuli dadaku. Matanya berbinar bak cahaya kunang-kunang kesepian malam itu. Napasnya semakin tak teratur yang sesekali menimbulkan rintihan lirih dari mulutnya. agaknya binar matanya mulai mengenaliku sebagai suaminya.


“Apa jawabmu ketika ditanya orang saat di sekolah dulu, kenapa berciuman dengan guru dalam mobil?” tanyaku sedikit merayu.


“Ku katakan saja jika aku hanya memenuhi kewajiban,” jawab Elia menggoda.


“Kewajiban?”


“Ya, kewajiban istri kepada suami,” kata Elia disertai tawa meledak-ledak yang tidak bisa ditahan. Ternyata, seganas itulah


Elia memperlakukan diriku. benar-benar menghargai tiap kebutuhan suaminya, Tiba-tiba hasratku membuncah. Ku rengkuh tubuh Elia. Lalu ku pegang dan ku tekan kedua tangan Elia membentang menguasai ranjang. Ia hanya bisa meronta-ronta dengan mulut terkunci.


Ku sentuh dadanya, tak ada bagian kenyal yang membesar di sana, hanya sebatas mengeras menumpuk berbagai bentuk kesalahan yang musti tidak aku cari di sana. Namun, di bagian sensitif tubuhnya, Memang, aku tidak pernah menyentuhnya sama sekali selama aku menikah dengannya. selama ini karena ia masih sekolah aku terbatas hanya menyentuh pipinya, dan memberikan kejutan yang ganas di setiap kita ingin terlelap tidur.


Dan dengan sangat bergairah kami lakukan pergulatan hebat malam itu. Ku lihat Elia sudah melemas, tak berdaya lagi. Tubuhnya terkulai setelah ada si merah membekas di seprai ranjang. Ternyata kita sudah menyatu dua jam lebih. Segala otot ku kerahkan hingga mencapai puncak yang bertubi-tubi.


Seusai ku nikmati belahan jiwaku. Aku berharap semoga ia mengerti bahwa di balik hubungan dan ikatan yang besar perlu hubungan intim yang besar pula. tak hanya ada cinta, bagiku, ada pula kenikmatan dunia. dulu bagiku Cinta itu sebatas kata-kata puitis yang lahir dari para pujangga bodoh, namun sekarang cinta melebihi ambang batas dalam pikiranku, ia tak dapat di pisahkan dari perkataan, perasaan dan tindakan.


Lalu ku bisikkan pada Elia, bahwa kita tidak perlu melakukan ritual basa basi untuk mensakralkan pernikahan beberapa bulan silam. Cukup rasakan saja betapa perkasanya seorang lelaki yang menjadi gurumu di sekolah dulu. Ya kan, Elia?!


...****************...


Note : Pastikan baca kalau udah buka puasa yak (┬┬_┬┬)maafin aa Dami yang khilaf ambil kesempitan dalam kesempatan.

__ADS_1


__ADS_2