Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Vania


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, di tengah lalu lalang manusia dan kendaraan, di tengah gedung-gedung yang di terangi neon dan merkuri, perasaanku seperti di serbu melankolia. selain melihat ketabahan hati Elia yang sebelumnya telah bersusah-payah mencari pakaian terbaik dan berdandan untuk menemani keluarga mengunjungi rekan ayah di tempat yang jauh ini, aku sebenarnya tak tahu kenapa mesti memenuhi undangannya itu.


"Pak Damian harus pergi! ini adalah langkah awal menuju karir pak Damian, ayah dan mama sudah berusaha untuk membantu, jadi pak Damian jangan sia-sia kan kesempatan. tak apa, aku akan baik-baik saja. lain kali pasti bisa menemani perjalanan bisnis pak Damian." Elia menegaskan di depan teras tadi sebelum kami berangkat.


ajakan yang ku Terima lewat ayah memang undangan makan malam. Tetapi, aku berharap pertemuan dengan pengusaha sukses ini memberiku kesempatan untuk ikut terjun dalam dunia bisnis, mampu mengubah selera bisnis ku dan pengetahuan ku yang mungkin sudah kuno.


lampu-lampu kota berjajar sepanjang jalan tampak seperti ribuan pasang mata yang mengawasi langkah setiap pejalan kaki. sopir memutar mobil menuju rumah seorang teman ayah. aku berharap makan malam ini berjalan lancar agar tidak mengecewakan Elia berkali lipat.


mobil terparkir di halaman rumahnya yang megah dan modern, dengan atap tinggi dan jendela bergaya Eropa. di depan pintunya sudah berjejer pelayan-pelayan yang menyambut kedatangan kami. kami segera masuk.


rumah ini disesaki barang barang hasil pahatan seni, seperti lukisan, patung, bahkan adapula barang antik dari luar negeri yang terkenal. nampaknya keluarga ini bukan sekedar pebisnis biasa, namun mereka adalah Seniman dan peminat seni yang khas.


"David?! kau sudah di sini rupanya?" seorang teman lama sekaligus pemilik rumah ini menghampiri ayah.


mereka saling berjabat tangan, layaknya rekan bisnis yang akrab.


"Ya," jawab ayah. "Sudah lama sekali, sejak kau menetap di luar negeri satu tahun ini menemani putrimu."


"Baguslah, aku senang kau memenuhi undanganku," katanya sambil melirik ke arahku.


teman ayah ini jika di lihat dari isi rumahnya adalah seorang peminat seni dengan semangat yang menyala, tetapi setelah ku temui langsung nampak bukan ia lah peminat yang sebenarnya, sebab seleranya kelewat rumit. rambutnya putih menyeluruh, hampir seperti kakek tua, di biarkan putih tanpa polesan semir agar terlihat lebih muda. jas yang dikenakannya menimbulkan kesan anggun, sehingga rambut putihnya yang liar tidak terkesan acak-acakan.


hampir setiap sisi ruangan rumah ini di pasang mesin pendingin, padahal aku tak terlalu terpengaruh dengan hal-hal begini, karena di rumah sendiri juga sama saja dan aku sudah terbiasa. tetapi mungkin aku gugup karena masih memikirkan Elia yang ada di rumah. bagaimana perasaannya sekarang? apa yang dia lakukan di sana? dia sedang memikirkan apa? sudah makan belum?


"Aku ke toilet dulu," kataku sambil beranjak pergi dan membiarkan kedua pasang suami istri yang katanya rekan itu bercakap-cakap dengan topik meloncat-loncat; bisnis, luar negeri, film, teater dan tentunya tema favorit orang tua: Anak, makhluk penuh magnet.


keluar dari toilet, aku melihat seorang perempuan yang tiba-tiba menyihir ku. dia bercengkrama dengan orang-orang tua itu di meja makan. mengenakan sepatu heels di padu gaun panjang sebatas lutut berwarna ungu pastel. dan yang membuat penampilannya anggun adalah kalung berlian bermata hijau yang melingkar di lehernya yang jenjang, kilau nya menyala sampai ke jarak ku sekarang.

__ADS_1


aku menangkap pandangan matanya yang lembut dan khidmat menyerupai warna legam buah anggur. cahayanya berpijar pada kelopaknya yang lentik di bawah alis yang sudah di ukir sedemikian cantik. auranya terpantul pada caranya menatap, sebab dia tak cukup pandai menyembunyikan rasa ingin tahunya di balik pembawaannya yang lincah.


namun kecantikannya yang alamiah itu segera tenggelam begitu aku memperhatikan morfologi wajahnya yang dapat ku sebut mirip dewi kecantikan yang terkenal dalam mitologi Hellas. hidungnya yang bagus di atas garis bibirnya yang merekah dan tipis, di topang dagunya yang agak lancip sehingga membentuk padanan yang seimbang dengan latar belakang rambut panjang bergelombang dan halus.


pada ujung pipinya yang kemerahan dan mengkilap rumah kerang telinganya tertidur menahan beban anting-anting, sebuah lengkung perak dengan berlian hijau senada dengan mata kalungnya. sebuah pembawaan yang mempesona dalam keseluruhan dan detail.


dia tersenyum kepadaku, dan ku balas dengan senyum kecut yang dingin.


"Kalau yang ini, siapa?" dia bertanya pada empat orang di sekelilingnya, (Ayah, Rinna, dan mungkin rekan ayah ini adalah kedua orang tuanya) sambil matanya melirik ke arahku yang baru menarik kursi untuk duduk.


ayah memperkenalkan dia kepadaku, di sebuah pertemuan dan perjamuan makan malam yang penuh hiruk pikuk. pertemuan yang kelabu.


"Damian. dia anak paman."


"Anak?! Ya ampun ternyata paman David selain memiliki istri yang cantik juga memiliki anak lelaki setampan ini." katanya Berseloroh sambil mengulurkan tangannya padaku. "Aku Vania."


"Papa sibuk menyuruhku pulang dari luar negeri, awalnya aku terpaksa. tapi keterpaksaan itu ternyata membuahkan jackpot seperti ini, aku sungguh beruntung."


"Begitu, ya?" jawab ku. entahlah, aku tak mengerti maksud perempuan ini, aku akan berusaha menikmati perjamuan ini sampai berakhir.


"Dingin sekali, tapi aku menyukainya." katanya memandangku tersenyum sambil bertopang dagu di punggung telapak tangannya yang lentik.


"Kamu suka seni tidak? semacam lukisan, memahat, tembikar, atau syair begitu? hehehe... "


"Aku sama sekali buta tentang dunia seni," aku berpura-pura mengelak.


baiklah, kini aku mendapati sesuatu yang pasti, yaitu peminat seni di rumah ini bukanlah pak tua ubanan ini. ataupun istrinya yang suka senyum. tetapi putrinya yang lincah inilah orangnya.

__ADS_1


"Tapi kenyataannya tidak, kan?! kamu terlihat sangat cerdas, pembawaanmu begitu berwibawa tidak mungkin buta sama sekali." balasnya.


"Sudah, sudah jangan bergurau terus," kata rekan bisnis ayah. "Nikmati dulu makan malamnya."


para pelayan datang membantu kami mengambil makan. aku meneguk cappucino yang manis. angin malam berhembus, dapat ku dengar desiran nya. suara alam yang menenangkan. lalu ku nikmati kentang goreng yang gurihnya bukan main, di campur saus pedas berkualitas tinggi. sementara Vania duduk termangu, menatapku dengan senyum kecil tergores di bibirnya sambil sesekali mencuri pandang kepadaku.


selesai makan kami bercakap-cakap sejenak, kemudian ayah berpamitan untuk pulang. mereka begitu hangat, begitu juga Vania, gadis yang baru ku kenal beberapa jam yang lalu. penggambaran ku padanya saat pertama kali ku lihat, dia adalah gadis yang anggun dan berkarakter bersahaja. namun ternyata dia hanyalah remaja kuliahan penggiat seni yang lincah dan nakal.


baiklah, salam kenal untukmu. ku rasa mungkin setelah ia lulus, nasibnya akan sama denganku menjadi penerus bisnis keluarga. jadi mungkin ini lah alasan mengapa aku juga harus berkenalan dengannya. hanya saja, dia masih terlalu kekanakan untuk masuk ke dunia bisnis yang bertolak belakang pada minatnya di dunia seni.


"Kapan kita bisa bertemu lagi?" ucap Vania sambil tersenyum menggigit bibir bawahnya.


"Jangan berharap begitu, aku malas berinteraksi dengan perempuan." kataku sambil berlalu.


...****************...


Halo ini author 🙋


Maafin hari ini up satu bab dulu yaakk kesayangan aa Dami sekalian ಥ_ಥ, ga tau dah author ikut kepikiran Elia di rumah. gimana ya perasaan Elia, terang-terangan ga di ajak. apalagi kalau tau ada ciwi baru lagi. makanya satu dulu aja, ga tega sama dedek Elia...


tapi maaf ni saudara-saudara, jangan haters dulu sama Vania ya atau mikir yang nggak nggak, author pribadi sih suka sama karakter kekanakan yang lincah gitu. padahal tampilan luarnya yang elegan gimana gitu ho'oh. pokoknya kita positif thinking dulu yak,


inget puasa (๑ ⁍̥̥̥᷅ ᴈ⁍̥̥̥᷅)人(⁌̥̥̥᷄ε ⁌̥̥̥᷄ ๑)ー


Berhubung besok senen, seperti biasa deh


(人´∀`)tekan vote nya yak muehehehe. author harap kita bisa selalu mendukung aa Dami yupp, lopyuu gess pokoknya author ga berhenti terima kasih sama kakak sekalian. lope sebumiii.... author cinta kalian selamanya....

__ADS_1


__ADS_2