Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Perempuan Mana yang Terima?


__ADS_3

Sepulang dari sekolah, Ku parkir mobil di halaman samping rumah. kemudian dengan cepat dann tergesa-gesa Elia langsung berlari membuka pintu dan masuk ke dalam saat aku masih sibuk melepas sepatu.


“Padahal masih basah begitu, sudah masuk ke dalam rumah.” kataku dalam hati.


Tetapi, tidak lama kemudian dia datang dan membawakan handuk dan baskom sepertinya berisi air, setelah berada kembali di hadapanku, dia tersenyum lalu berkata : “Aku bawakan handuk untuk Pak Damian, Rambutnya harus kering secepatnya biar tidak masuk angin. Mau lap sendiri, atau aku bantu, pak?” katanya sambil menyodorkan handuk itu kepadaku.


“Terima kasih, biar aku sendiri saja.” kataku seraya mengambil handuk dari tangannya.


Setelah memberikan handuk padaku, dia menunduk dan bersimpuh di bawah kakiku. Aku sedikit tertekan lalu berusaha menjauh agar tak terkesan merendahkan, namun dia malah menahan salah satu kaki milikku, sehingga aku tak bisa menghendaki perintah motorik otakku untuk segera menjauh setelah dia duduk bersimpuh di hadapanku.


Elia mendongakkan kepalanya menatapku, “Jangan menjauh, pak!”


“Apa yang kamu lakukan?”


“Aku mau cuci kan kaki pak Damian,” katanya tersenyum simpul, tatapannya sangat tulus namun membuatku malah terenyuh.


“Tidak usah Elia, aku bisa melakukannya sendiri.”


“Tidak apa-apa pak, ini kewajiban istri. Jadi biarkan aku melayani pak Damian dengan baik, ya?”


Aku sempat terdiam, ini cukup asing bagiku sebab kewajiban istri yang di katakan olehnya selama ini tidak pernah aku lihat di lakukan ibu pada ayah. Entah karena ia memang tidak memahami perannya atau kamu yang terlalu mendalami peran. Saat bersamamu dan saat kamu menyebutkan kewajiban, aku begitu tersentuh dan menemukan pemahaman baru, apakah pekerjaan seorang istri lebih dari sekedar melayani di dapur dan kasur?


Akhirnya, karena merasa tertekan dengan tatapan dan senyuman Elia. Ku turuti kehendaknya dengan memberikan kaki ku dalam kuasanya. Lalu dengan telaten dia membasuh kaki ini dengan lembut sampai bersih.

__ADS_1


Sepanjang dia melakukan kewajibannya itu, aku terus memandanginya penuh haru, begitu terharunya sampai aku lupa bahwa ada sesuatu yang harus ku sampaikan padanya, tentang Amanda.


“Elia..”


“Ya?” katanya tersenyum.


“Ada yang ingin aku katakan padamu.”


“Minggu ini, aku izin untuk pergi keluar bersama Amanda ke pusat kota.” Kataku sambil memalingkan muka.


Elia hanya diam, kemudian selang beberapa saat dia kembali bangkit dan berdiri di hadapanku, “Pak Damian, apakah sampai segitunya tidak bisa menerima ku? Apakah aku melakukan kesalahan?”


Dia tersenyum kaku, tatapan matanya bagaikan tombak tajam yang ujungnya siap menghunus ku jika aku melihatnya. Jauh di dalam matanya yang jelita itu menyimpan beribu pertanyaan yang berharap dapat segera aku jawab; apakah usahaku selama ini tidak cukup untuk mu? Apakah di dalam lubuk hatimu itu sama sekali tak ada tempat untukku? Sampai kamu melakukan kencan dengan perempuan lain saat kamu telah memiliki hubungan sakral dengan seorang gadis.


“Lalu kenapa mau menghabiskan hari libur bersama bu Amanda? Kita semua tahu, dia menaruh perasaan pada pak Damian. Pak Damian menerima kehadiranku, apa itu juga berarti menerima kehadiran Bu Amanda?”


“Tidak, tidak sama sekali. Hanya kamu, wanita yang ku terima. Aku terpaksa menerima ajakan Amanda, terpaksa mengikuti keinginannya agar aku memberikan ruang padanya itu semua ku lakukan demi melindungi kamu.”


Aku diam sejenak berusaha menciptakan ruang dan suasana yang lebih tenang, ini masih di pintu depan dan Elia yang biasanya tenang dan selalu tersenyum nampaknya kini tersulut emosi yang agak sulit ia kendalikan.


“Saat kita berciuman, Amanda melihatnya. Dia bahkan memiliki potret kita saat itu. aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya dia memaksa dan mengancam, bila aku tak menyetujui tawarannya untuk mengobrol di jam istirahat dan berkencan saat hari minggu, foto itu akan tersebar dan dia siap menjadi saksi di rapat sekolah. Karena itu aku merasa posisi kita saat ini tersudut Elia, kamu tahu kan resiko nya bila hubungan siswi dan guru sampai di ketahui sekolah? Kita sepakat merahasiakan pernikahan agar kamu bisa kembali melanjutkan sekolah. Karena itu, Aku rela melakukannya, demi dirimu.” Kataku diplomatis, tak tinggal ku pegang pula kedua pundaknya, layaknya seseorang yang sedang memberi pengertian berusaha meyakinkan Elia.


Ku pandangi dia, air mata mulai merambang di kelopak matanya yang jelita, satu persatu titik air bening itu meluncur ke kedua belah pipi, aku bisa merasai tubuhnya yang bergetar, mungkin ia juga merasakan hal yang sama seperti aku rasakan.

__ADS_1


“Kalau begitu aku berhenti sekolah saja seperti awal menikah dulu!”


Aku sedikit terkejut saat dia berteriak padaku seraya menepis kedua tanganku dari pundaknya, cukup langka, karena biasanya dia paling semangat soal sentuhan. tetapi ada yang lebih mengejutkan lagi yaitu ketika dia mengatakan ingin berhenti sekolah.


“Jangan! Kamu sebentar lagi lulus, tidak boleh berhenti!”


“Lebih baik tidak sekolah! Tidak ada yang berubah, lagi pula sejak awal aku menikah dengan pak Damian, aku sudah memutuskan untuk berhenti sekolah!”


“Elia, pendidikan itu penting! Kamu masih ingat kan janji mu untuk meraih peringkat sepuluh besar top score saat ujian akhir nanti agar aku bisa membuka hati dan menerima cintamu, kan? Kalau begitu tolong lakukan ini juga untukku Elia, kamu ingin memperjuangkan cintamu kan?”


Aku terus memandanginya, dia masih terisak, “Semua itu tak ada artinya lagi, kalau kita jadi berjarak karena kehadiran orang lain.” katanya pelan.


Tatapannya penuh amarah dan benci yang menyala-nyala, membuatku semakin tertekan. Ku alihkan pandangan, memandang ke luar, melihat langit yang masih temaram penuh awan kelabu. Mendung memenuhi langit yang biasanya biru, matahari tenggelam di balik kabut yang menebal. Udara semakin dingin, aku berusaha mencari ketenangan dari energi alam.


Di tengah semua itu, dan semua kenyataan ini, aku semakin merasa murung dan gelisah, karena belum juga mendapatkan jalan keluar. Meski titik jelas telah ku temukan : dia tidak bisa menerima kesepakatan yang di tawarkan Amanda. Namun, sebersit juga rasa empati dalam hatiku bila Elia harus merelakan pendidikan dan berhenti sekolah, karena kesalahanku yang menciumnya di tempat umum walaupun ruangnya privasi seperti di mobil contohnya.


“Elia..”


“Memangnya wanita mana yang terima, kalau suaminya memberi kesempatan pada perempuan lain yang jelas menaruh rasa untuknya? Mau sampai kapan begitu terus? Menjalani waktu bersama wanita lain saat sudah beristri? Sampai aku lulus sekolah? Sampai saat itu tiba, Siapa yang bisa menjamin perasaan tidak akan berubah?”


Ia menghapus air matanya, kemudian melanjutkan.


“Bagaimana jika karena itu semua, Pak Damian jadi sungguh menaruh hati dan jatuh cinta juga dengan bu Amanda?”

__ADS_1


__ADS_2