Pengantin 18 Tahun

Pengantin 18 Tahun
Pernyataan Cinta Orang Ketiga


__ADS_3

"Tidak pak, tidak sama sekali. Aku memang tidak pintar, bahkan sebelum mengenal bapak. Jadi tidak mungkin berpikiran begitu."


Aku jadi terdiam, kalau menjawab jelas akan terlihat bahwa akulah yang mulai menaruh perhatian padanya. Suasana di antara kami jadi hening sebentar, hingga tiba-tiba..


"Pak? Pak Damian anda di dalam?"


Ada seseorang yang mengetuk pintu.


Entah harus bersyukur atau mengutuk kehadirannya, yang jelas setidaknya aku terselamatkan dari suasana kikuk antara aku dan Elia. Aku mendengus, karena kami jadi kelabakan, sebab ada kejadian tak terduga, yaitu adanya kehadiran seseorang di tengah-tengah kami berdua. Sangat gawat, jika ada orang lain yang melihat aku seoranng guru dan Elia seorang siswi di dalam satu ruangan sepi, yang jauh dari kunjungan orang lain.


Elia Mondar-Mandir berusaha mencari tempat sembunyi yang baik, sedangkan orang di luar yang belum kami ketahui siapa terus mengetuk memanggil namaku,


"Sembunyi di situ saja, Cepat!" kataku memerintah Elia sambil menujuk balik meja yang penuh dengan buku di pojok ruangan.


Kemudian Ketika Elia sudah berada di sana, dan aku sudah merasa situasi mulai kondusif. Aku menyambut sahutan orang tersebut.


“Tunggu sebentar!" kataku memekik sambil berjalan ke arah pintu dan membukanya.


Aku sedikit canggung karena ternyata yang datang adalah bu Amanda, dia tersenyum padaku tetapi membuatku jadi sungkan dan enggan membalasnya.


"Maaf pak Damian, saya mencari anda untuk memberikan tas ini!"


Ku tatap tasku yang ada di tangannya, "Oh, Terima kasih."


"Saat mau pulang aku melihat tas pak Damian masih di atas meja, aku pikir mungkin bapak sedang ada urusan sampai belum sempat mengambil tas jadi aku berinisiatif untuk membantu dengan memberikan tas ini pada pak Damian, karena khawatir ruang guru akan di tutup sebelum pak Damian kembali.”


"Aku mencari sekitar sekolah, tadinya aku ingin mengantar langsung ke rumah pak Damian kalau tidak ketemu, tetapi untungnya ada siswa yang melihat bapak masuk ke sini."


Aku segera mengambil tas yang di berikannya, berharap urusan kami selesai dan dia lekas pergi dari sini. Namun sialnya, dia malah masuk ke dalam ruangan entah untuk urusan apa lagi,

__ADS_1


"Pak Damian sedang apa di sini? Ruangan ini sangat berdebu, tidak baik untuk kesehatan bapak."


"Aku sedang mencari buku Ensiklopedia lama. di perpustakaan yang baru, tidak ada bukunya jadi aku coba cari di sini." Kataku mencari-cari alasan.


"Rajin sekali ha ha ha, padahal pak Damian guru bahasa asing. Tetapi masih mau belajar cabang ilmu lain. biar aku bantu carikan ya, pak?"


Aku menahan nafas, alangkah perempuan ini membuatku benar-benar tidak nyaman. Dia lebih agresif di bandingkan Elia, istriku. Ternyata di sekitarku ini ada orang yang lebih memuakkan, yaitu perempuan yang mencari kesempatan untuk mendapatkan perhatian dari lawan jenis.


"Oh, tidak usah bu Amanda. Aku bisa mencarinya sendirian sekalian aku juga ingin membaca barangkali ada buku lain yang bagus."


Dia membalikkan badan menatapku, "Bu Amanda?" katanya seakan menekankan kebingungan yang ada dalam dirinya.


"Ya, ada apa memangnya?" timpal ku.


“Bu Amanda, Pak Damian. Kedengarannya sangat canggung sekali di luar jam pelajaran, ya kan? Bagaimana kalau kita saling panggil nama saja, tanpa ada embel-embel panggilan pak dan Bu, Damian?"


Aku diam saja, sambil sekali-sekali memperhatikan Elia di balik meja pojok ruangan. Apakah dia baik-baik saja? di sana sangat berdebu, dia pasti kesulitan bernafas. Tetapi melayani perempuan ini nampaknya tidak akan memakan waktu yang sedikit.


Suasana jadi sedikit canggung, sejujurnya memang aku tak terkejut sama sekali dengan pernyataan Amanda. Sayang sekali, aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Aku hanya menganggapnya rekan kerja biasa.


"Maafkan aku, jujur sekarang aku sedang sibuk dengan urusanku sendiri."


Amanda tertawa kecil menghempas kecanggungan yang di buatnya, "Oh, tidak... maksudnya apakah barusan kau sudah menolak ku?"


"Sepertinya, memang begitu." Jawabku datar.


Dia terlihat sangat terluka karena penolakanku, matanya berkaca-kaca dan senyumnya memudar. Memangnya apa yang bisa ku perbuat? Setiap orang memiliki perasaan, dan perasaan itu adalah tanggung jawabnya masing-masing. Bahagia atau terluka, adalah resiko jika dia menaruh harapan pada seseorang.


“Kalau begitu, tolong lupakanlah pernyataan cintaku barusan. Aku juga tak ingin ada halangan di tempat kerja!"

__ADS_1


"Ya, baiklah." Jawabku singkat.


Kemudian dia pergi tanpa menghiraukan aku, dia menggosok-gosok pelupuk matanya mungkin menghapus air mata. Kepala ku jadi pening, rasanya masalahku jadi bertambah, karena rekan kerja yang menaruh perasaan padaku, padahal aku hanya ingin tenang, datang mengajar dan pulang.


Lantas tak lama setelah pemergian Amanda, Elia ikut keluar dari persembunyiannya. Wajahnya kembali murung, lebih masam dari sebelumnya. Rambutnya jadi berdebu penuh dengan sarang laba-laba. Matanya yang coklat terang, semakin berlinang karena pantulan cahaya matahari yang mulai menjingga.


"Kenapa?" tanyaku.


“Barusan Bu Amanda menyatakan perasaannya pada pak Damian, dan bapak menolaknya. Apakah alasannya karena kita sudah menikah?"


Ku pandangi dia, sambil membersihkan sarang laba-laba di rambutnya. Bibirnya mengkerut dan matanya berbinar-binar menanti jawaban dariku.


“Kalau menurut kamu bagaimana?"


"Kenapa pak Damian tidak mengatakan kalau sudah menikah denganku?"


Aku langsung tertawa, "Tidak boleh!"


"Kenapa? Apakah karena pak Damian belum menerima kehadiranku?"


"Karena aku adalah guru, dan kamu adalah Murid."


Dia termenung, mungkin masih mencerna ucapanku. Sekarang aku menyadari bahwa Elia memang se-bodoh itu, pemikirannya sangat singkat dan sederhana. Seperti ini lah remaja, mereka hanya terbawa suasana dan mengikuti nafsu keegoisan semata tanpa memikirkan dampak akibat kedepannya.


Saat Elia murung, hatiku jadi terisi penuh. Tampaknya dia sedang cemburu dan merasa risau dengan pernikahan kami, ada ketakutan di matanya bila aku berpaling pada perempuan lain. dan anehnya mengapa aku nampak sangat memahami perasaan yang terpancar dari tatapannya saat ini. lalu tiba-tiba dia meraih tanganku yang masih sibuk membersihkan rambutnya, dan menggenggamnya erat-erat.


"Apakah aku juga boleh, jatuh cinta dengan Pak Damian?"


Ku hembuskan nafas panjang, aku kehabisan kata-kata untuk menghadapi perempuan. Aku mampu menolak Amanda tanpa perasaan, tetapi kini aku kelelahan untuk mengatakan hal yang sama, pikiranku berkecamuk pada dua pilihan, aku kebingungan.

__ADS_1


"Jangan terlalu mengharapkan aku."


__ADS_2