
Namanya adalah Suci Ardani, seorang gadis berumur dua puluh dua tahun, dia baru memulai kuliah S2 di salah satu universitas ternama di Indonesia. Mimpinya adalah menjadi seorang sarjana hukum, tapi sepertinya otak gadis itu tidak terlalu mampu untuk mempelajari hukum, jadi dia memilih jurusan lain, yaitu sebagai mahasiswi sastra.
Suatu saat di tengah pendidikannya yang baru menginjak sepuluh bulan, kejadian yang tidak terduga masuk ke dalam hidupnya, yaitu suatu kejadian buruk yang tidak dia inginkan sama sekali dengan orang yang dia cintai. Ya benar juga, memangnya siapa yang ingin kejadian buruk yang menimpa dirinya bersama orang yang dicintainya?
***********
“Jangan pernah menyentuh barang-barang ku?” bentak seorang pria yang suaranya sangat tidak asing di telinga Suci.
“Maaf kak Alam!” jawab Suci dengan pandangan menunduk dan Suci pun langsung menaruh barang yang Suci pegang ke tempatnya semula dan setelah itu pergi meninggalkan pria itu.
Suci langsung berlari menuju kamarnya yang letaknya bersebelahan dengan pria itu, Suci pun langsung mengunci pintu kamar dan masuk ke kamar mandi lalu dia menyalakan shower dan mulai menangis di bawah pancuran air itu.
Pria yang tadi membentak Suci adalah Alam Adiwiyata seorang senior di sekolah menengah akhirnya dulu sekaligus suaminya saat ini, Suci dari dulu sampai sekarang diam-diam menyukai dirinya, dia kira saat sekolah menengah akhir cintanya kepada Alam hanya sekedar kagum saja karena dia tampan dan sangat berwibawa, tapi semakin lama rasa itu semakin besar dan Suci menyadari bahwa itu bukan hanya sekedar kagum, melainkan karena Suci benar-benar mencintai dirinya. Akhirnya Suci memutuskan untuk mencintai seniornya hanya dalam diam saja tanpa diketahui oleh siapapun termasuk sahabatnya sendiri.
Setelah Alam lulus dari sekolah itu Suci pun merasa kecewa dan sedih karena tidak bisa menemui dirinya lagi, akhirnya dia pun memutuskan untuk mengubur rasa cintanya seorang diri dan jika bisa dia ingin segera membuangnya. Tapi siapa sangka takdir ternyata berkata lain, tuhan mempertemukan mereka lagi di universitas yang sama, Suci pun merasa senang sekali karena bisa bertemu dengannya lagi.
**************
Flash back dua bulan sebelumnya.
“Suc, lo udah selesain tugas dari dosen killer kita belum?” tanya Vivi sahabat Suci yang sudah bersahabat semenjak sekolah dasar.
“Udah kok,” jawab Suci “jangan bilang kamu belum kerjain tugasnya dan sekarang kamu mau pinjem tugas aku!” sambung Suci sambil menebak pikiran Vivi.
“Hehe... lo tau aja,” ucap Vivi sambil cengengesan.
“Huh... kebiasaan banget sih,” gerutu Suci “ya udah nih aku pinjemin. Cepat kerjain mumpung masih ada waktu satu jam lagi,” sambung Suci sambil memberikan tugasnya kepada Vivi.
“Thank you best friend, you the best!!” Vivi kegirangan sambil memeluk Suci.
“Duh... duh...” Suci berusaha melepaskan pelukan Vivi.
__ADS_1
“Ya udah gw mau di perpustakaan aja kerjainnya, lo mau disini apa mau ikut?” ajak Vivi.
“Kalo kamu mau pergi ke perpustakaan aku gak bakal nolak!” ucap Suci sambil tersenyum.
“Ya dah... anak kutu buku mah bakal beda kalo udah denger kata perpustakaan,” kata Vivi karena dia mengingat sahabatnya itu memang tidak bisa menolak jika diajak ke perpustakaan.
Suci dan Vivi pun langsung menuju ke perpustakaan bersama. Setelah sampai di perpustakaan Vivi langsung menyalin tugas Suci, sedangkan Suci berkeliling perpustakaan untuk mencari buku sastra yang menurutnya belum pernah dia baca.
“Buku yang itu kayaknya belum pernah aku baca deh!” gumam Suci sambil menatap buku yang ditaruhnya agak tinggi.
“Tapi kayaknya aku gak bakal nyampe,” gumam Suci lagi merasa kebingungan, tapi walaupun sudah tahu seperti itu dia tidak mau putus asa, dia pun mencoba meraih buku itu.
Suci benar-benar kesulitan untuk mendapatkan buku itu namun ditengah kesulitannya seseorang yang baik hati akhirnya membantu dia untuk mengambil buku yang tidak dapat dia jangkau itu.
“Terima kasih, udah nolongin ak--” Suci merasa terkejut sekaligus tidak percaya saat melihat orang yang sudah membantunya mengambil buku barusan.
“Sama-sama,” ucap pria itu singkat dengan memasang tampang dingin dan setelah itu dia pergi meninggalkan Suci yang masih terkejut itu.
Suci pun langsung menuju meja yang ditempati oleh Vivi sahabatnya, Vivi benar-benar tergesa-gesa sekali menyalin tugas Suci karena dia takut tiba-tiba jam mata pelajaran yang sedang dia salin menjadi maju lebih cepat. Suci melihat Vivi yang kebiasaannya seperti itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan dia langsung membuka buku sastra yang dia bawa tadi.
‘Kira-kira yang aku lihat tadi itu beneran kak Alam atau bukan ya? Atau cuman halusinasi aku aja?’ batin Suci masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
*******
Setelah satu jam ada di perpustakaan akhirnya jam mata pelajaran untuk guru killer yang dianggap oleh Vivi akhirnya pun tiba, Suci dan Vivi sudah ada di dalam kelas bersiap untuk mengikuti jam pelajaran. Seketika sosok pria yang tidak asing di mata Suci pun masuk ke kelas itu bersama kedua pria lainnya.
“Kak Alam....? Rupanya bener apa yang aku lihat di perpustakaan tadi?” gumam Suci.
“Lo kenapa Suc, muka lo kayak kaget gitu?” tanya Vivi saat melihat wajah sahabatnya yang tampak kaget.
“E-e-enggak apa-apa kok,” jawab Suci dengan terbata-bata.
__ADS_1
‘Kak Alam ternyata kuliah disini juga? Kalo kayak gini, gimana aku mau mengubur perasaan aku yang seharusnya gak terjadi?’ batin Suci merasa gugup, demi menghilangkan kegugupan dirinya Suci membolak-balik buku catatannya yang kosong.
Di meja lain yang di tempati oleh Alam, Alam sedang menatap ke arah Suci hingga akhirnya mahasiswi yang duduk di belakang Suci mengira bahwa Alam sedang melirik ke arah dirinya.
“Bro, lo lagi ngeliatin siapa sih?” tanya teman yang ada di sebelah Alam, Alam yang masih menatap ke arah Suci tidak menjawab pertanyaan temannya itu sehingga temannya itu pun mengikuti arah pandangan mata Alam.
“Glen, kayaknya ada yang lagi ngeliatin cewek nih,” kata teman yang ada di samping Alam kepada temannya Glen yang duduk di belakang mereka.
Glen yang mendengar perkataan Rian langsung menatap Alam dengan senyum-senyum meledek, karena mereka berdua tahu tidak biasanya Alam melirik kepada wanita manapun.
“Al, lo lagi jatuh cinta ya?” ledek Glen.
“Apaan sih lo pada gak jelas banget. Mana mungkin gw jatuh cinta!” bantah Alam.
“Ya elah... Al, kalo lo jatuh cinta juga gak apa-apa kali,” ucap Rian.
“Iya Al, itung-itung buat memenuhi syarat dari mami papi lo itu!” sambung Glen mendukung perkataan Rian.
“Syarat dari ortu gw?” Alam justru terlihat kebingungan dengan perkataan kedua temannya.
“Em... jangan bilang lo lupa syarat ke dua dari ortu lo,” kata Rian yang mengetahui sifat pelupa dari temannya itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1