
“Emm... tunggu sepuluh menit!” kata Tiara kepada karyawan itu dengan nada datar.
Karyawan itu hanya mengangguk untuk menanggapi perkataan Tiara dan setelah itu dia kembali ke ruang rapat.
“Ya ampun... Alam kemana sih?” gerutu Tiara sekali lagi dengan kesal sambil terus mencoba menghubungi Alam.
Alam telah tiba di kantor dan karena dia sudah telat dia tidak menuju ke ruangannya melainkan dia langsung menuju ruang rapat.
“Maaf semuanya saya terlambat!” kata Alam saat masuk keruangan rapat.
Alam pun langsung menuju kursi kebesarannya untuk duduk di sana, namun seketika pandangannya melihat ke kursi disampingnya yang masih kosong.
“Dimana sekertaris Tiara?” tanya Alam kepada yang ada diruangan itu.
“Tadi sekertaris Tiara masih ada di meja kerjanya, tuan Alam!” jawab salah satu karyawan yang tadi menemui Tiara di meja kerjanya.
“Oh... ya sudah, kalau begitu mari kita mulai saja rapat ini!” kata Alam menyuruh mereka untuk memulai pembahasan rapat.
Sesuai perintah dari Alam, mereka pun langsung membicarakan tentang hasil kinerja perusahaan bulan ini. Alam tidak banyak berbicara, di hanya akan berbicara jika dia menemukan kejanggalan dari kinerja perusahaan.
Delapan menit pun telah berlalu, rapat bulanan sudah dimulai tapi Tiara masih menunggu Alam di meja kerjanya, dia tidak tahu jika Alam sudah ada diruang rapat dan rapat sudah dimulai enam menit yang lalu. Tiara pun beranjak dari meja kerjanya dengan kesal dan dia langsung menuju ke ruang rapat untuk menunda rapat terlebih dahulu jika Alam belum juga sampai.
Saat tiba di ruangan rapat, Tiara tidak langsung masuk ke ruangan itu melainkan dia mengulas senyuman kesal karena melihat orang yang dari tadi dia tunggu di meja kerjanya ternyata sudah ada di ruangan itu bahkan rapatnya pun dimulai tanpa ada dirinya, percuma saja dia menunggu Alam dan mencoba meneleponnya berulang kali jika Alam sudah tau tentang rapat ini dan sekarang dia ada ruangan rapat ini.
Setelah tiga menit berdiri di depan ruang rapat, Tiara langsung masuk ke ruangan itu dengan wajah yang terlihat masam lalu dia tutupi dengan senyuman palsu dan dia pun langsung duduk di kursi kosong yang ada samping Alam.
“Lo kapan datang Al?” tanya Tiara kepada Alam dengan nada berbisik.
“Sepuluh menit yang lalu,” jawab Alam singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari layar proyektor.
“Gw dari tadi hubungin lo, kenapa gak aktif sih?” tanya Tiara lagi kepada Alam.
__ADS_1
“Ra, ini lagi rapat. Bisa gak kita ngomongnya nanti aja!” kata Alam dengan nada sungkan kepada Tiara, karena dia tidak ingin diganggu jika sedang rapat.
Tiara pun mengerti maksud Alam dan dia pun tidak bertanya lagi kepada Alam, dia memfokuskan dirinya pada rapat.
***
Di rumah Suci sedang memikirkan sesuatu, entah apa yang sedang dipikirkan olehnya tapi kelihatannya dia sangat gelisah sekali.
“Ya tuhan, apa yang terjadi kepada ku? Kenapa aku sangat gelisah sekali?” gumam Suci dengan nada yang benar-benar gelisah.
“Non...” panggil bi Ayu.
“Eh... iya bi ada apa?” tanya Suci.
“Non Suci kenapa? Dari tadi bibi liatin kayaknya gelisah banget!” tanya bi Ayu sangat ingin tahu.
“Emm... gak ada apa-apa kok bi,” Suci berbohong kepada bi Ayu.
Bi Ayu tidak yakin dengan ucapan Suci, karena tidak mungkin jika tidak ada apa-apa Suci terlihat gelisah seperti itu. Akhirnya tanpa bertanya lagi bi Ayu melanjutkan pekerjaannya karena dia terlalu mau ingin tahu apa yang sedang membuat majikannya itu gelisah.
‘Ci, aku ingin bertemu dengan mu.’
Suci mengerutkan keningnya karena merasa heran, dia tidak tau siapa yang mengirimkan pesan itu. Pesan itu dari nomor yang tidak dia kenal, Suci menjadi sangat heran sekali dan bingung siapa yang mengirimkan pesan itu? Dan kenapa dia bisa tahu nomornya? Karena seingat dirinya dia tidak pernah memberikan nomornya kepada siapapun selain orang-orang terdekatnya.
**
Di kantor Alam.
Alam sedang pusing karena ocehan dari Tiara yang dari tadi menanyakan apa penyebab dirinya terlambat dan kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi. Sungguh Alam merasa sangat jengah sekali dengan Tiara yang penuh ingin tahu itu.
“Ra, bisa gak sih gak usah nanya itu terus?” kata Alam dengan nada datar kepada Tiara.
__ADS_1
“Al, gimana gw gak nanya terus. Lo dari tadi gak mau jawab pertanyaan gw, lo bilang ini gak ada urusannya sama gw. Kalo ini gak ada urusannya sama gw terus lo ngapain minta gw buat jadi sekertaris lo?” kata Tiara dengan nada tidak terima.
Alam yang mendengar ocehan Tiara hanya bisa memijat keningnya karena dia benar-benar pusing dengan sikap Tiara yang menurutnya berlebihan.
“Al, lo tau gak sih? Saat telpon lo gak aktif, gw itu khawatir banget. Gw pikir lo kenapa-kenapa!” kata Tiara lagi dengan kesal.
“Udah-udah.... cukup Ra, cukup...” Alam benar-benar sudah tidak kuat lagi dengan ocehan Tiara, “lebih baik sekarang lo booking restoran di tempat biasa. Karena setengah jam lagi tuan Hatake ingin bertemu dengan kita!” kata Alam memerintah Tiara.
“Tuan Hatake....?” Tiara terlihat bingung dengan ucapan Alam, “memangnya hari ini ada janji dengan dia ya?” kata Tiara memasang tampang polos.
Alam hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan polos Tiara, dalam hatinya dia merutuki kebodohannya sendiri yang mempekerjakan Tiara sebagai sekertarisnya.
“Ra, lo ini gimana sih? Lo itu disini bekerja sebagai sekertaris gw, harusnya lo tau dong apa jadwal pekerjaan gw hari ini!” kata Alam dengan kesal.
Tiara yang mendapat teguran seperti itu dari Alam langsung menundukkan kepalanya karena dia merasa dirinya tidak berguna.
“Maaf Al...” ucap Tiara dengan nada sedih.
“Udah-udah, sekarang cepat kerjain tugas lo. Gw masih ada hal yang harus diurus!” kata Alam mengusir Tiara dengan cara halus. Tiara pun langsung keluar dari ruangan Alam dan mengerjakan pekerjaannya.
“Ya ampun... si Tiara itu kenapa jadi orang gak berguna gitu sih? Gw kira dia bisa jadi sekertaris gw, padahal dulu dia bisa melakukan apapun deh.” Kata Alam dengan nada yang sedikit kesal.
Tiara pun duduk di meja kerjanya dengan sangat kesal sekali, dia kesal karena perkataan dari Alam. Pertama Alam tidak mau mengatakan kepada dirinya apa penyebab dirinya terlambat dan apa penyebab ponselnya tidak bisa dihubungi, dan kedua dia kesal karena kritikan dari Alam. Tiara benar-benar merasa Alam yang sekarang bukan seperti Alam yang dulu, dulu Alam yang tidak pernah mengkritik dirinya dan tidak pernah bersikap acuh tak acuh terhadap dirinya.
“Gw heran deh, kenapa sifatnya Al itu berubah banget? Dulu kalo gw salah atau pelupa dia gak pernah kritik gw, dan dulu kalo dia terlambat satu detik aja dia selalu bilang ama gw apa penyebab dia terlambat, tapi sekarang.... sekarang kenapa dia bersikap seperti itu sama gw?” kata Tiara heran sekaligus kesal sekali.
.
.
.
__ADS_1
.
.