
“Apalagi yang harus aku lakukan supaya aku bisa mengubah kehidupan ku yang sedih ini? Kenapa kak Al selalu berubah-ubah kepada ku? Aku hanya ingin dia menganggap ku sebagai istrinya bukan sebagai partner perjanjian kontrak dengannya!” ucap Suci lagi sambil berlinang air mata, apalagi saat dia mengingat jelas bagaimana Alam menolak permintaan dari mertuanya kalau dia tidak ingin punya anak.
**
FLASH BACK SEKILAS
“Kamu pokoknya harus memberikan cucu buat mami dan papi.”
“Mam, aku tidak ingin punya anak!” kata Alam dengan nada tinggi menanggapi perkataan Wulan.
“Maksud kamu apa?”
“Maksud aku, aku tidak ingin punya anak di usia muda. Lagi pula, Suci mungkin juga tidak ingin punya anak secepat itu!”
“Kamu itu tidak bisa berkata seperti itu. Mana mungkin Suci tidak ingin punya anak secepatnya?”
“Terserah apa yang mau mami bilang. Yang jelas Alam tidak ingin punya anak cepat-cepat, TITIK...!!” kata Alam dengan penuh emosional dan setelah itu dia pergi meninggalkan Suci dan kedua orangtuanya.
FLASH BACK OFF
**********
Beberapa hari kemudian, Alam sedang ada pertemuan klien. Dia pergi bersama sekertarisnya itu Tiara, hari ini Tiara terlihat sangat profesional sekali, dia menjelaskan kepada klien tentang kerja sama. Tidak ada kesalahan sama sekali dari perkataan Tiara, bahkan klien yang diajaknya bicara sampai terkagum-kagum karena cara bicara Tiara yang lihai. Alam menjadi heran ada apa dengan Tiara hari ini, kenapa dia tidak seperti biasanya? Dia yang sekarang terlihat seperti sudah bertahun-tahun menjadi seorang sekretaris.
Selama satu setengah jam berbicara, perusahaan mereka akhirnya mencapai persetujuan dari perusahaan klien. Tiara dan Alam pun saling berjabat tangan dengan klien tanda persetujuan kerja sama mereka, Tiara merasa sangat senang sekali akhirnya dia bisa menangani kerja sama ini.
“Ra, hari ini lo kesambet setan apa? Lo beda dari biasanya!” tanya Alam penasaran dengan nada gurauan.
“Hahaha, gw kesambet?” Tiara tertawa renyah mendengar pertanyaan Alam, “yang ada lo kali Al yang kesambet!”
“Lah... kok gw?” Alam merasa heran.
“Ya iya, lo yang kesambet. Lo gak sadar dari tadi lo itu gak kayak biasanya!”
“Gak kayak biasanya. Maksud lo apaan?” Alam menjadi sangat heran.
__ADS_1
“Lo gak sadar ya, dari tadi lo pas gw ngobrol sama klien, lo itu senyum-senyum terus ngeliat gw!” kata Tiara dengan senyum kecil.
“Dih... kepedean banget sih lo. Emang iya apa gw kayak gitu?” Alam tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tiara.
“Emang iya...” jawab Tiara, “ayo... jangan-jangan lo suka ya sama gw, jadi lo senyum-senyum gitu ngeliat gw tadi?!” kata Tiara meledek Alam, namun dibalik perkataannya itu dia punya maksud tertentu.
“Dih... apaan sih lo. Gak mungkin gw suka sama lo!” kata Alam dengan nada agak ketus.
Mendengar jawaban Alam ada rasa sakit di dada Tiara, wajahnya pun terlihat murung sekali.
“Hahahaha.... enggak-enggak gw bercanda kok. Lagian gw juga dari tadi fokus sama klien, mana mungkin gw ngeliat lo!” kata Tiara tertawa hambar untuk menyembunyikan kesedihannya.
“Huh... udah gw duga, gw gak mungkin senyum-senyum gak jelas!” kata Alam dengan nada jengkel.
‘Sebenarnya lo memang tadi senyum-senyum Al. Gw kira lo senyum-senyum sama gw, tapi kayaknya lo bukan senyum-senyum ke gw melainkan ada sesuatu yang lo pikirin jadi lo secara gak sadar senyum-senyum sendiri!’ batin Tiara sambil menatap Alam dengan wajah yang sendu.
“Aku tidak mengerti kenapa kau terus-terus meminta ku untuk datang menemui dirimu?” kata seorang wanita dengan nada tinggi kepada seseorang.
Alam yang sedang menikmati america latte-nya merasa sangat mengenal suara wanita itu, dia pun mencari si empu suara itu.
“Aku tidak peduli...!! Justru aku sangat senang kau jauh dari ku, jika bisa kau seharusnya tidak lagi menampakkan dirimu dihadapan ku!!” ketus wanita itu lagi yang tidak lain adalah Suci.
Di sudut lain, Tiara sedang memperhatikan Alam. Dia merasa heran kenapa Alam terlihat seperti sedang mencari sesuatu?
“Al, lo lagi cari siapa sih? Dari tadi kayak orang keder begitu?” tanya Tiara sambil menautkan kedua alisnya.
“Gw tadi mendengar suara orang yang gw kenal!” jawab Alam sambil terus mencari pemilik suara yang membuat dirinya penasaran.
“Orang yang lo kenal? Siapa, Al?” tanya Tiara lagi penuh ingin tahu.
“Ah... udahlah, mungkin gw salah denger kali!” kata Alam merasa pasrah dan dia kembali menikmati kopinya.
‘Aneh... gw tadi kayaknya denger suara Suci lagi marah?’ batin Alam sambil mencercap america latte-nya.
“Sudah cukup Mirai. Perbuatan mu kotor mu sembilan tahun lalu membuat aku sadar, bahwa kau bukanlah pria baik. Jadi... mulai sekarang jangan pernah mencari ataupun meminta ku untuk datang menemui dirimu lagi!!” kata Suci penuh emosi dan penekanan dan setelah itu dia pergi dari sana.
__ADS_1
“Cici... tunggu sebentar, apa maksud mu dengan perbuatan kotor yang aku lakukan? Suci.... Suci....” teriak Mirai kepada Suci yang berjalan meninggalkan dirinya, sehingga membuat para pengunjung terganggu akan teriakkan darinya.
Alam mendengar nama istrinya disebut oleh seorang pria langsung melihat pemilik suara yang memanggil nama istrinya itu. Dan dia mendapati Mirai yang sedang berdiri dengan wajah kesal sekaligus kebingungan, lalu sekilas matanya melirik ke luar resto dan melihat istrinya yang pergi dari tempat itu dengan wajah yang sangat marah.
‘Suci...? Mirai...? Apa yang sedang mereka lakukan di sini? Dan apa yang barusan aku tidak sengaja dengar tadi?’ batin Alam penuh pertanyaan.
“Ya ampun.... masalah percintaan di jaman modern ini sungguh rumit sekali ya!” kata Tiara seorang diri setelah mendengar pertengkaran dua orang yang membuat keributan itu, dia tidak tahu bahwa yang membuat keributan itu adalah Mirai dan juga Suci, karena dia tidak melihat kearah Mirai dan Suci.
Di tengah rasa penasarannya Alam mendapatkan notifikasi pesan dari Suci. Alam pun langsung membuka isi pesan dari istrinya itu.
‘Kak Al, hari ini aku ingin pergi menemui bunda Halimah.’
‘Baiklah, jangan pulang terlalu larut.’
‘Maaf kak Al, tapi aku ingin menginap beberapa hari di panti.’
Mendapat balasan itu dari Suci, Alam langsung terlihat muram dan kesal. Sehingga Tiara yang sedang menikmati es krim-nya jadi heran kenapa Alam terlihat kesal seperti itu.
“Al, lo kenapa?” tanya Tiara.
“Gak kenapa-kenapa,” jawab Alam datar, “ayo kita kembali ke kantor!” kata Alam sambil beranjak dari duduknya.
“Tunggu Al...” Tiara menghentikan Alam.
“Kenapa...?”
.
.
.
.
.
__ADS_1