
Suci pun terdiam sejenak dengan pertanyaan dari Halimah, lalu setelah itu diam menghela nafas dalam-dalam dan menceritakan penyebab Alam dan Mirai bertengkar tadi.
*****
“Jadi ... Alam dan Mirai bertengkar karena suami kamu itu salah paham sama apa yang dikatakan Mirai?” tanya Halimah sangat terkejut setelah selesai mendengarkan pembicaraan Suci.
“Iya bun!” jawab Suci dengan lesu.
“Ya tuhan .... Mirai itu benar-benar keterlaluan sekali!!” geram Halimah, “apa dia belum puas dulu dia hampir merusak harga dirimu?” kata Halimah benar-benar mulai terbawa emosi.
“Aku tidak memikirkan hal itu sekarang bunda. Yang aku pikirkan sekarang adalah suami ku, sekarang dia benar-benar salah paham kepada ku!!” kata Suci dengan nada yang masih sedih sekaligus terlaput emosi karena ulah Mirai.
“Ya sudah .... bagaimana jika lebih baik kau pulang saja, jelaskan dengan baik-baik kepada suami mu. Semoga saja dia bisa mendengarkan apa yang kamu bicarakan!” Halimah memberikan saran kepada Suci.
Suci pun langsung mengangguk setuju dengan perkataan dari Halimah, dia pun mengusap air matanya yang hampir menetes dan setelah itu dia pergi mengambil tasnya lalu berpamitan kepada Halimah untuk pulang ke rumahnya.
***
Sesampai di rumah, Suci langsung masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Dia ingin segera menemui suaminya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tapi saat memeriksa kamar dan seluruh isi rumah dia tidak menemukan suaminya ada di manapun. Bi Ayu yang melihat istri majikannya kelihatan sedih dan kebingungan pun menjadi terlihat heran.
“Non, nona cari siapa? Tuan Al ya?” tanya bi Ayu kepada Suci.
“Iya bi, bibi tau gak kak Al ada dimana?” tanya Suci dengan tidak sabaran.
“Waduh .... saya gak tau non, yang saya tahu tadi tuan Al perginya pagi-pagi sekali, dia juga gak sempet sarapan dirumah!” tutur bi Ayu kepada Suci.
Suci terlihat sangat putus asa dan dia pun terjatuh dia atas sofa yang tepat ada dibelakangnya, dia pun menutupi wajahnya dan memikirkan kembali kejadian di panti asuhan.
‘Pasti setelah pergi dari panti asuhan kak Al tidak pulang ke rumah?’ batin Suci, ‘tapi dia pergi kemana? Apa dia pergi ke kantor?’ batin Suci lagi dan setelah itu dia kembali membawa tasnya untuk pergi menuju kantor suaminya itu.
“Non... nona mau kemana non?” tanya bi Ayu berteriak kepada Suci. Suci tidak menjawab pertanyaan dari bi Ayu, bukan maksud tidak sopan, tapi saat ini yang ada dipikirannya hanya Alam dan bagaimana cara mengatasi kemarahan Alam.
***
Panti asuhan kasih sayang.
“Bunda Halimah, ada yang mau bertemu sama bunda!” kata Dora yang menghampiri Halimah di ruangannya.
“Siapa sayang?” tanya Halimah penasaran, karena seingat dia, hari ini tidak ada janji dengan orang lain.
__ADS_1
“Aku juga gak tau bun!” jawab Dora sambil menaikkan kedua bahunya.
“Ya udah .... bunda akan segera ke sana, kamu balik main lagi aja!” ucap Halimah kepada Dora sambil tersenyum.
“Ok deh bunda!!” sahut Dora setelah itu dia langsung berlari pergi.
Halimah pun langsung beranjak pergi untuk menemui orang yang dimaksud oleh Dora.
“Maaf, apa anda adalah orang yang ingin bertemu dengan saya?” tanya Halimah dengan sopan kepada seorang wanita paruh baya yang sedang membelakangi dirinya.
Wanita paruh baya itu pun langsung berbalik ketika mendengar pertanyaan dari Halimah, wanita itu ternyata adalah Wulan.
“Iya benar!” jawab Wulan sambil mengulas senyuman kepada Halimah.
Halimah membalas senyuman dari Wulan dan setelah itu dia bertanya kepada Wulan, apa maksud serta tujuannya datang ke panti asuhan dan ingin menemui dirinya.
***
Suci telah sampai di kantor Alam, dia langsung menerobos masuk dan menuju ke resepsionis dengan langkah terburu-buru.
“Permisi mbak, apa boleh saya tau ruangan kak Al dimana?” tanya Suci kepada petugas resepsionis.
“Emm... maksud saya Alam Adiwiyata!” jawab Suci dengan nada sopan.
Mendengar nama Alam disebut oleh mulut Suci, kedua resepsionis yang ada disitu pun langsung berbisik dan menatap Suci dengan tatapan yang merendahkan.
“Ada urusan apa kau dengan wakil direktur kami?” tanya resepsionis satunya lagi kepada Suci dengan nada sinis.
“Aku ada urusan yang sangat penting yang harus dibicarakan!” jawab Suci masih dengan nada sopan.
“Urusan penting .... heeh, paling juga mau ngerayu tuan Alam!” kata resepsionis itu lagi dengan nada merendahkan.
Suci yang mendapat perlakuan seperti itu dari kedua resepsionis tidak mau ambil pusing, karena bagi dirinya sekarang lebih penting menemui Alam.
“Maaf mbak, saya datang kesini dan bertanya dengan baik-baik. Sekarang saya tanya sekali lagi, boleh saya tau dimana ruangan kak Al?” kata Suci dengan nada tegas.
“Eh... wanita rendahan, berani banget kau buat keributan disini!” bentak salah satu resepsionis itu lagi.
“Security....!!” teriak resepsionis lainnya memanggil petugas keamanan kantor.
__ADS_1
“Loh .... kok jadi panggil keamanan sih?” kata Suci merasa heran.
“Ada apa ini?” tanya security.
“Ini, wanita ini membuat keributan, cepat bawa dia pergi!” kata salah satu resepsionis sambil menunjuk Suci.
Suci yang mendapatkan perlakuan seperti itu langsung merasa kesal.
“Maaf nona, anda tidak bisa membuat keributan disini, sekarang ayo pergi!” kata petugas keamanan itu dengan mendorong Suci.
Suci pun yang berdiri tidak seimbang menjadi goyah dan jatuh, tapi ... ternyata dia tidak jatuh, karena seseorang menangkap dirinya.
“Kau baik-baik saja?” tanya orang yang menangkap Suci dengan nada lembut, orang itu tidak lain adalah Mirai.
Suci pun langsung bangun dan menjauh dari Mirai, dia mulai menatap kedua resepsionis berdiri di belakang meja resepsionis dan petugas keamanan itu dengan marah.
Suci rasanya ingin sekali marah kepada ketiga orang yang memperlakukan dirinya dengan tidak sopan itu, namun dia berpikir memangnya dia siapa bisa memarahi para karyawan suaminya itu? Akhirnya dia pun pergi dari tempat itu dengan rasa kesal. Mirai ingin mencoba menghentikan Suci, tapi niatnya dia urungkan karena dia teringat mungkin Suci masih sangat marah kepadanya.
“Apa yang kalian lakukan kepada wanita tadi?” tanya Mirai dengan nada datar kepada ketiga petugas yang memperlakukan Suci tidak sopan.
“Kami hanya mengusirnya saja pak Mirai, karena dia membuat keributan dan ingin bertemu dengan wakil direktur kami!” jawab salah satu petugas resepsionis dengan penuh percaya diri.
“Apa ....?” Mirai terkejut dengan jawaban resepsionis itu dan agak emosi.
“Apa yang kalian lakukan .....? apa kalian tidak tahu siapa dia?” bentak Mirai kepada mereka bertiga.
Ketiga petugas itu pun terkejut ketika mendapat bentakan dari partner kerja sama perusahaan Adiwiyata.
“Dasar kalian tidak berguna!” bentak Mirai lagi, “dia itu adalah--”
“MIRAI ....!!” perkataan Mirai terhenti ketika mendengar namanya disebut dengan sangat keras oleh suara yang sangat tidak asing di telinganya itu.
•
•
•
•
__ADS_1
•