
“Gw yang masang foto lo disitu!” jawab seorang wanita dengan suara lantangnya sehingga semua orang yang masih berkerumunan di tempat itu menengok ke arah dirinya.
Suci menghela nafas kasar ketika mengetahui siapa dia, dia adalah Viola ketua dari trio Vio hal itu terbukti jelas karena di samping dia ada dua orang lagi yaitu Viona dan Viora.
“Ya ampun ternyata orang sok cantik itu!” gerutu Vivi agak kesal, “kenapa sih mereka selalu aja mengganggu ketenangan kita?”
“Viola, maksud kamu apa dengan semua ini?” tanya Suci dengan nada kesal tapi terdengar biasa saja.
“Oh... itu udah jelas bukan?” ucap Viola dengan angkuhnya.
“Maksud kamu?” Suci tidak mengerti.
“Buat nunjukin ke semua orang disini kalo kamu gak secupu yang mereka lihat,” jawab Viora.
“Emangnya kenapa kalo mereka lihat aku cupu?” tanya Suci dengan nada santai.
“Kalo mereka lihat lo cupu, mereka gak tahu dong kalo lo itu ayam kampus.” Kata Viona dengan nada merendahkan Suci.
Setelah mendengar omongan Viona mereka semua yang ada ditempat itu langsung berbisik-bisik dan memandang Suci dengan tatapan yang merendahkan, Vivi yang mendengar sahabatnya dihina seperti itu merasa sangat marah sekali, Suci yang dihina seperti itu dengan Viona, emosinya yang tadi masih terkendali sekarang menjadi meningkat.
“Maksud lo bertiga apa bilang Suci kayak gitu?” bentak Vivi.
“Vivi, lo tau gak sih... temen lo ini, namanya doang Suci tapi sikapnya gak kayak namanya!” ujar Viora kepada Vivi dengan nada merendahkan Suci.
Suci merasa kesal sekali namun rasanya dia tidak bisa marah dengan mereka semua karena Suci tidak ingin membuat keributan yang menyebabkan dirinya di DO dari kampus. Dia pun langsung merobek foto dirinya di mading dengan perasaan kesal dan setelah itu dia pergi dari kerumunan itu.
“Suc, tunggu dong...!” teriak Vivi kepada Suci dan setelah itu mengejarnya.
“Ucuk... ucuk... dia marah ya!” ucap Viola sambil tersenyum senang karena bisa merendahkan Suci.
“Dia marah, tapi kelihatannya dia gak bisa ngelawan kita!” ucap Viora dengan senyuman sinis.
“Ya mungkin karena omongan kita itu benar!” sambung Viona dengan senyuman yang tidak kalah sinis.
Suci yang merasa kesal langsung menuju ke tempat yang agak sepi dan menendang batu yang ada di depannya setelah itu dia melempar foto dirinya yang dia robek dari mading kampus tadi.
“Suc, tenang dong...” Vivi berusaha menenangkan Suci, ya walaupun dia sendiri juga belum bisa tenang karena sikap trio Vio yang merendahkan sahabatnya tadi.
__ADS_1
“Tenang kamu bilang,” ucap Suci kepada Vivi dengan nada kesal, “dengan aku gak ngelawan perkataan mereka aku udah nunjukin aku tenang Vi, tapi aku gak bisa tenang karena gara-gara mereka seluruh kampus jadi menilai aku seperti ayam kampus.” Kata Suci benar-benar sangat emosi tingkat tinggi tapi dia masih berusaha untuk tenang.
“Iya... iya... gw tau, sebenarnya kalo lo gak lagi di kampus pasti lo bakal ngelawan mereka.” Kata Vivi sambil mengusap punggung Suci berusaha untuk menenangkan sahabatnya.
“Lagian mereka kok bisa berpikir gitu sih?” kata Vivi lagi merasa bingung sekali.
“Waktu itu sebenarnya aku gak berniat buat ikut kontes kecantikan Vi,” kata Suci dengan nada yang agak berat.
“Hah.... maksudnya?” Vivi bingung dengan ucapan Suci.
“Iya, waktu itu aku gak ada niatan buat ikut kontes kecantikan, tapi pas sebelum hari kontes kecantikan itu mau dilangsungkan salah satu adik aku yang ada di panti asuhan butuh biaya besar buat operasi dan aku inget bahwa hadiah dari kontes ini lumayan, jadi aku mohon-mohon sama pak Tomi yang waktu itu sebagai panitia buat izinin aku ikutan,” Suci berhenti sejenak untuk menghela nafas.
“Awalnya pak Tomi gak kasih izin tapi karena aku terus memohon sampe-sampe sujud di kaki dia akhirnya dia kasih aku kesempatan. Nah disitu entah sengaja atau enggak si trio Vio itu ngeliat aku dan mereka bilang kalo aku ngerayu pak Tomi!” kata Suci dengan nada yang terdengar sedih ketika mengingat hari dimana dirinya ikut kontes.
“Oh... jadi gitu kejadiannya!” kata Vivi setelah mendengar penjelasan dari Suci, “emang ya Suc, kalo kita gak tahu seluruh kejadian bakal jadi malapetaka ya!”
“Iya makannya kalo denger berita apapun jangan setengah-setengah dan juga kalo gak tahu seluruh kejadiannya jangan langsung menyimpulkan!” kata Suci menasehati Vivi.
“Siap gw akan selalu inget perkataan seorang kutu buku!” kata Vivi memberi hormat kepada Suci sembari mengulas senyuman, Suci yang melihat tingkah sahabatnya pun ikut tersenyum.
“Serius lo mau absen?” Vivi tidak percaya dengan perkataan sahabatnya karena selama ini Suci tidak pernah bolos sama sekali.
“Iya.... please ya Vi, aku mohon!” kata Suci sambil mengatupkan telapak tangannya.
“Ya udah oke deh,” Vivi menyetujui permohonan sahabatnya.
“Makasih Vi,” Suci memeluk Vivi, “Ya udah kalo gitu aku mau ke restoran ya!”
“Lo mau langsung kerja?” tanya Vivi.
“Iya” jawab Suci singkat dan setelah itu dia meninggalkan sahabatnya.
“Huft... dasar tuh anak dari dulu gak pernah berubah, setiap kali kalo ada masalah di lampiasinnya ke kerjaan!” kata Vivi seorang diri dan setelah itu dia pergi untuk menuju ke kelas.
********
Dua jam kemudian di tempat kerja Suci.
__ADS_1
“Cici, ada orang yang cariin kamu tuh!” kata pak Anton kepada Suci yang sedang membersihkan meja bekas makan pelanggan.
“Hah... siapa pak?” tanya Suci penasaran karena dia tidak memiliki janji temu dengan siapapun di restoran ini.
“Saya juga gak tahu,” jawab pak Anton, “udah sana kamu temui aja orangnya, biar ini saya yang ngelanjutin!” perintah pak Anton kepada Suci.
“Emang penting banget ya pak?” tanya Suci lagi.
“Ya mana saya tahu, udah sana temuin aja dulu!” perintah pak Anton lagi.
“Ya... ya udah deh pak!” kata Suci dengan ragu-ragu dan setelah itu dia pun berjalan meninggalkan pak Anton.
“Kira-kira orang itu mau ngapain Cici ya?” gerutu pak Anton penasaran sekaligus khawatir.
“Pak Anton...” panggil Suci.
“Ya ampun... kenapa kok balik lagi?” tanya pak Anton sedikit terkejut karena Suci tiba-tiba ada di sampingnya.
“Kira-kira orang yang mau ketemu sama saya dimana ya pak?” tanya Suci karena pak Anton tadi tidak memberitahu dimana orang yang ingin bertemu dengan dirinya.
“Oh ya ampun, saya lupa kasih tahu ya!” ucap pak Anton sambil menepuk jidatnya, “dia duduk di meja nomor 5.”
“Oh... makasih ya pak,” kata Suci sambil tersenyum setelah itu dia langsung menuju meja yang disebutkan oleh pak Anton.
Sesampainya di meja no 5, Suci berhenti sejenak sambil berpikir kenapa orang itu mau menemui dirinya? Apa kemarin ada pelayanan yang kurang memuaskan kepada pelanggan sehingga pelanggan itu datang dan ingin memarahi dirinya?
“Kenapa lo masih berdiri disitu?” kata pria yang duduk di meja no 5 itu dengan nada yang terdengar arogan.
.
.
.
.
.
__ADS_1