Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 26


__ADS_3

“Waktu itu, aku masih berumur tiga belas tahun...”


FLASH BACK SEMBILAN TAHUN LALU.


“Cici....” panggil pria berumur empat belas tahun kepada Suci yang berumur tiga belas tahun.


“Mirai-kun,” sahut Suci sambil tersenyum sumringah. Mirai pun langsung menghampiri Suci yang sedang bermain dengan Suci kecil.


“Wuah... Suci, kau ini selalu membuat Cici lelah ya?” kata Mirai sambil mengacak-acak rambut Suci kecil.


“Tidak... aku tidak membuat kak Cici lelah. Benarkan kak Cici?” kata Suci kecil sambil menatap Suci dengan wajah polosnya.


“Iya sayang...” ucap Suci sambil merapikan rambut adik kecilnya itu yang tadi sempat dibuat berantakan oleh Mirai.


“Mirai... ada perlu apa kau kemari?” tanya Suci kepada Mirai penasaran.


“Memangnya aku diharuskan ada perlu dulu baru boleh datang kemari?” Mirai balik bertanya dengan nada meledek.


“Bukan... bukan seperti itu Mirai!” Suci mengulas senyuman.


“Suci imut. Apa boleh aku meminjam Cici sebentar?” kata Mirai kepada Suci kecil.


Suci kecil tidak langsung menjawab pertanyaan dari Mirai, melainkan dia menatap Mirai dan setelah itu dia menatap Suci sambil memasang wajah imutnya. Dari ekspresi wajahnya tampak dia ingin mengatakan sesuatu, tapi dia urungkan.


“Ya sudah, jangan lama-lama ya bersama kak Cici.” Kata Suci kecil dengan nada memerintah kepada Mirai.


“Baiklah, ya mulia kecil!” kata Mirai sambil membungkukkan badannya seakan-akan Suci kecil adalah seorang penguasa. Setelah itu Suci kecil langsung meninggalkan Mirai dan Suci berdua saja.


“Kenapa kau meminta Suci pergi? Apa kau ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada ku?” tanya Suci dengan wajah penasaran.


“Kau ini... apa kau mempunyai kemampuan untuk membaca pikiran orang lain? Kenapa kau bisa tahu aku ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada mu?” kata Mirai sambil mengulas senyuman kecil kepada Suci.


Suci hanya melengoskan wajahnya sambil menghela nafas panjang.


“Tadi bilangnya gak ada urusan, sekarang malah bilang ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan!” kata Suci dengan nada menggerutu.


Mirai menelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil kepada Suci yang sedang menggerutu itu.


“Sudah... sudah. Ayo segera ikut aku!” ucap Mirai sambil menarik tangan Suci.


“Kau ingin mengajak ku kemana?” tanya Suci dengan kebingungan.

__ADS_1


“Sudah diam saja dan ikut aku!” kata Mirai terdengar memerintah.


Suci pun diam dan dengan pasrah mengikuti Mirai yang sedang menarik tangannya. Mirai membawa Suci pergi dengan motornya, sebelum pergi Mirai meminta izin kepada Halimah untuk mengajak Suci ke suatu tempat. Karena Mirai dan Suci sudah terlihat sangat dekat, Halimah pun mengizinkan Mirai untuk membawa Suci pergi.


Mirai langsung membawa Suci pergi dari sana dan menuju tempat yang ingin didatangi Mirai. Mirai terlihat tampak bahagia sekali bisa pergi dengan Suci, sedangkan Suci yang membonceng di motor Mirai tampak terlihat kebingungan, karena dia belum tau Mirai akan membawa dirinya kemana.


***


Mirai pun menghentikan motornya dan menyuruh Suci untuk turun, lalu setelah itu dia memarkirkan kendaraannya.


“Ini...?” Suci melihat sekeliling dengan tatapan bingung.


“Ayo kita masuk!” ajak Mirai setelah dia kembali ke Suci.


“Mirai... ini dimana?” tanya Suci yang masih memperhatikan sekeliling.


“Ini dirumah ku.”Jawab Mirai sambil mengulas senyuman diwajahnya.


“Apa... dirumah mu?” Suci terkejut dengan jawaban Mirai.


“Ehem...” Mirai menganggukkan kepalanya, “sudah ayo masuk!” ucap Mirai sambil menarik tangan Suci dan mengajaknya masuk.


“Mirai... apa benar ini rumah mu?” Suci belum yakin jika rumah mewah bak istana itu adalah rumah Mirai.


“Jika ini bukan rumah ku, untuk apa aku datang kemari?” Mirai balik bertanya kepada Suci.


Suci membenarkan apa yang dikatakan oleh Mirai. Dia pun kembali melihat langit-langit rumah itu, dia sungguh takjub dengan ukiran yang ada di langit-langit rumah Mirai, Ini adalah baru pertama kalinya Suci datang ke rumah Mirai.


Suci bisa mengenal Mirai karena dia adalah salah satu anak dari pendiri panti asuhan kasih sayang. Waktu itu Suci kira Mirai adalah salah satu anak panti asuhan, tapi dugaannya salah. Setelah Mirai mengenal Suci, Mirai pun sering sekali datang ke panti asuhan untuk membagikan sumbangan untuk panti dan dia sering bermain bersama Suci, dan lama kelamaan Mirai dan Suci pun semakin dekat.


********


“Nona Suci...!!” panggil salah satu pelayan Mirai kepada Suci.


“Iya...”


“Nona anda ditunggu oleh tuan muda Mirai di kamarnya!” kata pelayan itu kepada Suci.


“Di kamar....?” Suci merasa heran, “kenapa harus di kamar?” Suci bertanya dengan penuh penasaran kepada pelayan itu.


“Saya tidak tau nona, saya hanya menyampaikan perintah saja!” kata pelayan itu dengan sopan.

__ADS_1


“Oh... ya sudah kalau begitu, apa kau bisa mengantarkan aku ke kamar Mirai?” kata Suci dengan mengulas senyuman.


“Tentu nona. Mari ikuti saya!” kata pelayan itu lagi dan dia langsung memandu Suci, Suci pun mengikuti pelayan itu.


Mereka pun telah sampai di depan ruangan yang memiliki ukiran indah di setiap inchi pintu itu, Suci meyakini bahwa ruangan itu adalah kamar Mirai.


“Silahkan masuk nona!” pelayan itu membuka pintu kamar Mirai dan mempersilahkan Suci untuk masuk.


Suci pun langsung masuk dan dia melihat seisi kamar itu, tapi dia tidak menemukan sosok Mirai di ruangan itu.


“Dimana Mirai?” tanya Suci kepada pelayan itu.


“Emm... mungkin tuan muda sedang keluar sebentar. Kalo begitu saya akan mencari tuan muda!” kata pelayan itu.


Suci menanggapi pelayan itu dengan hanya menganggukkan kepalanya dan setelah itu pelayan yang mengantarkan Suci keluar dari kamar. Pelayan itu tidak langsung pergi mencari Mirai, melainkan dia mengulas senyuman jahat.


“Kau berani menggoda tuan muda, lihat saja apa yang akan terjadi setelah kau masuk ke dalam kamar ini?!” ucap pelayan itu menyeringai jahat dan setelah itu dia pergi dari kamar itu.


*


Dua puluh menit berlalu Suci menunggu di ruangan itu, tapi sosok Mirai belum juga muncul di depannya.


“Mirai kemana sih?” gerutu Suci sambil meremas tangannya, entah kenapa dia merasa gelisah.


Seketika terdengar suara pintu dibuka, tapi sepertinya bukan suara pintu kamar karena saat Suci melihat ke sana, tidak ada pergerakan dari pintu itu.


Suci pun mendengar suara decitan pintu dibuka lagi, dia melihat sekeliling ruangan itu dan akhirnya pandangannya tertuju kepada pintu yang tidak begitu jauh dari hadapannya. Seketika Mirai pun muncul dari balik pintu itu, Suci pun menghela nafas lega sembari menggelengkan kepalanya pelan.


“Ternyata kau dari tadi ada di sana?” ucap Suci dengan nada yang agak kesal.


“Kau...? Siapa kau? Kenapa ada didalam kamar ku?” tanya Mirai dengan nada tinggi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2