Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 19


__ADS_3

Sedangkan Alam suaminya, selalu sibuk dengan urusan kantornya dan dalam kesibukannya itu dia sudah mulai dibantu oleh sekertaris barunya yaitu Tiara. Tanpa Suci sadari bahwa pernikahan pura-puranya itu sedang diambang kehancuran dengan kedatangan Tiara yang bekerja sebagai sekertaris.


Di kantor Alam.


“Al...!!” panggil Tiara saat masuk keuangan kerja Alam.


“Ya ampun Ra, udah berapa kali gw bilang kalo mau masuk keruangan gw ketok pintu dulu!” keluh Alam kepada Tiara yang masuk secara tiba-tiba.


“Maaf... maaf... gw lupa,” kata Tiara sambil memasang tampang polos.


“Cepet bilang, lo mau ngomong apa?” tanya Alam sambil kembali sibuk dengan komputernya.


“Emm... gw mau kasih tau nanti siang kita ada pertemuan sama klien dari Jepang.” Kata Tiara memberitahukan kegiatan Alam nanti siang.


“Oh iya... gw hampir lupa, untung lo ingetin,” kata Alam yang benar-benar lupa tentang pertemuannya dengan klien hari ini, “ya udah, lo tolong siapin aja lembar proyeknya, karena gw masih harus nanganin email yang dikasih sama bokap gw!” kata Alam lagi kepada Tiara.


“Ok deh,” sahut Tiara sambil tersenyum dan dia langsung keluar dari ruangan Alam untuk mengerjakan tugasnya.


“Duh... Kenapa dia baru bilang sekarang sih kalo gw ada klien Jepang nanti siang, gw kan bener-bener lupa. Coba kalo Suci, walaupun dia bukan sekertaris gw tapi dia selalu tau aja apa kegiatan gw hari ini. Gw juga kenapa pake acara lupa sih, padahal kan sebelum berangkat tadi Suci udah ingetin gw!” gerutu Alam membandingkan sekertaris dan istrinya.


“Kira-kira Suci lagi ngapain ya sekarang?” gumam Alam memikirkan Suci.


Di panti asuhan kasih sayang.


Suci dan Vivi sedang berada di panti asuhan, hari ini mereka tidak ada kuliah jadi mereka pergi ke panti asuhan kasih sayang untuk bermain bersama anak-anak. Vivi sangat senang bermain bersama anak-anak panti sedangkan Suci sibuk mengurus para bayi yang ada disana, entah mereka para bayi yang dibuang oleh orang tuanya atau mereka adalah bayi yang dititipkan oleh orang tua mereka, yang jelas Suci memperlakukan para bayi itu sama.


Halimah yang dari tadi memperhatikan Suci sangat senang sekali, karena Suci tidak berlarut-larut berduka untuk kepergian Suci kecil. Halimah seketika teringat dengan masa kecil Suci, dan bagaimana dia menemukan Suci di rumah yang terbakar delapan belas tahun yang lalu.


**


Pukul jam dua belas siang Suci mengajak anak-anak untuk makan siang, Vivi yang masih asik sibuk main dengan anak-anak langsung menghentikan aktivitasnya dan langsung menyuruh anak-anak untuk mendengarkan perintah Suci. Mereka semua pun dengan senang hati mengikuti perintah kedua orang itu dan langsung menuju ke dalam panti untuk menyantap makan siang.


Suci dan Vivi membantu Halimah menyajikan makanan di piring anak-anak sehingga mereka tidak ada terjadi perebutan sama sekali diantara mereka.


“Ok... sekarang sebelum kita makan, kita harus baca doa dulu ya, anak-anak!” kata Suci kepada mereka semua setelah selesai menyajikan makanan.

__ADS_1


“Iya kak Cici,” jawab anak-anak serempak dan mereka pun langsung berdoa untuk memulai makan. Setelah mereka selesai berdoa mereka langsung menyantap makanan mereka dengan sangat lahap.


“Vi, aku titip ponsel ku bentar ya, aku mau ke toilet!” ucap Suci sambil menyerahkan ponselnya kepada Vivi dan langsung terburu-buru menuju toilet.


“Dasar...” gerutu Vivi kepada sahabatnya itu.


“Vi, Cici kemana?” tanya Halimah yang tiba-tiba ada sudah ada di sampingnya sambil celingukan mencari Suci.


“Suci, lagi ke toilet bunda!” jawab Vivi sambil menyunggingkan senyuman.


“Oh... nanti kalo dia udah balik, suruh dia keruangan bunda ya nak!” kata Halimah menitipkan pesan kepada Vivi.


“Ok deh bunda,” jawab Vivi dan setelah itu Halimah kembali meninggalkan Vivi bersama anak-anak panti.


Notifikasi pesan di ponsel Suci pun berbunyi sehingga Vivi agak kaget ketika ponsel Suci berbunyi, dan rupanya itu hanya notifikasi pesan.


“Duh... si Suci ini volume notifikasi kenceng banget sih, bikin gw kaget aja!” gerutu Vivi agak kesal. Lalu tanpa sengaja dia melihat isi pesan itu yang tertera di layar ponsel Suci yang tidak terkunci.


‘Ci, aku kembali.’ Seperti itulah isi pesan yang terlihat di layar ponsel Suci.


“Kau kenapa senyum-senyum seperti itu, Vi?”


Suara Suci yang tiba-tiba ada disampingnya membuat Vivi sangat terkejut sehingga dia hampir menjatuhkan dua ponselnya yang ada ditangannya, yaitu satu ponsel miliknya dan satu lagi milik Suci.


“Ya ampun, Suci. Lo bisa gak sih, gak usah kayak hantu yang tiba-tiba nongol gitu?” oceh Vivi kepada Suci.


“Dih... orang aku udah ada tiga detik berdiri disini, kamu-nya aja yang asik tau mikirin apaan? Sampai senyum jahil kayak gitu lagi.” Kata Suci tidak mau kalah dari Vivi.


“Ayo ngaku, kamu lagi bikin rencana apa buat jahilin aku?” tanya Suci mengintrogasi Vivi. Vivi langsung mengulas senyuman tidak berdosa kepada Suci, dan tiba-tiba dia teringat pesan Halimah untuk Suci.


“Oh ya... gw hampir lupa, bunda tadi nyuruh kamu buat ke ruangannya!” kata Vivi.


“Bohong banget,” Suci tidak percaya dengan ucapan Vivi.


“Ya ampun.... gak percaya banget sih lo sama gw. Gw itu ngomong beneran!” Vivi meyakinkan Suci yang terlihat sangat tidak percaya dengan perkataannya.

__ADS_1


“Bener nih gak bohong?” Suci masih menatap sahabatnya dengan tidak percaya.


“Serah lo deh, kalo lo gak percaya juga bodo amat. Yang penting gw udah kasih tau lo!” Vivi membuang wajahnya kearah lain karena berpura-pura kesal kepada Suci.


“Ya udah deh aku ke ruangan bunda,” Suci terpaksa percaya dengan perkataan Vivi, “tapi... awas ya, kalau kau bohong aku tidak akan memberikan tugas ku lagi kepada mu!” ancam Suci kepada Vivi.


“Terserah lo...” Vivi mempertegas perkataannya. Sedangkan Suci langsung menuju keruangan Halimah.


***


Di suatu restoran, yaitu restoran tempat langganan Alam.


Alam dan Tiara sudah menunggu selama sepuluh menit untuk kedatangan kliennya yang dari Jepang. Tiara sengaja membuat pertemuan Alam dengan kliennya di restoran itu karena restoran itu termasuk salah satu restoran yang menyediakan masakan Jepang juga.


“Ra, mana kliennya, kok belum datang juga?” tanya Alam kepada Tiara.


“Bentar lagi paling nyampe, Al. Sabar aja kenapa sih?” kata Tiara kepada Alam dengan nada lembut.


‘Klien lama banget sih? Gw kan niatnya setelah ini mau ke panti!’ batin Alam menggerutu kesal sembari gelisah.


“Al, lo kenapa?” tanya Tiara yang melihat kegelisahan di raut wajah Alam.


“Enggak apa-apa kok!” elak Alam.


“Maaf, apa anda dari perusahaan Adiwiyata?” tanya seorang pemuda tampan berbalut jaz biru bertanya kepada Tiara dan Alam.


“Iya benar, anda siapa?” tanya Tiara dengan sopan kepada pemuda itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2