Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 32


__ADS_3

“Tunggu Al...” Tiara menghentikan Alam.


“Kenapa...?”


“Gw masih pingin abisin es krim gw dulu!” kata Tiara sambil terus menyendok es krim ke mulutnya.


Mendengar perkataan Tiara, Alam berdecak kesal.


“Kalo lo masih tetap pengen makan es krim, ya udah abisin aja. Gw balik ke kantornya sendirian aja!” kata Alam dengan datar dan setelah itu dia meninggalkan Tiara.


”Eh... Al!!” Tiara sangat tersentak dengan perkataan Alam, akhirnya dia terpaksa menghentikan makan es krim-nya dan berlari mengejar Alam yang sudah ingin pergi dari sana.


Alam pun membuka kunci mobilnya dan dia melihat Tiara berlari mendekati dirinya, dia pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke mobil.


“Kenapa lo ikutin gw? Bukannya lo masih pengen habisin es krim lo?” kata Alam dengan nada dingin.


“Kalo lo pergi, mana mungkin gw akan tetap tinggal!” jawab Tiara, “sudah... ayo kita kembali kantor!” kata Tiara sambil membuka pintu mobil Alam.


“Tunggu....” Alam menghentikan Tiara yang ingin masuk ke mobilnya.


“Ada apa lagi?” Tiara menautkan kedua alisnya.


“Gw pengen sendiri. Lebih baik lo balik ke kantor pake taksi saja!” kata Alam kepada Tiara.


“Apa...?” Tiara tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Alam.


“Tapi Al---”


Alam tidak ingin mengindahkan perkataan Tiara, dia langsung masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan restoran itu dan Tiara seorang diri yang masih kebingungan.


“Alam itu kenapa sih?” gumam Tiara sangat penasaran.


*****


Di perjalanan, pikiran Alam benar-benar kacau. Di satu sisi dia kesal kepada Suci karena permintaan Wulan tentang honeymoon kemarin, dan sisi lain dia benar-benar sangat ingin tahu kenapa Suci terlihat sangat marah sekali ketika meninggalkan restoran itu? Apalagi saat dia mengingat perkataan Mirai di restoran tadi saat meneriaki nama istrinya itu.


“Apa yang dikatakan Mirai di restoran tadi? Kenapa dia bisa berkata seperti itu?” gumam Alam sambil terus melajukan mobilnya yang tidak tahu akan pergi kemana.


“Siapa yang bisa menjawab rasa penasaran ku yang dibuat oleh perkataan Mirai dan sikap Suci?”

__ADS_1


“Tidak mungkin aku bertanya langsung kepada bunda Halimah. Karena hari ini Suci berada disana!” kata Alam lagi, dan di langsung memukul stir mobilnya dengan penuh emosional.


Di tengah-tengah emosionalnya dia teringat dengan kedua temannya yaitu Rian dan Glen. Dia pun langsung menghubungi kedua temannya itu dan meminta mereka untuk bertemu di tempat biasanya mereka berkumpul.


*****


Setengah jam kemudian di suatu cafe.


“Glen, lo tau gak kenapa si Al tiba-tiba hubungin kita dan minta kita buat ketemuan?” tanya Rian kepada Glen.


“Mana gw tau!” jawab Glen singkat.


“Kira-kira ada urusan penting apa yang tiba-tiba buat si Al inget ama kita ya?” kata Rian lagi penasaran.


“Yee... lo kayak kagak tau sifat si Al aja! Dia kalo ada yang baru kita mah dilupain.” Kata Glen kepada Rian.


“Yang baru...? Emang siapa?” Rian menatap Glen sambil menautkan kedua alisnya.


“Istrinya lah... siapa lagi...?”


“Oh iya ya, gw sempet lupa kalo si Al udah nikah.” Kata Rian sambil tersenyum renyah, dia lupa jika salah satu sahabatnya itu sudah menikah.


“Ah... dasar lo kakek-kakek!” gurau Glen sambil menepuk pundak Rian.


Sambil menunggu kedatangan Alam di tempat itu, Rian dan Glen saling bercanda dan berbincang satu sama lain. Bahkan mereka sampai saling mengejek satu sama lain.


Ditengah candaan mereka sosok yang ditunggu pun akhirnya datang, saat Alam datang mereka saling cepika-cepiki seperti sebelum-sebelumnya saat mereka bertemu.


“Eh... bro, ada angin apa lo tiba-tiba inget sama kita?” kata Rian dengan nada meledek Alam.


“Huftt....”


“Dih... ditanya malah menghela nafas dia!” ucap Glen, “kenapa... lo lagi ada masalah sama istri lo?” tanya Glen menatap Alam dengan penuh penasaran.


“Gak juga sih. Tapi---” ucap Alam dengan raut wajah kebingungan sekaligus gelisah.


Ucapan Alam yang tidak berlanjut membuat kedua temannya itu penasaran.


“Tapi apa Al?” tanya Rian semakin penasaran.

__ADS_1


“Gw kesel aja sama dia. Kenapa dia sifatnya itu berubah?” kata Alam dengan nada yang terdengar datar.


“Berubah...? berubah gimana?” Glen tidak mengerti dengan perkataan Alam.


“Ya dia berubah aja. Dulu pas awal nikah, dia itu jarang banget cuekin gw, yang ada dulu itu gw yang selalu cuekin dia. Dulu kalo gw lagi marah sama dia, dia masih perhatian sama gw, tapi sekarang dia berubah tau gak.” Tutur Alam kepada kedua temannya itu yang sedang mendengarkan.


Keheningan tercipta beberapa menit setelah Alam mengatakan hal itu, lalu kemudian Glen dan Rian langsung tertawa terbahak-bahak, sehingga Alam menjadi heran apa yang membuat kedua temannya itu tertawa? Padahal dia sedang mengatakan hal yang serius.


“Eh... lo pada kenapa ketawa? Emangnya ada yang lucu?” kata Alam dengan nada agak jengkel.


“Ada... ada banget Al, kita heran sejak kapan lo jadi bucin (budak cinta)?” kata Rian yang masih tertawa.


“Iya Al, kayaknya lo udah bukan Alam yang dulu deh?” sambung Glen.


“Ye... lo berdua pada ngomong apa sih kagak jelas banget?” ketus Alam kesal karena ledekan dari kedua temannya.


“Al, emang beneran lo di cuekin sama Suci?” tanya Glen dengan nada masih meledek.


“Bukan dicuekin sih. Tapi... dia itu beda dari yang dulu, dulu walaupun gw semarah apapun sama dia, dia ada aja cara deketin gw. Entah itu buatin gw kopi atau ngomong sekilas yang gak jelas!” jelas Alam lagi kepada kedua temannya.


“Bener udah mulai bucin!” kata Rian sambil berbisik kepada Glen, Glen hanya menganggukkan kepalanya sambil senyum-senyum.


“Al... Al...” ucap Rian menyebut nama Alam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Eh... tunggu-tunggu. Kayaknya lo datang kesini bukan buat bahas hal itu deh, bilang aja lo lagi ada masalah apa? Soalnya kalo diliat dari raut wajah lo, lo lagi memikirkan sesuatu yang bikin lo penasaran banget.” Kata Glen yang bisa membaca eskpresi wajah Alam.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Glen, Alam sangat penasaran sekali dengan Suci dan juga Mirai. Dia meminta kedua temannya untuk bertemu karena dia ingin mencari tahu informasi siapa orang yang paling dekat dengan Suci, karena waktu kuliah dulu mereka berdua tidak pernah bolos sama sekali. Siapa tahu saja mereka bisa membantu dirinya untuk menemukan orang yang paling dekat dengan Suci di kampus, jadi Alam bisa mencaritahu melalui orang yang paling dekat Suci tentang Mirai.


***


“Kalau masalah orang yang paling dekat sama istri lo sih cuman ada satu, Al!” kata Glen sambil mengaduk kopi capuccino yang dia pesan.


“Siapa...?” Alam bertanya dengan nada tidak sabaran.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2