Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 52


__ADS_3

“Jika direktur Ardani itu benar-benar Suci. Aku pasti akan membuatnya hilang dari hidup Alam, tidak akan aku biarkan Alam menjadi milik orang lain lagi ....!!” geram Tiara dengan penuh tekad.


*******


Beberapa hari kemudian di perusahaan Ardani.


Suci sedang sibuk mengurus dokumen-dokumen yang menumpuk akibat dirinya yang tidak bekerja serius selama beberapa hari kemarin.


Ditengah-tengah kesibukannya mengurus dokumen tiba-tiba rasa sakit menyerang kepalanya, seketika lagi-lagi terlintas bayangan seorang pria di dalam pikirannya.


Suci berusaha mengenali sosok pria yang ada di dalam pikirannya itu, tapi saat mencoba untuk mengenali bayang-bayang itu, kepala Suci menjadi sangat sakit hebat, sehingga Suci tidak lagi mencoba untuk mengenalinya, dia pun langsung meminum obat penghilang rasa sakit di kepalanya itu.


“Kenapa beberapa hari ini terakhir ini kepala sering sakit? dan juga setiap kepala ku sakit, pasti ada bayangan hitam yang melintas di kepala ku? apa sebenarnya semua ini?” gumam Suci merasa sangat aneh dengan kondisinya saat ini.


Tok .... tok ... tok ....


Suara ketukan pintu dari luar ruangan membuyarkan pikiran Suci, setelah mengetuk pintu, orang itu pun langsung masuk dan ternyata dia adalah Yani sekertaris Suci.


“Direktur Suci, ini ada kiriman untuk anda!” kata Yani kepada Suci.


“Kiriman dari siapa?” tanya Suci terkejut sekaligus heran, karena seingatnya baru kali ini ada kiriman untuk dirinya.


“Saya juga tidak tahu. Resepsionis mengatakan bahwa ada seorang pria yang menitipkan ini untuk mu!!” jawab Yani.


Suci pun langsung menerima barang itu, dan menerka-nerka sejenak apa isi dari paket itu. Setelah menerka-nerka dia pun langsung membuka paket tanpa nama itu.


“Coklat .... dan buku diary ....??!!” Suci merasa bingung dan heran dengan isi dari paket itu.


“Apa maksud semua ini ...?” gumam Suci lagi.


“Kak Yani .... apa bisa tolong panggilkan resepsionis yang menerima barang ini ke ruangan ku?” kata Suci kepada Yani dengan nada ramah, tapi tetap tidak menghilangkan rasa penasarannya itu.


“Baiklah, tunggu sebentar!!” ucap Yani setelah itu dia langsung meninggalkan Suci untuk memanggil resepsionis yang menerima barang itu melalui via telpon.

__ADS_1


“Aneh ... aku sangat penasaran siapa yang mengirimkan semua ini? Tidak mungkin jika Zirai yang mengirimkannya untuk ku!!” gumam Suci seorang diri dengan penuh kebingungan.


Beberapa menit kemudian lagi-lagi lamunan Suci buyar karena ketukan pintu dari luar ruangannya, Suci pun segera menyuruh masuk orang yang mengetuk pintu itu.


“Direktur ...., Mona sudah ada disini” kata Yani kepada Suci, Suci pun menganggukkan kepalanya pelan dan mempersilahkan Mona untuk masuk.


Mona pun langsung masuk dan menghadap Suci, sang atasannya itu.


“Direktur Suci, ada apa anda memanggil saya? Apa saya berbuat kesalahan?” tanya Mona dengan nada gugup.


“Kenapa kau berpikir begitu?” tanya Suci penasaran.


“Karena ... karena tidak biasanya anda memanggil pegawai rendahan seperti saya ke ruangan anda!” jawab Mona lagi dengan gugup.


“Haiyuuhhhh .....” Suci menghela nafas mendengar jawaban dari pegawainya itu.


“Tidak ada pegawai rendahan atau pegawai tinggi di perusahaan ku. Aku menganggap semua pegawai ku sama, aku tidak pernah membedakan status kepegawaian dan pekerjaan semua karyawan ku!” ucap Suci kepada Mona.


“Haisss .... sudahlah aku memanggil dirimu kemari bukan membahas hal yang tidak penting!!” ucap Suci lagi kepada Mona.


“Saya juga tidak begitu tahu direktur Suci, aku saja tidak bisa melihat wajahnya karena dia memakai masker dan juga topi!” jawab Mona lagi dengan gugup sekali.


“Oh ya tuhan .....” gerutu Suci mulai agak kesal.


Mona pun menjadi semakin gugup dan gelisah, karena takut Suci marah.


“Ya sudah terima kasih. Kau bisa kembali ke pekerjaan mu sekarang!” ucap Suci kepada Mona dengan wajah yang terlihat santai, Mona pun langsung pergi meninggalkan ruangan Suci.


Suci pun menghela nafas berat karena dia tidak tahu siapa yang mengirimkan paket itu untuk dirinya.


“Oh ya .... kenapa aku bodoh sekali?” gerutu Suci merasa kesal dengan dirinya sendiri.


Dia pun langsung melakukan via telpon kepada sekertarisnya Yani.

__ADS_1


“Kak Yani, apa aku boleh minta tolong? Sore ini tolong kumpulkan seluruh rekaman CCTV kantor, apa bisa?” kata Suci dengan nada ramah.


“.......”


“Baiklah, aku tunggu sore ini!!” ucap Suci dan setelah itu dia langsung menutup panggilan.


“Lewat CCTV, aku mungkin bisa menemukan siapa yang telah mengirimkan paket ini kepada ku!!” gumam Suci sambil menatap isi paket dari pengirim misterius itu.


*****


Di tempat lain, yaitu di hotel tempat penginapan Alam dan juga Tiara.


Tiara mendapatkan telpon dari kedua orang tuanya yang ada di Prancis, kedua orang tua Tiara mengatakan bahwa mereka akan pergi ke Indonesia.


“Mama sama papa serius mau ke Indonesia?” kata Tiara dengan nada tidak percaya.


“Ya Tiara, mama sama papa akan berangkat ke Indonesia malam ini juga!” kata ibu Tiara dari seberang telepon sana.


“Wuahh ..... ini adalah kabar yang sangat menyenangkan,” Tiara tersenyum sumringah, “aku akan menunggu kedatangan mama dan papa di Jakarta!” sambung Tiara lagi.


“Ya sudah .... kalo begitu mama dan papa akan siap-siap terlebih dahulu!” ucap ibu Tiara.


“Baiklah mam,” ucap Tiara dengan senyum sumringah karena dia sangat senang akhirnya setelah sekian tahun dia akan bertemu dengan kedua orang tuanya lagi, dan setelah itu Tiara menutup panggilan dari kedua orang tuanya itu.


“Akhirnya .... mama dan papa akan datang ke Indonesia,” ucap Tiara benar-benar merasa sangat senang sekali, “setelah mama dan papa sampai ke Indonesia, aku akan mengatakan kepada mereka bahwa aku memiliki perasaan terhadap Alam. Dan .... semoga saja mama dan papa bisa mengerti perasaan ku lalu mengatakannya kepada kedua orang tua Alam!” ucap Tiara penuh dengan semangat sambil tersenyum penuh arti saat mengatakan semua itu.





__ADS_1



__ADS_2