Pengantin Bayaran

Pengantin Bayaran
Bab 47


__ADS_3

Dirumah Vivi merasa sangat tidak tenang sama sekali, dia terus memikirkan tentang Suci. Begitu pula di panti asuhan, Halimah mempunyai firasat buruk tentang Suci. Tiga hari belakangan ini, Vivi dan Halimah merasa sangat kehilangan sosok Suci, perasaan persahabatan dan kepedulian seorang ibu membuat mereka sangat khawatir dan merindukan Suci belakangan ini.


*****************


Tiga tahun kemudian di pulau Bali.


Hiruk pikuk kota Bali yang sangat ramai setiap harinya oleh para masyarakat Bali maupun wisatawan asing yang berkunjung ke pulau itu hanya untuk menikmati keindahan surga dunia.


Sedangkan di salah satu tempat wisata Bali yaitu pantai Pandawa, salah seorang keluarga ayah dan anak sedang asik bermain air dan pasir putih.


“Ayah .... ayah ini benar-benar sangat payah!!” oceh seorang anak kecil perempuan yang berumur lima tahun kepada pria muda tampan yang dipanggil ayah olehnya.


“Apa kau bilang .... ayah sangat payah ....??” ucap pria itu agak terkejut dengan perkataan anak kecil itu.


“Eheem ....” angguk anak kecil itu.


“Memangnya ayah payah kenapa?” tanya pria itu lagi.


“Ayah sangat payah. Ayah tidak seperti ibu yang bisa membuat istana pasir!!” oceh anak itu lagi dengan wajah cemberut.


“Ohooo .... jadi seperti itu ya ....” ucap pria itu mengangguk-anggukan kepalanya pelan dengan penuh candaan.


“Tapi sayang .... ngomong-ngomong ibu mu ada dimana?” tanya pria itu lagi.


“Aku ada disini Zirai .....!!” teriak seorang gadis cantik kepada ayah dan anak itu, mereka berdua pun langsung menengok ke arah sumber suara.


“Ya ampun Suci ....!!” gumam pria yang bernama Zirai itu, “Suci, kau ini barusan pergi kemana ...?” tanya Zirai kepada gadis cantik yang dipanggil Suci itu.


Suci tidak langsung menjawab pertanyaan dari Zirai, melainkan dia menghampiri ayah dan anak itu sambil tersenyum manis.


“Aku tidak pergi kemana-mana, aku hanya menyiapkan makanan untuk putri kesayangan ku ini!!” ucap Suci sambil tersenyum manis kepada anak kecil itu.


“Oh .... jadi sekarang kau lebih mempedulikan Yucin daripada diriku .....?” kata Zirai dengan wajah cemberut.


“Tentu saja .... dia inikan putri ku, sedangkan kau hanya ayahnya. Untuk apa aku lebih mempedulikan mu daripada putri ku sendiri!!” ledek Suci kepada Zirai.


“Yuyu sayang, ayo kita ke peristirahatan dulu. Ibu sudah menyiapkan semua kebutuhan makan mu disana ...!!” kata Suci sambil tersenyum centil kepada Yucin.


“Baiklah ibu .... ayo sekarang kita pergi ke sana, aku juga sudah lapar!!” ajak Yucin sambil tersenyum penuh semangat.


Suci dan Yucin pun pergi ke peristirahatan bersama untuk makan, tapi sebelum pergi Suci dan Yucin menjulurkan lidah kepada Zirai secara bersamaan, dan setelah itu mereka berdua pun pergi. Zirai yang melihat tingkah mereka berdua pun tersenyum senang, lalu dia segera menyusul dua orang itu ke tempat peristirahatan.


Sesampai di tempat peristirahatan, Suci langsung meminta beberapa pelayan untuk menyajikan makanan Yucin yang sudah disiapkan dan setelah itu Suci sendiri yang menyuapi Yucin makan.

__ADS_1


Zirai dari kejauhan melihat keakraban Suci dan Yucin yang sangat dekat, sehingga dia sendiri tidak sadar bahwa dia sedang tersenyum bahagia untuk saat ini.


“Maaf tuan Hatake, ada yang ingin aku bicarakan kepada anda!!” kata Nadya sekertaris Zirai yang tiba-tiba menghampiri dirinya.


“Iya katakan saja ada apa?”


“Tuan ..... hari ini tuan Mirai beserta beberapa orang lainnya sedang menuju ke Bali!” kata Nadya memberitahu informasi tentang Mirai kepada kembarannya itu.


“Ke Bali ....? Untuk apa setelah beberapa tahun lamanya ....?” tanya Zirai dengan penuh penasaran.


“Saya juga tidak tahu jelas tuan, tapi informan kita mengatakan seperti itu ....!!” jawab Nadya dengan sopan.


Seketika pandangan Zirai kembali menatap Suci dan Yucin yang sedang tersenyum bahagia.


“Apa Mirai tahu tentang tempat tinggal ku di Bali?” tanya Zirai dengan nada datar.


“Tidak tuan .... dia tidak tahu tentang tempat tinggal tuan disini. Dan setahu ku setelah tuan dan tuan Mirai saling memutuskan hubungan sepuluh tahun yang lalu, tuan Mirai tidak ingin tahu sama sekali tentang kehidupan anda, tuan!!” kata Nadya lagi kepada Zirai.


“Baguslah kalau begitu ....” jawab Zirai dengan nada dingin.


“Kau terus dapatkan informasi Mirai melalui informan kita, dan .... jangan sampai kau biarkan Mirai lolos dari pandangan informan kita!!” kata Zirai lagi.


“Baik tuan ....!!” jawab Nadya sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.


*******


Sore harinya di mansion mewah Zirai.


“Ibu .... nanti malam apa boleh aku tidur bersama ibu?” tanya Yucin menatap Suci dengan tatapan imutnya.


“Tentu saja Yuyu, bukan hanya nanti malam saja. Jika kau ingin terus tidur bersama ibu, itu juga tidak masalah!!” jawab Suci sambil mencubit pelan pipi Yucin karena merasa gemas.


“Benarkah ibu .....?!” kata Yucin menatap Suci dengan mata bulatnya.


“Eheem ......” Suci menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


“Asyik .....” Yucin sangat girang sekali dengan jawaban dari Suci.


“Ditektur Suci ....” panggil seorang wanita yang kira-kira umurnya lebih tua dua tahun dari Suci.


“Iya kak Yani” sahut Suci sambil menatap wanita yang memanggilnya itu.


“Anda sudah dua hari tidak pergi ke perusahaan, ini saya datang untuk membawakan berkas penting yang harus anda lihat!!” kata Yani sambil menyerahkan map biru kepada Suci.

__ADS_1


“Oh ya ... sebentar kak Yani!!”


“Yuyu sayang, kamu bisa main dengan suster Kelly sebentar?” kata Suci kepada Yucin.


“Ok deh, aku akan main dengan suster Kelly!!” jawab Yucin dengan nada imut.


“Ok deh ....” ucap Suci sambil tersenyum lalu dia mencium pipi mungil Yucin dan setelah itu Yucin langsung bermain bersama suster Kelly.


“Ayo silahkan duduk terlebih dahulu kak Yani!!” kata Suci mempersilahkan Yani untuk duduk di kursi yang ada dihadapannya.


Yani pun mengikuti perintah Suci dan langsung duduk di tempat yang ditunjukkan oleh Suci.


“Ini berkas penting apa kak? Kok .... sampai harus mengantarkan berkas ini ke rumah ku?” tanya Suci penasaran sambil membuka sampul map biru itu.


“Ini berkas proyek dari perusahaan yang ingin melakukan kerja sama dengan perusahaan kita, direktur Suci!!” jawab Yani.


“Kak Yani, kalo lagi gak di kantor panggil nama aku aja. Sudah berapa kali aku mengatakan itu kepada mu, kak?” kata Suci kepada Yani, karena dia tidak enak jika Yani terus memanggil dirinya direktur di luar kantor.


“Oh .... iya, maaf Suci!” ucap Yani dengan senyuman canggung.


“Nah .... begitu kan lebih bersahabat!” Suci mengulas senyuman manisnya.


“Oh ya .... aku penasaran, perusahaan mana lagi yang ingin bekerjasama dengan kita? Bukannya sudah hampir seluruh perusahaan besar bergabung dengan perusahaan kita?” tanya Suci merasa sangat penasaran.


“Aku sebenarnya juga tidak begitu tau, Suci. Tapi ada yang mengatakan bahwa perusahaan yang menawarkan kerja sama dengan kita kali ini adalah perusahaan yang lumayan besar dari perusahaan sebelumnya!” jawab Yani menjelaskan.


“Benarkah ....?” tanya Suci sambil membuka lembar berkas.


“Apa nama perusahaannya ...?” tanya Suci lagi.


“Perusahaan Adiwiyata.” Jawab Yani dengan suara tegas.


Suci yang sedang membuka berkas itu langsung terhenti ketika mendengar jawaban dari Yani. Dia merasa seperti pernah mengetahui nama perusahaan yang disebutkan oleh Yani itu.






__ADS_1


__ADS_2